Humaira

Humaira
Bab 59 mafia



hari berganti malam,orang - orang di panti sedang menikmati makan malam karin pun tidak ketinggalan,karin dengan lahap dia memakan makanan buatan bu lastri.


"emmm...bu makanan nya enak sekali,aku jadi ingin nambah lagi" ucap karin.


bu lastri tersenyum,"alhamdulillah masakan ibu banyak yang suka,tambah lagi nak...biar kamu dan anakmu sehat"


"iya karin...apa lagi hamil muda..." timpal rahmi.


"oh iya...fahmi juga baru sadar bu...kita akan menambah anggota baru,ada anakku,anak maira dan anak kamu karin" ucap fahmi,karin pun terdiam saat mendengar ucapan fahmi.


"maaf ya...apa maira sedang hamil?" tanya karin.


fahmi menjawab," iya dia sedang hamil...mungkin gak jauh umur kandungannya sama kandunganmu"


"apa kalian menganggap anakku juga anggota keluarga kalian?" karin bertanya lagi membuat fahmi,rahmi dan bu lastri saling melirik.


"karin,sebenarnya kalo orang yang tinggal disini pasti kami sudah menganggapnya keluarga,apa lagi ini permintaan maira jadi kamu jangan sungkan untuk meminta bantuan kami",rahmi mencoba menjelaskan pada karin.


"tapi aku hanya sementara tidak untuk selamanya" ujar karin.


fahmi angkat bicara,"maira sudah menceritakan masalahmu pada kami dia ingin kami menjaga kamu,dan kami harap kamu juga tinggal dulu disini agar kamu dan bayimu selamat".


"kenapa kamu lakukan semua ini padaku maira,padahal aku sudah menyakitimu,ternyata dugaan ku salah,pantas saja fariq memilihmu menjadikan pendamping hidupnya," ucap karin dalam hati.


"karin...apa kamu mendengarkan fahmi?" tanya bu lastri membuyarkan fikirannya.


"tentu bu...karin berterima kasih sama kalian sudah mau menampung karin disini" ucap karin dengan mata berkaca-kaca.


di tempat lain maira dan fariq sedang menonton tv,tiba-tiba fariq teringat dengan ucapan gilang yang akan melamar karin.


tapi maira memberi saran untuk tidak terburu-buru karena keadaan karin masih belum stabil,dan maira pun menceritakan pada fariq,kalau papahnya akan membantu karin.


"sayang...apa kamu yakin dengan semuanya...?" tanya fariq.


"insyaallah,aku yakin semua ini pasti ada jalan keluarnya" jawab maira.


tiba-tiba ponsel bergetar drett...drett...


sebuah panggilan dari papah ikbal,maira pun mengangkatnya.


"assalamualaikum"


"....."


"apa..." maira terkejut membuat fariq penasaran.


"....."


"baiklah pah...kalo begitu besok maira akan ke panti bersama kak fariq"


"...."


"...."


"ada apa sayang...?" tanya fariq penasaran pada maira yang sudah menutup panggilan.


"ternyata tidak membutuhkan waktu lama,orang-orang suruhan papah sudah mengetahui identitas ayah tiri karin,ternyata dia anggota mafia,dan ayah tirinya menjual karin pada ketua mafia itu " ucap maira.


"lalu bagaimana...?"


maira menghela nafas," papah menyarankan kalo kita jangan ikut campur dengan urusan mereka"


fariq pun berfikir sama seperti mertuanya,"apa yang dikatakan papah memang benar sayang...kita jangan ambil resiko"


"tapi kak...bagaimana dengan karin...dia ingin keluar dari jeratan ini!"


"menyelesaikan semua ini tidak gampang maira...apa lagi ada sangkutan dengan anggota mafia,bukan karin saja yang ada dalam bahaya tapi kita yang membantunya pun ada dalam bahaya" fariq mencoba menjelaskan pada istrinya.


sekarang maira tidak berdaya,dia tidak mempunyai kekuatan untuk membantu karin.


"apa papah menyuruhmu ke panti?" tanya fariq.


maira mengangguk,fariq bertanya lagi " untuk apa?"


"memastikan kalo karin tidak memegang ponsel" ucap maira.


fariq berfikir dan berkata," jangan...kamu jangan kesana" ucap fariq tiba-tiba.


"kenapa?" tanya maira meminta penjelasan suaminya.


"kita telepon saja pada fahmi,aku takut mereka akan melacak lokasi lewat ponsel karin" jelas fariq.


maira terdiam artinya kalo karin memegang ponselnya,keluarga panti dalam bahaya.


fariq pun langsung menelepon fahmi,fariq meminta untuk berbicara pada karin.


fariq menanyakan keberadaan ponsel karin dan menceritakan kalo karin mengaktifkan ponselnya akan lebih mudah untuk mereka melacak karin.


karin pun mengerti apa yang di katakan fariq,untungnya ponsel karin tertinggal di dalam mobil saat dia hendak kabur,dan sekarang dia tidak memegang ponsel.


setelah selesai berbicara dengan karin,fariq langsung menutup panggilan dan memberitahu pada maira tentang ponsel itu.


"alhamdulillah,aku sudah sangat khawatir kak..." ucap maira.


"iya kakak juga sama,jadi kamu besok gak perlu ke panti,kamu diam saja di rumah" pesan fariq.


"iya sayang..."


bersambung....