Humaira

Humaira
BAGIAN 1



"Ummi, aku berangkat ya" Humaira pamit.


Gadis manis yang pipinya kemerahan itu menyalami tangan wanita paruh baya. Ummi panggilan kesayangannya. Dipandangi wajah gadis itu. Humaira, anak gadis satu-satunya.


"Kenapa ummi?" tanya Humaira


Senyum ummi mengembang. Ada kebahagiaan dari raut wajahnya.


"Jangan lupa, bismillah. Niatkan hati untuk menolong orang dengan ikhlas" pesan singkat ummi sangat menyentuh.


"Ya ummi ....." Humaira memeluknya erat.


"Doa ummi selalu untuk anak gadis ummi yang sholehah" kembali ummi tersenyum sambil mengecup kening Humaira.


"Titidije ..."


"Ih ummi gaul ...." jari lentik Humaira mencubit lengan umminya.


Humairo tertawa sambil berlari menuju abang ojol. Hari ini dia dapat tugas pagi. Dia melambaikan tangan pada umminya. Senyum manisnya selalu menghiasi wajahnya. Gadis yang ramah.


Ummi membalas lambaian anak gadisnya. Kembali senyuman tersungging di bibirnya. Dipandanginya hingga punggung anaknya menghilang dibawa motor ojek online.


Ummi bersandar di pintu setelah menutupnya. Matanya tertuju pada foto lelaki paruh baya. Husein, almarhum suaminya. Ummi berjalan menuju foto yang menempel di dinding. Diambilnya dan dipandanginya, cukup lama. Kerinduan pada lelaki itu menyergapnya. Butiran air matanya mengalir.


Kenangan bersamanya kembali menari-nari. Lelaki yang menguatkan hatinya. Lelaki yang berani mengajaknya melintasi kerasnya hidup. Lelaki yang tak pernah mengumbar keluhan. Meskipun profesinya tidak menjamin sejahtera materi. Lelaki penuh cinta. Cintanya tak pernah habis. Bahkan makin cinta.


"Sayang, alhamdulillah pagi ini aku sudah dapat pesanan dari langganan" Husein memulai obrolan pagi dengan istrinya.


Seperti biasa segelas teh manis hangat dan singkong rebus. Ya, hanya itu yang bisa disediakan Melati. Bagi Husein sudah lebih dari cukup. Dia teringat pesan ustadz Rojali, orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup dan selalu bersyukur.


"Ayah menginap?" tanya Melati selidik.


Humaira memang sedang menghadapi ujian akhirnya. Dia ingin cepat-cepat lulus dari sekolah keperawatan. Ingin segera bekerja. Humaira merasa iba dengan kondisi ayah ibunya.


"Hati-hati ya Ayah. Pelan-pelan saja nyupirnya. Apalagi perjalanannya jauh" pesan Melati pada suaminya sambil memasukkan pakaian Husein ke dalam tas.


"Insyaalloh, doakan ayah, ya"


Percakapan pagi yang hangat dari dua orang yang saling mencintai. Husein hari itu mengantar langganannya ke Bandung. Pekerjaannya sebagai supir taksi online menuntut pelayanan yang baik. Dia punya beberapa langganan. Salah satunya pak Gandi yang memintanya mengantar ke Bandung.


Mobil yang dipakai bukan miliknya. Husein menyewa dari tetangganya, pak Jaelani pensiunan PNS. Dia sudah tidak sanggup lagi jadi sopir taksi online. Jadilah Husein yang meneruskan dengan imbalan sewa bulanan.


"Ayah berangkat ya, bu" Melati mencium tangannya. Husein mengecup kening belahan jiwanya. So sweet sekali. Seperti scene di sinetron.


"Ayaaaah .... salim" Humaira berlari dari dapur.


"Ayah hati-hati di jalan. Belikan aku kue khas Bandung ya" pintanya manja.


"Insyaalloh .... " jawab Husein sambil mengecup kening Humaira.


"Ayah .... I love you" Humaira menunjukkan jari lentiknya yang disilangkan antara jempol dengan telunjuk. Tanda cinta khas Korea Selatan.


Pak Husein senyum. Ia membalas dengan hal yang sama yang dilakukan Humaira.


"Assalamu'alaikum ..." Pak Husein pamit pafa keduanya.


"Ayah ... " Humaira melambaikan tangannya. Pak Husein membalas lambaiannya dari dalam mobil.


Lelaki itu pergi mengais rezeki dibekali cinta dua wanitanya, Melati dan Humaira. Sebuah bekal yang tidak ternilai. Cinta dan doa.