
Fariq dan Maira sedang sarapan, sedangkan Dzakir sedang di suapi oleh baby sister yang diperintah oleh Papa Ikbal.
"kak...apa bibi masih sakit,aku kepikiran terus" ucap Maira.
"bagaimana kalo setelah sarapan kita menjenguknya" Fariq memberi saran.
"apa kakak...gak pergi ke rumah sakit?" tanya Maira.
"aku masih kangen sama kamu dan Dzakir,paling lusa aku mulai kerja" jawab Fariq.
"baiklah kalau begitu hari ini kita menjenguk bibi"
setelah selesai sarapan,mereka pergi menuju rumah bibi memboyong Dzakir serta baby sister nya,di perjalanan Maira berbicara pada Fariq kalo dia berjanji akan menghidupi anak-anak Ratna,Fariq pun tidak keberatan dia akan mendukung hal-hal baik.
di rumah,bibi sedang terbaring lemah,Rudi dan Budi pun menemani bibi,"bu...sebaiknya kita periksa ke dokter" ajak Budi.
bibi menggeleng,"tidak,ibu akan sembuh kalian jangan khawatir"
"tapi bu,kondisi ibu semakin memburuk" ucap Rudi.
"sebaiknya kalian pulang saja,kasian istri dan anak kalian menunggu di rumah,ibu tidak apa-apa"
"bu...istri kami mengerti dengan keadaan ibu,dan mereka juga akan ikut menemani ibu" tutur Rudi.
bibi tersenyum,"makasih nak...maafkan ibu sudah merepotkan kalian".
"tidak bu...ini sudah kewajiban kami" ucap Budi.
tiba-tiba saja suara pintu di ketuk,anak Ratna yang paling besar membukakan pintunya.
"assalamualaikum" ucap Maira dan Fariq.
"waalaikumsalam" jawab Rudi dan yang lainnya serentak.
"den Fariq...nona Maira" ucap Rudi,"silahkan masuk..." lanjutnya lagi.
Maira dan Fariq pun masuk,mereka di suguhkan kondisi bibi yang terbaring lemah,Maira mendekati bibi dia duduk dipinggir ranjang,"bi...maafkan aku baru bisa kesini" ucap Maira.
"tidak apa-apa non...bibi senang bisa bertemu nona,maaf ya bibi belum bisa bekerja lagi" ujar bibi.
"jangan pikirkan pekerjaan,lebih baik bibi pulihkan dulu kesehatannya" ucap Maira.
"den...maafkan bibi ya...sudah banyak salah sama aden dan nona" ucap bibi.
"tidak...bibi tidak pernah melakukan kesalahan,justru aku minta maaf selama bibi bekerja di rumah aku belum bisa menjadi majikan yang baik" tutur Fariq.
"den Fariq dan keluarga yang terbaik,tidak mungkin bibi bekerja di keluarga aden selama ini,itu karena bibi mendapatkan kenyamanan"
"apa bibi sudah di bawa ke dokter?" tanya Maira pada kedua anaknya.
"belum,kami sedang membujuk ibu,tapi ibu tidak mau" jawab Rudi.
"kenapa bi...?" tanya Maira.
"bibi baik-baik saja non"
"baik gimana,kondisi bibi saja seperti ini,sebaiknya kita ke rumah sakit saja ya...aku yang akan antar" ajak Maira.
bibi menggeleng,"makasih non,tapi bibi tidak mau merepotkan nona" ucap Bibi.
"engga kok bi,aku gak merasa di repot kan malahan aku senang" ujar Maira sambil melemparkan senyuman.
"kalau bibi gak kuat,sebaiknya aku panggil dokter saja untuk datang kesini" ujar Fariq.
"jangan den bibi tidak mau merepotkan,biar nanti saja Budi dan Rudi yang menemani bibi" ucap bibi.
"iya bu,apa yang dikatakan den Fariq benar" ucap Rudi,dan bibi pun mengangguk.
Fariq langsung menelepon rekan kerjanya,untuk meminta datang ke alamat yang sudah di berikan.
tidak lama kemudian,dokter pun datang dia langsung memeriksa bibi,"bagaimana dok keadaannya" tanya Fariq.
"paru-parunya terganggu dan asam lambungnya naik,harus banyak istirahat dan ini obat yang harus di beli" jelas dokter sambil memberikan resepnya pada Fariq.
"tapi kalo setelah obat habis dan kondisinya masih seperti ini,sebaiknya di bawa ke rumah sakit" lanjut dokter.
"iya dok,terima kasih"
"sama-sama,kapan dokter akan bekerja lagi?" tanya dokter itu pada Fariq.
"secepatnya..." jawab Fariq.
"ya...kami di rumah sakit sangat merindukan dokter Fariq,dan kami pun ikut bahagia atas kepulangan dokter dengan keadaan selamat" ucap dokter.
"makasih..."
"kalo begitu saya pamit"
"hati-hati di jalan" ucap Fariq sambil mengantarkan dokter itu sampai halaman rumah.
setelah benar-benar pergi,Fariq pun langsung masuk kedalam rumah,"siapa yang akan ke apotek untuk membeli obat?" tanya Fariq,Rudi menjawab," biar aku yang membelinya sekalian menjemput istri",Fariq pun memberikan resep dan beberapa lembar uang pada Rudi,sedangkan dia dan Maira pamit untuk pulang.
"bi...kami pulang,semoga bibi cepat pulih kembali" ucap Fariq.
"terima kasih banyak den,bibi sudah merepotkan aden"
"tidak bi,justru saya senang"
"tolong,kalo ada apa-apa pada bibi hubungi kami" ucap Fariq pada Budi.
"tentu den,kami akan memberitahu,kalau bukan pada aden lau kami mengadu pada siapa lagi,kami disini tidak punya sanak saudara" tutur Budi.
"oh ya...soal janji saya pada anak-anak Ratna,insyaallah setiap bulan akan saya transfer,dan saya titip mereka" timpal Maira.
"kalau begitu kami pergi" pamit Fariq.
setelah kepergian Maira Dan Fariq,bibi menangis dia merasa takut untuk meninggalkan kedua cucunya yang akan tumbuh tanpa ibunya,Budi yang menyadari tangisan ibunya langsung bertanya,"ibu kenapa,apa ada yang sakit?"
bibi menjawab,"tidak ada nak,ibu hanya merasa jika ibu meninggal,siapa yang akan menjaga keponakanmu,itu yang ibu takutkan".
"ibu jangan berpikir seperti itu,ibu akan sehat dan anak-anak Ratna kan ada aku juga Rudi" ujar Budi.
"ibu tidak mau membebani kalian,bukannya ibu tidak percaya,tapi untuk kehidupan kalian saja begitu susahnya apa lagi jika di tambah keponakan kalian"
"soal anak-anak Ratna kan tadi nona Maira akan mentransfernya setiap bulan,jadi kita merasa ringan bu"
"jangan berharap pada tangan orang lain,ibu yakin kalo nona Maira akan menepati janjinya tapi kita jangan terlalu berharap" jelas bibi,dan Budi pun tidak bergeming.
Maira dan Fariq masih dalam perjalanan,mereka berniat untuk bermalam di rumah Papa Ikbal,tapi tiba-tiba saja Maira teringat dengan Alif,dia merasa ingin berkunjung ke tempatnya.
Maira mencoba berbicara pada Fariq tapi tanggapannya seperti tidak menyetujui karena suasana yang masih hangat,Maira pun tidak tinggal diam dia menjelaskan keadaan Alif dan keluarganya yang sebenarnya pada Suaminya,dan pada akhirnya Fariq pun mengalah.
akan tetapi,sebelum mereka pergi menemui Alif,Fariq terlebih dahulu memberi tahu pada mertuanya untuk mengabulkan keinginan Istrinya,Papa Ikbal pun tidak bisa berbuat apa-apa kalo sudah bersangkutan dengan kemauan putrinya,akan tetapi Papa Ikbal membiarkan anak buahnya untuk selalu mengawasi kepergian Maira dan Fariq.
dan Fariq pun melajukan mobilnya untuk pergi menemui Alif,anak yang pernah membantu Istrinya untuk menyelamatkannya.
bersambung....