
saat sedang ricuh,Ratna mengambil ancang-ancang untuk kabur tapi tangannya di cekal oleh Rudi,"mau kemana kamu"
"bang Rudi...lepaskan tanganku" ucap Ratna sambil memberontak.
"aku tidak akan melepaskannya kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu" ujar Rudi yang masih mencekal tangan adiknya.
"kenapa kamu bang tidak membela aku,kita adalah saudara kandung" ucap Ratna.
"jangan bawa-bawa saudara dalam hal ini,seharusnya berpikir sebelum berbuat",Ratna masih saja memberontak,tapi anak buah Sandi membantu Rudi untuk menangkap Ratna.
kini Maira membuka matanya lalu dia berdiri untuk duduk,Fahmi yang heran melihat kondisi Maira jadi kebingungan,sedangkan Sandi dan Gilang yang mengerti akan hal itu langsung menghela nafas.
"aku baik-baik saja..." ucap Maira.
Fariq yang mendengarnya langsung memeluk Istrinya,perasaannya sekarang tidak tergambarkan,kebahagian bisa berkumpul lagi dengan keluarga kecilnya kini sudah fi depan mata.
Gobang masih tergeletak di tanah,para warga segera membawanya ke rumah sakit terdekat,sedangkan anak buah Gobang semuanya di amankan dan langsung di bawa ke kantor polisi.
kini Ratna mendekam di penjara,terlihat bibi,Budi dan Rudi sedang membesuk Ratna,terpancar kesedihan di wajah bibi dia mencoba tegar untuk menghadapi permasalah yang menimpa anaknya.
mereka saling diam tidak ada yang berani bicara kecuali bibi,"terima kasih kamu sudah memberikan hadiah yang tak akan ibu lupakan,ibu tidak pernah memimpikan ini semua,asal kalian tahu di akhir usiaku ini,ibu selalu berharap kalian akan menjadi kebanggan ibu,dan untukmu Ratna aku tidak pernah mendidik mu menjadi monster,aku tidak pernah mengajarkan mu untuk mengambil yang bukan milikmu" ucap bibi sambil terisak.
"maafkan kami bu,kami belum bisa jadi anak yang baik" ucap Budi,sambil memeluk ibunya.
"kami akan berusaha apa yang ibu inginkan,dan bukan hanya ibu, aku juga kecewa terutama pada diriku sendiri,karena aku tidak bisa menjaga adik perempuanku,aku sudah kehilangan dia" ujar Rudi.
memang betul,mereka kehilangan sosok Ratna yang dulu,Ratna yang penurut,Ratna murid yang teladan apa lagi dia selalu juara kelas,tapi dengan kebutaan cinta terhadap Fariq,dia begitu berambisi sampai orang yang berada di sekelilingnya pun tidak percaya akan perbuatannya.
Ratna hanya terdiam,dia masih tetap membisu saat kejadian yang dia perbuat olehnya yang menyebabkan ada korban,"sebaiknya kamu meminta maaf pada nona Maira,karena dia tidak akan menelantarkan anak-anakmu artinya dia akan menjamin mereka" ucap Budi pada Ratna,"kamu beruntung,anak-anakmu masih ada yang mengurus dan seharusnya kamu patut mensyukuri itu semua" timpal Rudi.
"maaf ibu tidak bisa menyewakan pengacara untukmu,mudah-mudahan kamu di beri hidayah " ucap bibi sambil meninggalkan Ratna,dan kedua putranya pun ikut pergi,setelah mereka pergi,Ratna menangis,"maafkan aku bu,aku menyesal..." ucap Ratna sambil terisak.
sedangkan Gobang dia baru sadar pasca oprasi,kini dia berada di rumah sakit dengan penjagaan yang ketat karena dia sekarang menjadi tersangka atas penculikan Fariq.
tubuhnya di balut oleh perban,sedangkan dirinya kini sudah menyadari kalau semua ini karena wanita idamannya,"sial...semua ini gara-gara Ratna..." gumam Gobang sambil terbaring di ranjang rumah sakit.
dikediaman Maira dan Fariq,mereka sedang mengadakan syukuran,mereka mengundang keluarga dan kerabat dekat saja,terpancar kebahagian dari keduanya,terlihat Fariq sedang menggendong Dzakir,dan Maira sedang menjamu para tamu.
"selamat datang kembali nak...Papa ikut bahagia" ucap Papa Ikbal pada Fariq setelah acara selesai.
"makasih Pa..." ucap Fariq.
"sekarang aku mau minta pertanggung jawaban darimu" ucap Sandi,dan semua orang yang berada disini kebingungan dengan ucapan Sandi.
"kenapa istriku tak kunjung hamil?" lanjut Sandi yang membuat semuanya menarik nafas.
Sandi berdecak,"kau ini,memangnya apa pengalamanmu soal membuat anak" ujar Sandi,Gilang tersenyum malu.
"mas kamu apa-apaan sih,malu tau banyak orang" ucap Riana sambil mencubit pinggang Suaminya.
"kenapa harus malu" ucap Sandi cuek.
"maaf,aku hanya memberi saran selebihnya kita serahkan pada sang pencipta" Fariq menjawab pertanyaan Sandi.
"baiklah aku hanya bercanda" ujar Sandi,Papa Ikbal menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya.
semua orang sudah pulang,kini di rumah tinggal Maira,Fariq dan Dzakir,sedangkan bibi memilih untuk pulang karena dia merasa tidak enak badan setelah mengetahui kalo anaknya adalah dalang di balik penculikan majikannya.
Dzakir sudah tertidur pulas,Maira dan Fariq sedang melepas kerinduan yang selama ini mereka pendam,di kamar itu terdengar *******-******* kecil dari keduanya.
"terima kasih sayang..." ucap Fariq ketika menyudahi persatuan mereka.
"sama-sama" balas Maira sambil melemparkan senyuman pada Suaminya.
"maafkan aku sudah membuatmu khawatir" lirih Fariq.
Maira memegang kedua pipi Suaminya,"tidak apa-apa,asal kamu tahu aku begitu ketakutan saat mendengar kamu menghilang,malah aku sempat berpikir kalau kita tidak akan bertemu lagi,tapi aku beruntung ada keluarga yang selau support,sampai aku bisa bertahan sampai saat ini" jelas Maira.
"makasih,kamu sudah menyelamatkan ku,seharusnya aku yang melindungi mu"
kini genggaman Maira beralih pada tangan Fariq,"kita akan selalu saling melindungi" ucap Maira,dan Fariq pun tersenyum lalu dia mencium kening Istrinya.
"aku sangat mencintaimu wahai bidadari surgaku" ucap Fariq.
"tetaplah di sisiku,tetaplah menjadi penyejuk hatiku,mari kita jaga sama-sama keluarga kecil kita" lanjut Fariq,dan Maira menganggukkan kepalanya seraya berkata," hanya maut yang dapat memisahkan kita" seketika ciuman pun berlabuh di punggung tangan Fariq.
mereka pun berpelukan,bahagia yang mereka rasakan kini semakin besar yang tak mampu di ucapkan,beruntung Fariq mendapatkan wanita seperti Maira yang selalu percaya dan selalu mendukungnya,"terima kasih kek,pilihanmu memang tepat " ucap Fariq dalam hati.
di balik jeruji besi,Ratna duduk termenung dengan tatapan kosong,dia menyesali perbuatannya, apa yang di pikirkan olehnya tentang Maira ternyata salah,Maira bukan sosok orang yang mudah menyerah apalagi terhasut omongan orang,pantas saja Fariq menikahi Maira karena kemuliaan hatinya,apalagi dia mendengar kalo Maira tidak akan membiarkan anak-anaknya terlantar,ingin sekali dia bertemu dengan Maira untuk meminta maaf atas perbuatannya.
Ratna menangis dia benar-benar menyesalinya,andai saja dia mendengarkan kata-kata ibunya mungkin dia sekarang masih berkumpul dengan anak-ananknya dan keluarganya.
"bu...aku ingin pulang...maafkan aku bu...bantu aku keluar dari sini" isak Ratna.
"tolong keluarkan aku dari sini aku benar-benar menyesal" lirih Ratna.
seketika di pikirannya terlintas wajah pujaan hatinya Fariq,dia menutup matanya seakan ingin menghapus wajah Fariq,seketika dia berteriak,"maafkan aku Fariq..."
bersambung....