Humaira

Humaira
Bab 87 dia menyukai suamiku



Maira kini sudah membuka pintu kamarnya dan Fariq pun sudah bisa dekat dengan Istri dan Anaknya,Fariq menghampiri Maira yang tengah memberikan ASI pada Dzakir,dia mencoba menjelaskan kejadian semalam.


"sayang...apa sekarang aku sudah bisa menjelaskannya padamu soal kejadian kemarin?" tanya Fariq ragu-ragu.


"mau menjelaskan apa lagi,bukannya semalam kamu sudah menjelaskannya" jawab maira datar.


"aku hanya ingin kamu mendengarkannya dengan keadaan hati dan pikiran dingin" lirih Fariq.


Maira menatap Fariq yang sedang menunduk,terlihat fariq mengusap air matanya.


Maira meraih tangan Fariq dan menempelkannya pada pipi mulusnya sontak Fariq pun mengangkat kepalanya," hei...pak dokter kenapa kamu cengeng sekali" ucap Maira.


Fariq tidak menjawab dia hanya terdiam," maaf aku sudah berbuat salah padamu,karena aku mendiamkan mu,jujur saja sebenarnya hati ini sakit,tapi aku harus mengorbankan nya karena bagaimana pun kamu adalah Suamiku yang harus aku hormati" tutur Maira.


Fariq memejamkan matanya,dengan tidak sadar dia sudah menyakiti Istrinya dengan perbuatan yang tidak pernah dia lakukan.


"aku akan berusaha percaya padamu" tiba-tiba kata-kata itu terucap dari mulut Maira.


"aku sudah tahu dari awal Ratna masuk ke dalam rumah ini,cara dia menatapmu,cara dia mencari perhatianmu,aku sudah tahu semuanya,aku yakin dia menyukai Suamiku"


"tapi untuk sekarang ini aku tidak bisa membuktikan apa pun,tapi kamu yang akan membuktikan semuanya padaku" ucap Maira.


"dengan cara?" tanya Fariq,Maira pun tersenyum dan mendekati telinga Fariq dan membisikkan sesuatu.


"apa kamu percaya padaku kan?" tanya Fariq.


"Insyaallah,aku akan berusaha" jawab Maira.


Fariq memeluk Istrinya," aku tidak mau kehilangan kamu,rasanya sakit kamu mendiamkan aku seperti ini,jadi kamu jangan takut aku akan mengkhianatimu" ucap Fariq.


"didiamkan saja olehmu aku berasa tidak ingin hidup lagi,apa lagi kehilanganmu" lirih Fariq.


Maira mencium pipi Suaminya," terima kasih karena sudah mencintai dan menyayangiku dengan tulus".


Fariq pun membalas ciuman Maira dengan mencium kedua pipi Istrinya,"aku juga mengucapkan banyak terima kasih,karena kamu percaya padaku",suasana kini sudah mencair Maira dan Fariq sudah sama-sama bisa merasakan cinta lagi.


dalam diamnya Maira berfikir keras untuk mengolah ucapan Fariq dan Ratna juga kejadian itu,dan pada akhirnya pikiran dan hatinya terbuka.


hari menjelang sore,Maira sedang memasak untuk makan malam nanti,Ratna yang sedari tadi memperhatikan majikannya langsung menghampiri dan berpura-pura sedih.


"nona..."


Maira menoleh ke arah samping dan terlihat Ratna sedang berdiri,"ada apa...?"


"saya minta maaf untuk kejadian semalam,saya benar-benar terpukul karena perlakuan Tuan Fariq pada saya" lirih Ratna.


"lalu apa mau kamu?" tanya Maira datar.


"saya ingin Tuan bertanggung jawab" jawab Ratna.


Maira pun tersenyum saat mendengar jawaban Ratna lalu dia berkata," saya belum punya bukti untuk itu,saya tidak tahu Suami saya yang salah atau kamu yang salah,yang jelas kalau Suami saya terbukti salah,saya orang yang akan menikahkan kamu dengan Suami saya,tapi...jika...kamu yang salah saya harap kamu bisa meninggalkan rumah ini" jelas Maira dan dia pun melanjutkan pekerjaannya.


Ratna yang mendengar itu pun terdiam,dia berfikir keras bagaimana caranya buat Fariq terlihat bersalah di mata Maira.


tiba-tiba Ratna menghampiri ibunya,"Ratna...hentikan semua ini" ucap bibi.


"maksud Ibu apa?"


"Ibu sudah tahu rencana busuk mu,asal kamu tahu bertahun-tahun ibu bekerja di keluarga ini jadi Ibu tahu sifat mereka,tidak mungkin den Fariq melakukan tak senonoh pada mu" ujar Bibi.


"oh...jadi Ibu tidak percaya pada anak sendiri,bu jelas-jelas Fariq menginginkanku,dia melakukannya semalam."


"cukup...jangan bermimpi kalo den Fariq menyukaimu dan melakukan hal seperti itu,ingat kita ini siapa jangan berharap Ratna"


"terserah Ibu,tapi bagus kalo Ibu tahu aku sangat menyukai Fariq jadi aku tidak susah lagi untuk meminta bantuan mu Bu" ujar Ratna.


"sampai kapan pun Ibu tidak akan membantumu untuk menghancurkan rumah tangga orang lain,dan ingat satu hal mereka adalah pasangan yang sangat baik di mata Ibu,dan kini Ibu menyesal sudah menyuruhmu datang kesini",tegas Bibi dan pergi meninggalkan anaknya.


kini Bibi sudah keluar dari kamarnya dia mencari Maira untuk berbicara,saat matanya melihat Maira sedang berada di taman,dia langsung menghampiri.


"non..."


"iya bi..."


Bibi langsung duduk di bawah kaki Maira," apa yang bibi lakukan?" tanya Maira saat melihat bibi duduk di bawah sambil memegang kakinya.


"maafkan kelakuan anak saya non...saya janji akan membuatnya jera" ucap bibi sambil terisak.


Maira memegang kedua bahu Bibi dan mengangkatnya," bibi jangan merasa bersalah,apa lagi menghukum anak yang sudah dewasa, bukannya membuat sadar malah akan menjadi dia benci pada Bibi"


"tapi non,kelakuan Ratna sudah terlampau batas" ucap bibi.


"masalah ini masih saya selidiki,jadi kita belum tahu mana yang benar dan mana yang salah,jadi aku mohon sama Bibi untuk tidak membahasnya sekarang,nanti kalo sudah saatnya saya yang akan buktikan" ujar Maira.


Bibi menganggukkan kepalanya,"kalo begitu bibi minta maaf non"


"gak perlu minta maaf,bibi gak salah kok,oh ya...saya mau pergi ke rumah papah untuk mengambil sesuatu bibi mau kan menemani saya?" tanya Maira.


"tapi bagaimana dengan den Fariq apa dia ikut?" tanya bibi.


"Kak Fariq tadi pergi ke rumah sakit,jadi dia agak malam pulangnya,jadi kita berangkat sebentar lagi" ujar Maira.


Maira dan bibi sudah siap pergi,terlihat Maira menggendong Dzakir mereka di jemput oleh supir Papah Ikbal,Ratna yang menyadari kepergian majikannya dia langsung pergi ke kamar untuk merias wajahnya dan memakai pakaian minim tak lupa memakai minyak wangi.


"karena Istrimu sedang pergi jadi kita bisa bebas berduaan di rumah" ucap Ratna dengan girang.


setelah selesai bergelut dengan alat make up,Ratna buru-buru pergi ke kamar Fariq,dengan lancang dia masuk begitu saja.


dia tidak melihat sosok pria idamannya," apa dia juga ikut,tapi tadi wanita itu hanya berdua bersama ibu" gumam Ratna.


kini Ratna duduk dipinggir ranjang yang biasa di gunakan Fariq dan Maira,dia membaringkan tubuhnya," ingin rasanya bermain bersama Fariq di kasur ini,ah...ya...jika Fariq melakukannya padaku aku akan memuaskannya" ucap Ratna dengan mimpi-mimpinya.


"Fariq...ayolah sayang...sentuh aku...kamu kemana ha...ha...?" teriak Ratna sambil tertawa.


bersambung....