
Maira,Fariq dan Alif melanjutkan perjalanan untuk pulang,sedangkan anak buah Gobang kebingungan mencari lelaki yang di sekap tidak ada di rumah.
"gue bilang apa,ini tipuan..."
"maaf..."
"lalu bagaimana...nanti bos akan marah jika dia tahu kalo tawanannya menghilang"
"bagaimana nasib keluarga kita..."
"sebaiknya kita cari,mungkin dia belum jauh dari sini,ayo..." mereka pun berpencar mencari Fariq.
saat Fariq dan yang lainnya berjalan,tiba-tiba mereka melihat dari kejauhan sebuah mobil sedang melaju,mereka pun langsung bersembunyi,setelah mobil itu lewat,Fariq dan yang lainnya langsung cepat-cepat pergi.
masih di tempat itu,Sandi gagal bernegosiasi dengan warga setempat,mereka tidak mau apa yang di tawarkan Sandi karena kekuasaan Gobang terlalu kuat di daerahnya.
mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa,kini Sandi dan yang lainnya kebingungan karena Maira belum juga pulang di saat mereka akan pergi.
"bagaimana ini Maira belum juga datang..." keluh Fahmi.
"tenanglah...kita cari jalan keluar" Ucap Sandi.
"kenapa kalian masih di sini,ayo pergi sebelum kami melaporkan pada anak buah Gobang" ucap salah satu warga.
"baiklah kami hari ini juga akan pergi tapi kami menunggu satu orang lagi,dia sedang pergi jadi kami mohon beri waktu sebentar lagi" tutur Fahmi.
warga pun mulai berbisik,sedangkan Sandi sedang menghubungi anak buahnya,agar siap-siap jika ada sesuatu,Sandi menyebarkan anak buahnya di setiap titik jalan menuju kampung itu sekedar jaga-jaga.
Gobang yang baru sampai di rumah bambu itu merasa heran,karena tidak ada seorang pun anak buah yang menghampirinya.
Gobang dan Ratna masuk kedalam rumah,benar saja mereka tak menemukan satu orang pun termasuk Fariq.
"apa yang terjadi?" tanya Ratna.
"aku tidak tahu,tidak ada kabar dari mereka" jawab Gobang.
"pasti sudah terjadi sesuatu" ucap Ratna.
"mungkin..."
"sebaiknya kita pergi" ajak Ratna.
Gobang mengiyakan ajakan Ratna,dan mereka pergi keluar,saat Gobang hendak pergi,dia melihat anak buahnya berlari menghampirinya sambil ngos-ngosan.
"bos..."
"apa yang terjadi?"
"itu bos,dokter itu melarikan diri..."
"aku sudah menduganya" ucap Gobang.
"kenapa dia bisa kabur?" tanya Ratna.
anak buah Gobang menceritakannya dari awal,dan Gobang pun merasa kaget kenapa ada orang yang berani masuk ke wilayahnya.
"lalu yang lainnya kemana?"
"mereka masih mencari"
"aku akan mencarinya jalur utama" ucap Gobang.
"cepat pergi...kami tidak butuh belas kasihan" teriak warga pada Sandi dan yang lainnya.
mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa,Fahmi yang gelisah masih berharap kemunculan Maira.
ketika mereka sedang di arak untuk pergi,tiba-tiba berbunyi suara tembakan.
dor....
mereka pun mencari dimana suara itu berasal,dan apa yang dilihat Gobang muncul dan menghampiri Sandi dan lainnya sambil menodongkan pistol.
"apa kalian mau mati?"
semua yang berada di sana ketakutan termasuk warga,tapi tidak dengan Sandi sepertinya dia tenang-tenang saja.
"apa kau bernama Gobang?" tanya Sandi.
Gobang menyeringai,"ya aku penguasa di sini"
"kebetulan sekali,aku ingin berbicara satu hal padamu" ucap Sandi.
"wow...baru kali ini ada orang dengan lantang mengajakku berbicara"
"kembalikan dokter Fariq,atau kau akan menemui ajal mu sekarang" ujar Sandi.
"ha...ha...ku kira dia sudah bersama kalian" ucap Gobang sambil tertawa.
Sandi mengerutkan keningnya," maksudmu?".
"dia sudah pergi..." ucap Gobang.
Sandi dan yang lainnya pun terkejut saat mendengarnya,tiba-tiba suara ponsel Gilang berdering,lalu Gilang mengangkatnya.
"Hallo..."
"...."
"apa?" Gilang terkejut.
"ada apa?" bisik Fahmi.
"Maira sudah bersama Fariq,mereka sudah berada di pos satu" bisik Gilang yang terdengar oleh Sandi.
ternyata Maira dan Fariq pergi menuju jalan pintas yang di tunjukkan Alif karena dia tidak mungkin kembali ke sana karena Gobang akan lebih dulu sampai dari pada mereka,sedangkan Alif sendiri pulang ke rumahnya.
"lalu bagaimana dengan kita?" tanya Fahmi.
"tenang sebentar..." ucap Sandi.
"jangan berbisik..." teriak Gobang.
"sekarang kalian menjadi tawanan ku" lanjut Gobang.
Ratna turun dari mobil dia masuk ke kerumunan,samar-samar dia melihat sosok yang dikenal semakin mendekat semakin jelas dan dia pun membulatkan matanya,"Bang Rudi..." gumam Ratna.
Rudi pun sama dia melihat Ratna yang tengah terkejut melihatnya.
Ratna menggelengkan kepalanya,seakan dia tidak percaya kalo perbuatannya akan mengorbankan keluarga nya sendiri.
Sandi dan yang lainnya pun melihat sosok Ratna yang kini berdiri di samping Gobang,Sandi mengepalkan tangannya saat Ratna muncul dihadapannya,seakan dia ingin membunuh Ratna karena dia adalah dalang di balik semua ini.
"tangkap mereka" titah Gobang pada anak buahnya,dengan sigap anak buah Sandi dan Gilang pun mengangkat sebuah pistol dan menodongkannya,warga setempat pun histeris langsung berjongkok,anak buah Gobang pun tidak bisa berbuat apa-apa kini mereka juga ikut berjongkok.
"sial" gumam Gobang.
"jangan macam-macam dengan kami" ucap salah satu anak buah Sandi dengan pakaian serba hitam.
"besar juga nyali mu" ucap Gobang yang masih menodongkan pistol.
"kami tidak akan diam jika kalian memberontak,tapi jika kalian melepaskan kami itu artinya kita berdamai,bukan begitu nona Ratna" ucap Maira yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
Sandi dan yang lainnya pun tersenyum saat kedatangan Maira dengan pasukannya,"boleh juga..."gumam Sandi saat melihat keberanian adiknya.
"apa kabar nona Ratna,sayang sekali...kita bertemu di waktu dan tempat seperti ini" lanjut Maira.
Ratna mengepalkan tangannya dia merasa geram karena Fariq sudah bersama Maira lagi.
"berusaha apapun kamu memisahkan kami,kalo Allah sudah berkehendak itu tak akan terjadi,kami memang sudah di takdir kan untuk bersama,jadi tolong pergilah dari kehidupan kami"
"tidak..." teriak Ratna,"aku tidak akan membiarkan mu bahagia di atas penderitaan ku" ucap Ratna.
"bagaimana pun aku akan berusaha memisahkan kalian,kalau aku tidak bisa memiliki dia,wanita lain pun tidak boleh memilikinya" lanjut Ratna sambil mengambil pistol dari tangan Gobang lalu menodongkan ke arah Maira,semua kaget termasuk Gobang.
"jangan coba-coba merebutnya dari ku" ucap Ratna pada Gobang.
"jangan lakukan hal bodoh,kamu bisa mati juga di sini" ujar Gobang.
Ratna menyeringai," aku tidak peduli" lalu Ratna menembakan peluru ke arah Maira.
dor...
Maira pun terpental lalu terjatuh ke tanah,semuanya kaget Sandi,Fahmi,Gilang dan Rudi termasuk Fariq yang ikut jatuh,karena keadaan mereka sedang berpegangan tangan saat Maira tertembak.
sedangkan Ratna diam tidak percaya kalo dia sudah menembak Maira,lalu dia menodongkan pistol ke kepalanya,Gobang yang menyadari itu langsung merebutnya,tapi pegangan Ratna sangat kuat akhirnya mereka berebut pistol dan suara tembakan pun terdengar lagi.
dor....
semuanya terdiam,dengan pelan Gobang ambruk,ternyata pelurunya mengenai perutnya dan dia langsung terkapar di tanah.
Ratna yang melihatnya pun kaget,dia tidak sengaja menembakan peluruh pada Gobang.
bersambung....