
Pak Husein baru saja selesai dhuha. Handphonenya berdering. Pak Gandi meneleponnya. Segera diangkatnya menjawab panggilan tersebut.
"Baik, pak. Segera" jawabnya.
Pak Husein bergegas menuju parkiran.
Dia segera menstarter mobilnya. Dia melihat kanan kiri untuk memastikan ada atau tidak ada kendaraan lain.
"Pak, nanti kita cari oleh-oleh Bandung dulu ya" pinta pak Gandi
" Baik, pak"
Pak Husein memutarkan arah mobilnya menuju toko kue, di Jalan H. Akbar. Dia jadi teringat pesan Humaira. Kebetulan sekali. Husein berniat membelikannya di toko tersebut. Lumayanlah ada sedikit uang, semoga cukup. Katanya dalam hati. Wajah Humaira menari-nari. Husein tersenyum sendiri.
"Kenapa pak, kok senyum-senyim sendiri?" Tanya pak Gandi melihat tingkah Husein.
"Oh, enggak apa-apa pak. Hanya ingat anak saya di rumah" jelas Husein. Dia jadi malu. Ternyata tingkahnya diperhatikan pak Gandi.
"Berapa usia anak Pak Husein?
"19 tahun, pak. Sudah besar sedang sekolah perawat" Husein bersemangat menjawab pertanyaan pak Gandi.
"Wah mulia sekali cita-citanya. Jadi perawat profesi yang mempunyai dua kelebihan pak Husein. Pertama, pekerjaannya menolong orang sedang menderita sakit. Kedua, profesi yang jarang disadari menanam amal jariah untuk akhirat ..."pak Gandi memberi sugesti kepada Pak Husein.
Pak Husein mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi punya tabungan akhirat ya, pak" pak Husein menimpali.
"Benar pak. Semua pekerjaan sebenarnya ibadah. Hanya kita sering tidak menyadarinya. Kita harus terus mengupdate niat kita dalam bekerja. Dengan begitu jadi pagar untuk melakukan sesuatu yang dilarang Alloh Subhanahu Wataala. Korupsi, misalnya" panjang juga penjelasan pak Gandi.
Toko oleh-oleh Bandung itu penuh pelanggan. Pak Husein agak kesulitan mencari parkiran. Sementara pak Gandi sudah meluncur ke dalam toko itu.
Akhirnya, pak Husein dapat juga tempat untuk parkir mobil. Dia segera turun dan menuju toko itu. Dia mau membeli oleh-oleh untuk Humaira.
"Pak Husein ...." ada yang memanggilnya.
Dia menoleh ke arah suara.
"Pak aku, Syafira temennya Humaira, lupa ya?"
Pak Husein senyum sambil berusaha mengingatnya. Gadis itu tampak makin cantik dan dewasa. Kabarnya kuliah di salah satu universitas negeri terkenal di Jakarta.
"Masihlah, fira. Sama siapa di sini?" tanya pak Husein.
"papa dan mama, pak" jawab Syafira sambil tersenyum.
Syafira menghampiri mama papanya. Mengajak mereka untuk diperkenalkan dengan pak Husein.
"Papa mama, ini pak Husein, ayahnya Humaira"
Syafira mengenalkan papa mamanya.
Mereka berjabatan tangan. Saling lempar senyum. Terlihat penampilan mereka berbeda dengan pengunjung lainnya di toko itu. Penampilan yang berkelas. Wajar karena Papanya Syafira seorang pengusaha.
Ustadz Rojali pernah menyampaikan sebuah nasihat. Jika kamu ingin kaya, begitu Rasululloh bersabda jadilah berniagalah. Jadilah pengusaha. Sembilan dari pintu rizki yang Alloh bukakan jalan salah satunya menjadi seorang pengusaha.
"Humaira sering main ke rumah. Anak yang pintar dan ramah. Pasti ayah ibunya mendidik dengan baik, ya pak" papanya Syafira membuka percakapan.
"Alhamdulillah kalau Humaira tidak membuat repot bapak ibu. Maafkan anak saya ya, pak" Pak Husein menimpali pembicaraan yang dimulai papanya Syafira.
"Loh kok minta maaf. Kami justru sungguh berterima kasih. Berkat Humaira, semangat belajar Syafira jadi luar biasa. Humaira itu virus. Virus semangat!" Papanya Syafira memuji akhlak Humaira.
Sayangnya pertemuan mereka singkat. Keluarga Syafira harus segera pergi. Sebelum mereka meninggalkan toko itu Syafira menyerahkan sekantong oleh-oleh kepada pak Husein.
"Pak, titip untuk Humaira ya, jangan menolak ya pak" Syafira menjulurkan kantong oleh-oleh itu sambil tersenyum.
"Salam untuk Syafira. Daaag ... pak Husein" Syafira selalu begitu. Jika main ke rumah Humaira selalu membawa makanan. Syafira tidak pernah risi berkunjung meskipun rumah Humaira kecil dan sumpek.
"Terima kasih Syafira, bapak ibu. Insyaalloh salamnya saya sampaikan. Hati-hati di jalan ya" mata Pak Husein berkaca-kaca. Rezeki Alloh yang mengatur, seperti hari ini.
"Alhamdulillah .... "