Humaira

Humaira
Bab 18 berkunjung lagi



terlihat fariq memarkirkan mobil,tidak selang beberapa menit dia keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah.


dia duduk di sofa sambil menyalakan tv,terdengar samar-samar di dapur suara seseorang sedang memasak,fariq pun menghampiri.


"ku kira hantu",ucap fariq pada gilang yang sedang memasak mie instan.


"baru pulang?",tanya gilang.


"yup....kelihatannya enak ni",goda fariq.


"aku udah bikin,kamu tinggal ambil",suruh gilang.


mereka pun menikmatinya sambil nonton tv,fariq dan gilang teman sedari kecil jadi gilang sudah tidak canggung lagi di rumah fariq,kedua orang tua gilang berada di luar kota jadi gilang banyak menghabiskan waktunya dengan fariq.


"banyak pasien sampai pulang selarut ini?",tanya gilang.


"ya seperti biasa,tapi aku tadi berkunjung ke panti tempat maira",ujar fariq.


gilang menghentikan makannya,"ada kepentingan apa kamu kesana?",tanya gilang lagi.


fariq tersenyum",aku melamar maira".


deg...dada gilang terasa sesak...


"kamu tahu lang,maira menerima ku malahan kita akan menjalani ta'aruf",lanjut fariq.


"secepat itu?,kamu yakin dengan keputusan mu?",tanya gilang.


"aku gak mau mengulur waktu,nanti aku keduluan sama orang lain",ucap fariq.


"bagaimana dengan...",gilang belum melanjutkan berbicara langsung doli potong fariq.


"masalah surat itu aku memutuskan untuk memberitahu fahmi kakaknya maira,aku gak mau kalo nanti itu akan menjadi penghalang niatku".


"mungkin lebih cepat lebih bagus,terus bagaimana dengan lea apa dia masih menghubungimu?".


"tadi dia datang ke rumah sakit untuk menjelaskan semuanya,tapi buat aku itu sudah gak berguna lagi,toh itu tidak akan membuat hubungan aku sama dia bersatu lagi".


"tapi kan seenggaknya kamu bisa tahu yang sebenarnya".


"aku takut lang..."


"takut kenapa?"...


"takut hati ku luluh karena rayuannya".


gilang pun mengangguk.


"tapi dia tidak akan mengganggu hubungan kamu dan maira kan?".


"aku tidak akan membiarkan siapapun merusaknya",ucap fariq.


waktu menunjukkan jam 5 pagi,maira masih duduk di atas sajadahnya,"ya Allah hamba pasrahkan semua urusan hamba kepadamu ya rabb...hamba yakin engkau maha mengetahui segalanya",maira mengusap wajahnya dengan kedua tangannya seraya mengucapkan "aamiin..."


maira berdiri dan merapikan mukena dan sajadah,lalu dia keluar dari mushola kecil yang berada di dalam rumah.


"neng..."seru bu lastri.


maira menoleh",iya bu..."


"kalo kamu sudah menikah dan kamu ikut suamimu mungkin rumah ini terasa sepi",lirih bu lastri.


"ibu...",rengek maira memeluk bu lastri.


"pagi-pagi gini sudah bicara soal menikah",lanjut maira.


"itu harus dibacarakan nak,karena nanti kamu sudah ada yang punya,ibu kak fahmi dan anak-anak tidak akan semena-mena terhadapmu,ingat surga bagi seorang istri ada pada diri suaminya makannya kamu harus nurut pada suami mu kelak",jelas bu lastri.


"makasih bu...wejangannya...",makin erat memeluk bu lastri...


di kediaman fariq,bibi sedang menyiapkan makanan,fariq dan gilang turun bersamaan.


"aduh senangnya lihat dua pria ini pagi-pagi sudah cakep dan wangi",goda bibi.


"makasih bi,kami pria-pria yang di kagumi banyak gadis",ucap gilang.


"jangan sombong",ujar fariq.


"lang,hari ini aku ada rencana menemui maira",ucap fariq.


"kangen bro...",goda gilang.


fariq tersenyum,"lucu tau lihat muka maira yang memerah saat aku kesana",ucap fariq.


"bilang aja sudah mulai kangen...mulai bucin",ledek gilang.


"kita lihat saja nanti..." ujar fariq.


di sebuah perusahaan sandi sedang bergelut dengan berkas-berkas yang menumpuk,satu persatu dia kerjakan sampai dia tidak menyadari kedatangan lea.


"sesibuk itu sampai tidak menyadarinya kalo aku disini",ucap lea mengagetkan sandi.


sandi tersenyum dan berdiri lalu menghampiri lea yang sedang berdiri di depan meja kerja sandi.


"maafkan aku sayang...pekerjaan ini membuatku gila".


"tapi kamu suka kan.."


sandi meraih tangan lea dan menggenggamnya,"bagaimana hubungan kamu dan fariq?",tanya sandi.


lea diam tidak menjawab


"baiklah aku tidak akan mengulangi pertanyaan itu",sandi berbalik dan lea pun memeluknya dari belakang.


"bantu aku...bantu aku melupakannya aku masih sangat mencintainya",ucap lea.


gilang bertanya,"kalo kamu masih mencintainya,kejadian kemarin itu apa?,hanya pelampiasan?".


"maafkan aku..."lirih lea.


"lihatlah aku",sandi membalikan tubuhnya sehingga dia berhadapan dengan lea.


"kamu harus percaya padaku kalo aku tidak main-main dengan ucapanku...aku akan menikahimu",lanjut sandi.


lea menatap wajah sandi,"aku akan membuka hatiku untukmu lagi",ucap lea dalam hati dan leapun mencium bibir sandi dan mereka pun...ya gitu deh...


maira dan fariq sedang duduk diteras depan,maira masih seperti biasa menundukkan kepalanya,"mai...",ucap fariq memulai obrolan.


"iya kak..."sahut maira.


"kamu yakin dengan kakak?",tanya fariq.


"kakak sendiri?",maira balik bertanya.


"kakak sudah sangat yakin maira..."


"insya Allah maira juga kak..."


fariq tersenyum,"apa kamu sudah siap menjadi istri ku?".


maira diam yang menandakkan kalo dia sudah siap menjadi nyonya fariq nurhakim.


"kakak akan bicara soal pernikahan sama kakakmu,kakak punya niat bulan depan kita menikah".


maira mengangguk,"kapan kakak akan menemui kak fahmi?".


"secepatnya,karena kakak tidak ingin menundanya".


"maira jadilah pengobat luka di hatiku",lirih fariq dalam hati.


"bilang ke fahmi kakak besok kesini lagi..."ucap fariq.


"maira...",seru fariq.


"kakak ingin setelah kita menikah kamu ikut kakak tinggal di rumah kakek",pinta fariq.


maira berkata, "itu sudah kewajiban maira untuk ikut bersama suami sekalipun jauh dari sini,kalo maira sudah menikah dengan kakak,maira adalah tanggung jawab kakak sepenuhnya".


fariq terharu dengan ucapan maira, "dia adalah wanita sesungguhnya ternyata kakek tidak salah memilih gadis seperti maira,terima kasih kek...",fariq dalam hati.


bersambung....