Humaira

Humaira
Bab 80 takut kehilangan



sebelum pergi kerja fariq menyempatkan diri untuk pergi menemui sandi di perusahaan kakaknya,ada sesuatu yang ingin fariq bicarakan,setelah fariq sudah berada di kantor sandi,dia mencoba menghubungi kakak iparnya tapi panggilannya tidak diangkat.


fariq mencoba bertanya pada resepsionis,ternyata sandi belum datang kekantor.


"jam berapa ini,kenapa bos disini lelet sekali" gumam fariq dengan nada kesal.


fariq mencoba menunggu sandi sebentar lagi,baru dua menit sandi sudah terlihat dia sedang berjalan bersama asistennya masuk kedalam gedung.


betapa senangnya dia ketika melihat fariq sudah berada di kantornya," selamat pagi fariq" sandi menyapa fariq.


fariq tersenyum," apa setiap hari bos ini jam segini baru datang?" ledek fariq.


"sudah lah ayo kita ke lantai atas,kantor ku disana" ajak sandi,dan merekapun berjalan ke arah lip.


setelah sampai di lantai 3,mereka keluar dari lip,terlihat pemandangan para pekerja yang sedang bekerja,sandi dan fariq pun masuk dalam ruang kerja.


"silahkan duduk..." sandi menyilahkan pada fariq,dan fariq pun duduk di sofa yang berada di sana.


"sebenarnya ada apa pagi-pagi sudah mau menemui ku?" tanya sandi.


"ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan" ucap fariq.


sandi mengernyitkan keningnya," tentang?"


"tentang satu tahun kebelakang,waktu maira masuk rumah sakit karena penganiayaan,apa kau tahu siapa orangnya?" tanya fariq.


deg...


hati sandi pun berdetak kencang dan dia terkejut tiba-tiba fariq menanyakan hal itu,"apa papah yang mengatakannya?" ucap sandi dalam hati.


"tolong jawab sandi..." ujar fariq.


sandi menghela nafasnya dan berkata," iya aku tahu,tapi sebelumnya aku minta maaf karena tidak pernah memberi tahumu sebelumnya karena...." belum sempat melanjutkan fariq sudah memotong ucapan sandi.


"katakan siapa orangnya?" ucap fariq dengan kesal menunggu jawaban sandi yang berteke-tele.


"lea...dia orangnya" ucap sandi dengan berat.


fariq memejamkan matanya,"sudah ku duga dia orangnya" gumam fariq.


"maafkan aku fariq...aku menyembunyikan hal ini" ucap sandi menyesalinya.


"kenapa kau lakukan ini?" tanya fariq.


sandi menjawab," sebenarnya aku juga ingin memberi tahumu waktu itu,tapi ketakutan ku melebihinya,alasanku adalah cahaya,aku tidak mau cahaya jauh dari ibunya karena dia masuk penjara apalagi cahaya tahu soal itu,aku tidak bisa membayangkan perasaanya yang baru saja bertemu dengan ibunya, dan yang lebih lagi ucapan maira dia tidak mau mempermasalahkannya lagi itu yang membuatku tidak memberi tahumu"


"andai saja tidak ada cahaya,waktu aku tahu dalang dari kecelakaan riana mungkin aku tidak akan mencabut laporanku" sandi mencoba menjelaskannya.


fariq mengerti dengan posisi sandi,dan dia tidak mau lagi memperpanjang masalah ini,apa lagi kini lea sudah berubah,tapi dia tidak tahu bagaimana kalo maira mengetahui yan sebenarnya bagaimana sikap maira terhadap lea.


"baiklah aku sudah mengerti,tapi jujur saja maira sampai kini belum mengetahuinya" ucap fariq.


"sebaiknya kita mencoba memberi tahunya,aku tidak mau kalo dia tahu sendiri yang mengakibatkan dia marah pada kita semua" saran sandi.


"aku ingin kita sama-sama memberitahunya" pinta fariq.


"ok kalo begitu".


di rumah, maira sedang menggantikan popok,papahnya yang selalu setia menemaninya sedari tadi menunggu maira keluar dari kamar.


tidak lama kemudian maira keluar dari kamarnya dan di dapati papahnya sedang duduk sambil membaca buku,maira menghampiri papahnya," pah...sudah datang..." ucap maira.


"belum lama nak...sini kamu duduk dekat papah, ingin sekali lihat cucu papah..." ucap papah ikbal sambil menepuk sofa agar maira duduk disampingnya.


"ehm...wangi sekali cucuku ini" ujar papah ikbal mencium aroma ciri khas bayi.


saat mereka mengobrol,bibi hendak mengantarkan baju ke kamar maira,sebelum dia pergi,bibi pamit dulu pada maira.


" non...ini baju dede nya sudah di setrika,saya mau menyimpannya" ucap bibi.


bibi pun masuk kedalam kamar untuk meyimpan baju bayi maira,setelah dia sudah keluar kamar maira memanggilnya lagi," bi..."


"iya non" bibi menjawab panggilan maira.


"sudah beres melicin baju nya?"tanya maira.


"sudah non..." jawab bibi.


"kalo sudah sebaiknya bibi istirahat dulu" ujar maira.


" tapi non pekerjaan masih ada" ucap bibi.


"nanti saja,sebaiknya bibi istirahat dulu ya"


"baik non,makasih ya non"


"sama-sama".


setelah bibi ke dapur lagi,papah ikbal memperhatikan maira,sikapnya yang begitu murah hati membuat papah ikbal semakin bangga terhadap maira.


"kenapa kamu enggak cari art baru saja,kasian dia kan sudah tua,cari yang masih bertenaga" ucap papah ikbal.


maira berkata," engga bisa pah,kasian bibi kalau dia tidak bekerja kehidupan sehari-harinya dari mana,lagian dia sudah lama bekerja disini ketika kak fariq masih kecil"


"ya setidaknya kan bisa cari art lagi untuk bantuin bibi" ucap papah ikbal memberi saran.


"kalau kamu keberatan masalah gaji,papah akan bantu,ya kalo kamu mau papah bisa pindahkan art papah kesini"


"enggak usah pah...biar maira bicara dulu sama kak fariq"


di kediaman papah ikbal,riana sedang berbaring di kamarnya,dia merasakan yang aneh pada tubuhnya,tidak seperti biasanya dia merasa lelah yang terlalu lama.


ketika dia hendak menelepon suaminya tiba-tiba pintu kamar terbuka dan dilihatnya cahaya yang sedang berdiri.


"sini sayang..." ajak riana pada cahaya.


cahaya pun langsung menghampiri riana dan duduk di tepi ranjang," momy,kenapa wajahnya pucat,momy sakit?" tanya cahaya.


riana menggeleng," tidak sayang...momy hanya lelah".


"cahaya boleh pijitin badan momy?"


riana tersenyum," tidak usah nak,makasih kamu sudah mau pijitin momy".


tiba-tiba cahaya memeluk momynya sambil menangis," hik...hik...hik..."


sontak riana pun terkejut," kenapa sayang kok cahaya menangis?" ucap riana sambil mengucap kepala cahaya.


cahaya pun melepaskan pelukannya dan berkata," cahaya takut kehilangan momy,jadi momy harus sembuh"


"momy enggak sakit sayang...momy hanya lelah saja,nanti juga momy bisa beraktivitas seperti biasanya" ucap riana.


"tapi wajah momy pucat"


"dengar nak...kenapa kamu tiba-tiba seperti ini momy yakin ada sesuatu"


cahaya menunduk," ibunya teman cahaya sakit sampai dia tidak bisa bertemu lagi karena ibunya meninggal,jadi cahaya juga takut kalo momy sakit" jelas cahaya.


riana pun memeluk cahaya tak terasa air matanya keluar karena ucapan cahaya,ternyata apa yang ditakutkan riana itu tidak akan terjadi,karena cahaya tidak mau kehilangannya.


"momy juga takut kehilangan mu,momy gak mau pisah sama cahaya,momy mau kita tetap seperti ini sampai cahaya dewasa nanti" ucap riana yang masih memeluk cahaya.


"momy...apa boleh cahaya tidur disini sama momy?"


riana melepaskan pelukannya dan menyuruh cahaya berbaring di sampingnya,cahaya pun menurut dia langsung naik ke ranjang dan tidur di samping riana,mereka saling berhadapan dan tidak lama kemudian mereka tertidur.


bersambung....