
Sandi dan yang lainnya sedang melepas lelah karena perjalanan jauh yang mereka tempuh,sedangkan Maira dia berada di kamar seorang diri sambil menghadap ke arah jendela,dia berharap kalo perjuangannya akan membuahkan hasil.
di gelapnya malam dia memikirkan keadaan Suaminya,entah kenapa rasa rindu ingin sekali bertemu tiba-tiba saja tak tertahankan,dia mencoba keluar untuk mencari udara segar.
ketika Maira sudah berada diluar kamar yang di tempati nya,terlihat kedua kakaknya sedang berbaring di sebuah kursi kayu karena rumah itu terdapat dua kamar,yang satu di tempati Maira dan yang satu lagi di tempati Gilang dan Rudi.
Maira melewati mereka yang sedang tidur lelap,dengan melangkah dengan pelan dan mencoba membuka pintu.
kini Maira sudah berada diluar dia mengedarkan pandangannya,dia tidak melihat satu warga pun yang berada di luar,Maira pun melangkahkan kaki nya untuk duduk di sebuah kursi kayu yang berada di teras rumah.
saat dia hendak duduk,sebuah mobil berhenti tepat di samping rumah yang di tempati Maira dan yang lainnya.
saat mobil berhenti ada seorang pria dengan berbadan kekar turun dari mobil,sontak Maira berjongkok dan bersembunyi di semak-semak ketika melihat orang itu.
Maira memperhatikan orang itu dengan memicingkan matanya,tapi Maira merasa dia tidak mengenalnya dan Maira pun mengabaikannya tapi tetap diam di persembunyiannya.
tidak hanya pria itu yang turun dari mobil,tapi ada seorang wanita juga,kelihatannya mereka sedang bertengkar karena terlihat si wanita sedang membujuk pria itu.
"bang...jangan seperti ini aku mohon..." rengek wanita itu.
Maira terus mengamati mereka,dia merasa kenal dengan suara wanita itu,Maira memicingkan lagi matanya dan tiba-tiba saja matanya berubah menjadi membulat," Ratna..." gumam Maira,dadanya bergemuruh detak jantungnya semakin kencang dan dia mencoba menutup mulutnya agar tidak bersuara.
ternyata kedua orang itu adalah Ratna dan Gobang,mereka sedang berdebat,"lepaskan..." ucap Gobang.
"aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu berbuah pikiran" ujar Ratna sambil memegang baju Gobang.
"dan aku tidak akan berubah Pikiran sebelum kamu juga berubah pikiran"
Ratna kebingungan saat ini dia sedang di lema,kini Gobang mencoba untuk mengintruksikan anak buahnya supaya menghabisi Fariq karena kekesalannya pada sikap Ratna yang sering mengemis cinta pada Fariq.
"beri aku waktu ku mohon..." rengek Ratna.
Gobang pun mendengus,"sampai kapan?" tanya Gobang.
"dua hari...aku akan memikirkannya tapi tolong jangan sentuh dia sedikit pun" pinta Ratna.
Gobang menyeringai licik," baiklah...akan aku tunggu..."
Gobang merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celana,dia mencoba melakukan panggilan
("lepaskan pria itu....")
("maksudnya biarkan dia pergi bos")
("bodoh") teriak Gobang,("maksudku sudah biarkan,seperti biasa dia di kurung saja")
Maira yang mendengarnya pun menjadi gusar,dia yakin yang di maksud orang itu adalah Suaminya,tubuh Maira bergetar dan mengeluarkan keringat,wajahnya menjadi pucat.
("tapi bos,kita sudah terlanjur membuat dia wajahnya sedikit berwarna")
("biarlah itu hanya sedikit peringatan")
Ratna yang sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar pembicaraan Gobang dengan anak buahnya,"apa yang dimaksud dengan peringatan?" Tanya Ratna ketika Gobang sudah menghentikan panggilannya.
"anak buah ku sudah memberikan sedikit warna di wajah pujaan hatimu" jawab Gobang.
"brengsek..." ucap Ratna sambil memukul lengan Gobang yang kekar,dan Gobang pun langsung mencekal tangan Ratna seraya berkata," ingat itu tidak seberapa,ini peringatan juga untuk mu..." ancam Gobang.
Ratna mengepalkan tangannya,ternyata dia salah memilih orang,tapi semuanya sudah terlanjur.
"ayo pulang" ajak Gobang.
Ratna diam saja,"apa kau tidak mau ikut denganku?" tanya Gobang.
"bukannya kau menurunkan ku disini,lalu buat apa kau mengajakku pulang lagi" ketus Ratna.
"sebaiknya kita pulang" ajak Gobang sambil menyeret tangan Ratna agar masuk ke dalam mobil.
kini Ratna dan Gobang sudah pergi dengan menaiki mobilnya lagi,sedangkan Maira masih terdiam dengan tubuh bergetar,hatinya semakin yakin orang yang dimaksud mereka Adalah Fariq.
Maira sejenak berpikir untuk cepat-cepat mencari keberadaan Suaminya,dia mencoba keluar dari teras rumah dan melihat arah datangnya mobil Ratna tadi,dia yakin kalo itu jalan menuju tempat dimana Fariq di sekap.
waktu menunjukkan jam 3 pagi,Maira menemui kakek yang kemarin siang menyambut mereka,kini Maira sudah berada di depan rumahnya tapi Maira tidak melihat ada tanda-tanda orang di rumah itu karena sepi dan dia mencoba mengetuk pintu tapi seorang anak lelaki memanggilnya," hei..."
Maira menoleh ke arah suara itu dan anak itu menghampiri Maira,"kakek tidak ada dia sudah pergi ke gunung" ujar anak itu.
"pagi-pagi sekali mau apa?" tanya Maira.
"dia pergi mencari sesuatu agar bisa dimakan karena itu sudah menjadi pekerjaannya setiap hari" jelas anak itu.
Maira berfikir sejenak lalu dia berkata," apa kamu bisa menunjukkannya padaku tentang jalan yang berada disamping rumah yang ku tempati" Maira sambil menunjukkannya pada anak itu.
anak itu masih mencari arah yang ditunjukkan Maira,"yang mana nona...?" tanya anak itu.
Maira menghela nafas,"kemarilah ikut aku" ajak Maira,anak itu pun mengikuti Maira.
"maksudku jalan ini" ucap Maira ketika sudah berada di tempat yang dimaksud Maira.
"oh...ini,maaf nona tidak sembarang orang bisa melalui jalan ini hanya orang-orang tertentu yang bisa melewatinya" jelas anak itu.
"kenapa?" tanya Maira penasaran.
anak itu berbisik,"karena di sana ada hantunya"
Maira sedikit bingung tapi dia tidak percaya pada ucapan anak itu,"jadi warga di sini belum pernah kesana?" tanya Maira.
"iya nona,itu jalan Khusus orang dewasa saja tidak boleh kesana apalagi saya anak-anak"
Maira masih berfikir bagaimana cara dia mengetahui apa yang berada didalam sana," eh iya...apa di sana hutan?" tanya Maira lagi.
"kau ini banyak sekali bertanya nona,itu jalan menuju gunung" jelas anak itu lagi.
"jadi kakek juga jalan sini?"tanya Maira lagi.
anak itu menggeleng,"kakek tidak jalan sini,dia melewati jalan yang lain".
"apa kau mau mencobanya?" tanya anak itu.
"aku..." ucap Maira menunjukkan pada dirinya sendiri,anak itu mengangguk.
"katanya tidak boleh pergi kesana?"
"tapi sebenarnya aku juga penasaran"
Maira berpikir ada kesempatan untuk pergi ke arah sana bersama anak itu,tidak lama dia langsung mengiyakan,dan mereka janjian untuk pergi kesana setelah solat subuh.
setelah solat subuh Maira bergegas pergi,kedua kakaknya pun tidak mengetahui kepergian adiknya,kini Maira sudah berada diluar,benar saja anak itu sudah menunggu Maira.
"kau mau kemana nona,bawa tas itu?" tanya anak itu ketika melihat Maira menggendong tas ranselnya.
Maira menjawab," persiapan kalo kita membutuhkan sesuatu",anak itu mengangguk.
"ayo mumpung masih pagi" ajak anak itu.
mereka pun melangkah pergi,sebelumnya Maira mengucapkan " bismillahirrahmanirrahim",dia berharap bisa menemukan Suaminya dan selalu berada dalam lindungan allah SWT.
bersambung....