
di kediaman fariq,maira dan papahnya sedang bersiap untuk pergi berjalan-jalan ke taman dekat rumah,maira terlihat memakai baju ibu hamil.
"nak...melihat kamu seperti ini papah jadi teringat almarhum mamahmu" ucap papah ikbal.
"nanti ceritanya di taman saja,kita sekarang pergi" ajak maira.
mereka berdua pergi,sampainya di taman papah ikbal menawarkan sebuah minuman pada maira,takut anaknya kehausan.
"nak...mau papah belikan minum?"
"enggak pah...nanti saja" jawab maira yang tidak ingin merepotkan papahnya.
"baiklah ayo kita lanjutkan biar persalinannya semakin cepat" ajak papah ikbal.
ternyata perut maira sudah terasa ada tanda-tanda melahirkan,dia sudah mengeluarkan plek merah tapi rasa sakitnya masih ringan.
"kenapa fariq tidak langsung membawamu ke rumah sakit nak,malah dia menyuruhmu jalan-jalan" ujar papah ikbal.
"kata kak fariq,kalo sakitnya sudah 2 menit sekali itu gak lama lagi,sekarang maira baru merasakan sakit 10 menit sekali masih jauh pah,lagian maira ingin lahiran di rumah" ucap maira sambil menggandeng tangan papahnya.
"kenapa tidak dirumah sakit saja disana banyak alat yang akan membantu" ucap papah ikbal.
"kak fariq sudah memastikan itu semua pah,alhamdulillah setelah melihat kesehatan ku dan calon bayiku,aku dapat melahirkan secara normal" jelas maira.
"baiklah papah akan mendukungmu semoga semuanya berjalan lancar"
"aamiin...makasih pah..."
mereka berjalan dengan santai maira menikmati momen bersama papahnya,dia menganggapnya ini kencan pertamanya bersama sang papah.
"pah...apa maira boleh bertanya?"
papah ikbal menjawab," tentu sayang...apa yang ingin kau tanyakan?"
"ketika mamah melahirkan ku dan kak sandi apa papah selalu berada disampingnya?" tanya maira penasaran.
papah ikbal tersenyum dan menjawab"dulu waktu mamah melahirkan kakakmu,papah menemaninya karena waktu itu papah belum sukses seperti sekarang ini,dulu kakak mu di lahirkan dengan bantuan dukun beranak".
"lalu waktu melahirkanku?"
"kamu waktu itu dilahirkan di rumah sakit karena mamah mengalami pendarahan hebat sebelum kamu dilahirkan, jadi papah memilih mamah melahirkan di rumah sakit,apa lagi waktu itu kondisi keuangan papah sudah seperti ini,kenapa sih kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"iya...katanya kalo suami kita menyaksikan kita melahirkan anaknya, dia akan semakin sayang dan menghargai istrinya" ujar maira.
papah ikbal pun tersenyum apa yang dikatakan maira memang benar,terbukti kalo itu semua dia merasakannya,makannya dia tidak bisa berpaling dari istrinya walau dulu sudah berpisah.
"kenapa papah diam saja?"tanya maira langsung menghentikan langkahnya.
"apa yang dikatakan kamu memang benar,papah juga merasakan hal yang sama,papah tidak bisa menyakiti mamahmu andai dulu mamahmu percaya pada papah mungkin kita tidak akan berpisah dulu" lirih papah ikbal.
"sudah kehendak tuhan pah...mungkin harus seperti itu jalan ceritanya" ucap maira.
"itu benar sayang..." papah ikbal membetulkan ucapan maira, tiba-tiba saja perut maira terasa sakit, "aw...pah sakit..." ucap maira sambil mencengkram tangan papahnya.
"sayang sebaiknya kita duduk"
"engga pah maira hanya butuh seperti ini" maira membungkukkan tubuhnya tepatnya menungging sambil berdiri.
"oh ya lakukanlah nak senyaman mungkin" ucap papah ikbal dengan cemas.
maira pun sudah tidak merasa sakit lagi dia berdiri tegak kembali,"bagaimana nak sudah enakan?" tanya papah ikbal.
"alhamdulillah pah ini berkat instruksi kak fariq" jawab maira yang sakitnya sudah berkurang.
"tentu nak...secara dia dokter kandungan" ucap papah ikbal.
"kita pulang saja nak,kamu harus beristirahat" ajak papah ikbal.
"baiklah pah ayo kita pulang"
mereka pun pulang kerumah dengan berjalan kaki,saat diperjalanan sesekali maira merasakan sakit di perutnya sampai papah ikbal semakin panik.
setelah sampai di rumah maira membaringkan tubuhnya,papah ikbal mencoba mengusap perut maira agar sakitnya berkurang.
"enak pah..." gumam maira saat perutnya di usap-usap papah ikbal.
beberapa jam kemudian sakit di perut maira semakin sering,sampai wajah maira memerah,tidak lama kemudian fariq datang dia langsung menghampiri maira yang di temani oleh papahnya.
"pah...bagaimana dengan maira?" tanya fariq.
papah ikbal menjawab," sebaiknya kamu periksa dulu dari tadi sakitnya semakin sering".
"apa boleh papah keluar dulu?" fariq meminta ijin pada mertuanya.
fariq pun langsung mencoba memeriksa maira,"sayang...apa sekarang lagi sakit?"
"iya kak...aduh..." maira meringis kesakitan.
fariq mencoba memperhatikan waktu saat perut maira terasa sakit," lima menit sekali" gumam fariq.
"sayang aku akan memeriksamu sekarang kamu buka lebar kakinya ya" perintah fariq.
maira mengikuti apa kata fariq,dan fariq memakai sarung tangan karet yang seperti biasa dipakai dokter.
fariq mencoba memasuki tangannya ke lubang maira untuk memastikan jarak kepala bayi dan mulut ******** maira.
"tarik nafas sayang..."
setelah itu fariq melepaskannya,"sudah pembukaan 4 sayang..." ucap fariq.
"lalu ..." tanya maira yang masih meringis.
"artinya semakin dekat sayang...sebaiknya kamu tidurnya miring kekiri ya..." perintah fariq.
setelah itu fariq keluar menemui mertuanya yang sedang menunggu diluar dengan panik.
"fariq,bagaimana dengan maira?"
"masih ada waktu pah..."
"kenapa tidak di bawa ke rumah sakit saja?" tanya papah ikbal.
"tidak apa-apa pah kondisi maira juga baik,aku juga sudah mempersiapkan ruang bersalin untuk maira apa lagi maira ingin melahirkan di rumah" ujar fariq.
fariq mencoba menghubungi asistennya untuk membantunya,maira sudah berada di ruangan yang sudah fariq persiapkan jauh-jauh hari,peralatan yang akan di butuhkan sudah disiapkan tinggal menunggu maira merasa mules.
fariq mengecek lagi kondisi bayinya apa sudah lengkap atau belum,"alhamdulillah sudah lengkap" ucap fariq pada asistennya saat sudah mengeluarkan tangannya.
"sayang...kalo merasa sudah mules tarik nafas lalu mengejan ya...terus kakinya di buka,matanya lihat pada pusar kamu dan mulutnya ditutup agar ada tenaga" titah fariq.
"iya kak..." ucap maira yang sudah berkeringat dan wajah pucat.
diluar ruangan terlihat papah ikbal yang sedang mondar mandir,disana juga sudah ada bu lastri dan fahmi,ternyata fariq sudah lebih dulu menghubungi mereka.
tiba-tiba maira merasakan mules yang hebat,"kak..." rengek maira kesakitan.
"lakukan seperti tadi aku katakan" ucap fariq.
maira pun melakukannya dan mengejan,tapi kepala bayinya belum juga keluar.
"tarik nafas lagi sayang..." ucap fariq.
maira pun melakukannya dan perutnya terasa mules lagi,dan maira melakukan apa yang dikatakan suaminya.
"emmmm" suara maira mengejan..
"iya pintar..." ucap asisten fariq.
"lagi sayang..." fariq memberi semangat.
"emmmmm" maira mengejan lagi tapi masih belum keluar.
fariq mencoba mengusap ****** maira,agar ada rangsangan pada anaknya,maira pun merasakan sakit lagi dan melakukan hal yang sama.
"emmmmm...."
"sedikit lagi bu..." asisten fariq memberikan semangat pada maira.
"aku tidak kuat lagi..." ucap maira merasa kelelahan.
"kamu harus kuat sayang,sedikit lagi kasian anak kita" ucap fariq.
fariq pun mengambil tangan maira untuk meraba ke kepala bayinya yang sudah berada di didinding ***********,"apa kamu merasakannya maira...itu kepala anak kita" ucap fariq.
maira pun tersenyum dan ketika mules terasa sakit dia berusaha sekuat tenaga untuk mengejan,"emmmmmmmm"...
"oak...oak...oak.." dan akhirnya suara tangisan bayi pun keluar.
fariq langsung memegang bayinya dan asistennya mencoba mengeluarkan ari-ari yang masih di dalam.
diluar sana terlihat papah ikbal,fahmi dan bu lastri begitu gembira dengan mengucapkan,"alhamdulillah..." dengan serentak ketika mendengar tangisan bayi.
bersambung....