Humaira

Humaira
Bab 91 dugaan



Dokter sedang memeriksa Maira yang sedang terbaring di kasur,sudah terpasang alat infus di tubuhnya,sengaja Maira tidak di larikan ke rumah sakit karena Maira hanya butuh istirahat dan pikiran yang tenang dan dokter menyarankan di infus di rumah saja.


"bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Papa Ikbal.


"dia hanya butuh istirahat,beban pikiran yang terlalu berat membuat tubuhnya lemah,sepertinya dia jarang makan" jelas dokter.


"memang betul,satu hari hanya sekali itu pun kami harus membujuknya" ucap Papa Ikbal.


"ya...saya mengerti,tidak mudah untuk merasakan posisi seperti nona Maira,saya juga tidak menyangka kejadian yang menimpa dokter Fariq,karena beliau orang yang baik,jadi kenapa ada orang melakukan hal seperti ini padanya" tutur dokter yang tak lain adalah temannya Fariq.


"ya saya juga tidak habis pikir..." ujar Papa Ikbal.


"baiklah kalo begitu saya pamit pulang,masih ada kerjaan di rumah sakit" pamit dokter.


"iya terima kasih dok..."


saat dokter sudah pergi,Sandi,Fahmi dan Gilang masuk menemui Maira,"bagaimana Pa keadaan Maira?" tanya Sandi.


Papa Ikbal menjawab," kata dokter dia perlu istirahat"


"kasihan Maira hatinya terguncang, sudah satu bulan kita belum mendapat titik terang " ucap Gilang.


Fahmi menghampiri Maira dan duduk di pinggir ranjang tepat disisi Maira sambil berhadapan yang kini Maira sudah duduk bersandar pada tumpukan bantal.


Fahmi melihat mata Maira yang sedang menatap kosong,di usapnya pucuk kepala Maira,tak terasa Fahmi meneteskan air matanya rasa sesak di dadanya saat melihat kondisi adiknya.


"Humaira..." panggil Fahmi pada Maira.


"Kembali lah pada Maira yang dulu,Maira yang ceria,Maira yang kuat,Maira yang tegar jika menghadapi setiap masalah,aku rindu akan hal itu"


Fahmi menggenggam tangan adiknya," kita yakin kalau Fariq akan kembali,jadi mari lah kita berjuang sama-sama mencari Abi nya Dzakir,karena Dzakir membutuhkan Abi nya".


"Mai...jangan menyiksa kami seperti ini,kami juga sedih kehilangan Fariq tapi kami juga tidak mau melihat kamu seperti ini,lihat Dzakir kasian dia Mai...kami disini sudah berjanji kalau kami tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri dan Dzakir".


Maira memejamkan matanya,sudah seharusnya dia bangkit dari keterpurukan,ada Dzakir yang membutuhkannya,semua kejadian ini membuatnya lupa akan anaknya.


"Mai...maaf kalo Kakak menyinggung mu" ucap Fahmi.


Maira membuka matanya,dia tidak bisa membendung air mata nya,dan dia menangis lagi,kini dia sudah berada di pelukan Fahmi,kerinduan terhadap Suaminya tidak tertahan lagi,apa lagi Dzakir masih kecil dia sangat membutuhkan sosok Ayah.


kini mereka sudah berada di ruang keluarga,mereka sedang membicarakan soal Fariq.


"kata dokter tadi memang betul,kakek Fariq memang terkenal dengan keramahannya juga kebaikannya,tak kalah dengan kakek,Fariq pun sama dia dikenal Orang baik tapi kenapa kok ada yang ingin menyakitinya" ujar Gilang.


"itu dia mau orang baik atau jahat sekalipun, kalo orang tidak suka ya tetap saja" timpal Fahmi.


Sandi mencerna perkataan Gilang dan Fahmi memang benar,selama dia kenal dengan Fariq dia tidak pernah mendengar kalo Fariq punya saingan,dan dia pun mengalaminya sendiri saat Fariq memergoki dia dengan Lea di hotel waktu itu tidak ada reaksi adu jotos Fariq tetap memaafkannya.


Sandi mengingat kejadian-kejadian yang menimpa hubungan Fariq dan Maira,bukan orang yang membenci Fariq tapi orang yang menyukai Fariq,dan kini Sandi yakin kalo Maira juga tahu.


tiba-tiba saja Maira datang menghampiri,Papa Ikbal menyambut tangannya dan mendudukkan Maira di sofa.


seketika mereka terdiam,sedangkan Sandi yang jaraknya agak jauh kini sudah mendekat,"Mai...apa sudah baikan?" tanya Sandi.


Maira menjawab," aku ingin ikut kalian mencari Suamiku,aku tidak bisa diam saja di rumah".


"tidak Mai...di luar tidak baik untuk mu,sebaiknya kamu tunggu saja di rumah,Papa yang akan menemani mu" ucap Sandi.


"tidak...jangan melarang ku" ketus Maira.


Papah Ikbal memberi kode pada semuanya agar membiarkan Maira mengikuti apa kata hatinya,dan mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa.


"baiklah kalo itu mau kamu,tapi...apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Sandi.


semuanya mengangguk,"Mai...kami tahu kalo kamu dan Fariq orang yang sangat baik,tapi maaf kalo pertanyaan kakak menyinggung mu,apa Fariq punya saingan dalam hidupnya?" tanya Sandi.


"Kak Fariq tidak pernah bercerita kepadaku kalo dia punya saingan atau musuh" jawab Maira.


"apa belakangan ini ada yang mencurigakan tentang sikap Fariq" Sandi bertanya lagi seperti sedang mengintrogasi dan Maira pun menggeleng.


"apa ada kejadian sesuatu sebelumnya?" tanya Sandi lagi.


deg...


saat Maira mendengar pertanyaan kakaknya langsung mengingat ucapan Ratna,tangannya bergetar,sontak mereka yang melihat pun langsung mendekati Maira.


"kamu tidak apa-apa Maira?" tanya Fahmi.


"apa ada kaitannya dengan pertanyaan ku tadi ?" bisik Sandi pada Gilang.


" bisa jadi..." jawab Gilang.


Papa Ikbal memberikan minum pada Maira,setelah Maira meminumnya kini dia sudah membaik.


"Maira...kamu belum jawab pertanyaan kakak tadi" ucap Sandi.


"cukup Sandi jangan paksa Maira untuk menjawabnya,biarkan dia tenang dulu" ujar Papa Ikbal.


"aku tidak apa-apa Pa..." ucap Maira.


"lalu apa pernah terjadi sesuatu pada Fariq?" tanya Gilang.


Maira menatap ke arah bibi yang sedang menimbang Dzakir,bibi pun mengerti arti tatapan majikannya dia pun mengangguk.


dan penglihatan mereka tertuju pada bibi," apa bibi juga mengetahui nya?" tanya Fahmi.


"tentu saya tahu Tuan,tapi saya tidak berhak mengatakan itu,biar nona yang menjelaskannya" jawab bibi.


Maira hanya terdiam,sepertinya dia enggan memberi tahu semuanya karena bagaimana pun menurutnya itu adalah aib seseorang.


"Mai...katakanlah kami ada disini kamu jangan takut" ucap Fahmi.


"aku tidak bisa mengatakannya Kak" ujar Maira.


"kenapa Mai...ini menyangkut keselamatan Fariq" ucap Fahmi.


Maira bungkam,lalu bibi menghampiri Maira dan bersimpuh di depannya,"non...katakanlah pada mereka,bibi takut kalo semua ini ada sangukatan nya dengan kejadian kemarin" ucap Bibi.


"tapi bi..."


"engga apa-apa non,bibi sangat tahu perasaan nona sekarang ini,ayo lah non jangan di tutupi lagi" bibi memohon pada Maira.


Maira menutup matanya dan menghela nafas,Maira mulai menceritakan semuanya kejadian yang menimpa keluarganya.


"kenapa kamu baru menceritakannya pada kami?" tanya Sandi.


"maaf Kak...sebenarnya aku tidak menceritakannya karena ini aib seseorang dan ini masalah keluarga ku sendiri" jawab Maira.


"tapi kalo sudah begini bukan lagi aib Mai..." ucap Papa Ikbal.


"Ya sudah jangan di perdebatkan lagi,yang harus kita lakukan adalah penyelidikan terhadap Ratna" ucap Fahmi.


bersambung....


ditunggu komentar nya dan like yang sebanyak-banyaknya ...🙏