Humaira

Humaira
Bab 107 berkunjung



Hari sudah siang,Fariq sedang mengemasi barang-barang bibi di bantu Gilang untuk di berikan kepada kedua anaknya,karena Rudi dan Budi hari ini akan berkunjung ke rumah Fariq,sedangkan Maira dia sibuk memasak di dapur.


setelah Fariq selesai,dia dan Gilang langsung membersihkan kamar itu,"kenapa kamu tidak menyewa jasa saja?" tanya Gilang.


Fariq menjawab," tidak...aku ingin melakukannya sendiri".


"lalu barang-barang itu?"


"biarkan kedua anak bibi yang mengurusnya karena itu hak mereka"


di dapur,Maira selesai memasak dan dia langsung menghampiri Fariq dan Gilang.


"sebaiknya kita sarapan dulu,semuanya sudah di siapkan di meja"


"makasih sayang...sebentar lagi aku dan Gilang akan menyusul".


tidak menunggu lama mereka sudah berada di meja makan,Gilang yang tengah asyik menikmati masakan Maira tiba-tiba ponselnya berdering,saat dia melihat layar ponsel bibirnya langsung tersenyum,Fariq yang melihatnya bisa menebak kalo ada sesuatu yang di sembunyikan sahabatnya.


"simpan dulu ponselnya kasian nasinya ingin cepat-cepat masuk dalam perutmu" goda Fariq.


Gilang tidak mendengar ucapan Fariq,dia terlalu asyik membalas chattannya,Fariq dan Maira pun saling menoleh mereka merasa aneh pada Gilang.


"sayang...udah makan belum,kamu lagi ngapain" ledek Fariq dan Gilang pun kini sudah menyadarinya langsung tersenyum malu.


"kamu kenapa sih...?" tanya Fariq.


"maaf...maklum lagi kasmaran" jawab Gilang santai.


Maira dan Fariq pun tertegun,akhirnya sahabatnya bisa juga mempunyai seorang kekasih.


"alhamdulillah" ucap Maira.


Gilang mengernyitkan keningnya,"kenapa?" tanya Fariq.


"alhamdulillah kamu sekarang sudah gak jomblo lagi" kekeh Fariq dan Gilang pun tersenyum malu.


"iya riq...akhirnya aku tidak hanya merasakan tapi yakin akan memilikinya" ucap Gilang.


"kapan kamu akan mennghalalkannya?" tanya Fariq.


"secepatnya,aku akan kenalkan dia ke orang tua ku dulu" jawab Gilang.


"segeralah,kalo sudah nikah rasanya nikmat" bisik Fariq dan Maira pun mencubit perut Suaminya.


"awww...sakit..." rengek Fariq.


"habisnya ngomongnya mesum" ucap Maira.


Gilang pun terkekeh melihat sepasang suami istri sedang bertengkar lucu...


" kak...kapan kakak akan mengenalkannya pada kami?" tanya Maira pada Gilang.


"rencananya hari ini" jawab Gilang,Maira pun membulatkan matanya,"oh ya...kami tunggu mumpung Abi nya Dzakir ada di rumah" ujar Maira.


"ya...nanti aku akan menjemputnya".


Rudi dan Budi mereka sedang membesuk Ratna di sel tahanan,mereka memberi tahu Ratna kalo ibunya sudah meninggal,sontak Ratna histeris menangis,kedua kakaknya pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika polisi membawanya lagi ke dalam sel.


"ibu.....ibu....." panggil Ratna sambil berteriak.


semua tahanan hanya terdiam melihat tingkah laku Ratna yang histeris memanggil ibunya,"berisik sekali..." ketus salah seorang tahanan.


beberapa jam kemudian Ratna kini sudah bisa mengendalikan dirinya,dia mulai tenang dan dia mulai bisa memahami kalo itu sudah ketentuan tuhan.


"bu...maafkan aku..." lirih Ratna sambil terbaring lemas.


matanya sembab karena dia menangis terlalu lama,dan tiba-tiba saja dia menggigil kedinginan,teman satu selnya menyadari akan hal itu dia langsung menghampiri Ratna dan mencoba menempelkan tangannya di kening Ratna,"panas..." gumamnya,dan dia langsung memanggil penjaga dan memberi tahu kalo Ratna sakit.


"kami baru menemui Ratna dan memberitahunya kalo ibu sudah tiada,kami sedih melihatnya dia sangat terpukul saat mendengarnya" tutur Rudi.


"tapi aku yakin lambat laun dia akan menerima kenyataan" ucap Fariq.


"kami saja syok mendengarnya apa lagi Ratna" ujar Maira.


"ya sebaiknya kita doakan saja,dan jangan berlarut-larut dalam kesedihan",pesan Fariq.


Rudi dan Budi pun mereka meminta ijin untuk membawa barang-barang ibunya,dan Fariq pun memberikannya.


"saya sudah mengemasnya,kalian boleh bawa" ucap Fariq.


"terima kasih Tuan anda sudah bersikap baik terhadap ibu kami selama dia bekerja di sini,kalo bukan karena keluarga Tuan pasti Ibu sangat ke susahan untuk menghidupi kami" ucap Budi.


"sama-sama,aku juga sangat berhutang budi pada bibi,karena dia juga turut membantu mengurusku jadi sudah sepantasnya dia menerima semua kebaikan dari ku" ujar Fariq.


"iya Tuan..."


"oh ya...apa aku boleh bertemu dengan adik kalian?" tanya Maira pada Budi dan Rudi.


"tentu saja nona,kami tidak akan menghalangi nona untuk bertemu dengan Ratna" jawab Rudi.


"terima kasih,rencananya aku akan menemui dia siang ini,ada sesuatu yang harus aku sampaikan,bolehkan sayang?" tanya Maira pada Fariq,dan Fariq pun menganggukkan kepalanya.


setelah itu kedua adik kakak itu akhirnya pamit pulang,dan mereka kapan-kapan akan berkunjung lagi ke rumah Fariq,dan dengan senang hati Maira dan Fariq akan menyambutnya.


setelah mereka sudah pergi,Maira dan Fariq kini berada dikamar,"sayang...kamu yakin akan bertemu Ratna?" tanya Fariq.


"yakin sayang..." jawab Maira manja.


"baiklah jam berapa kita berangkat?"


"sebentar lagi aku mau mandi dulu"


"kalau begitu kita mandi bersama yuk" ajak Fariq dan menggoda Istrinya.


"ini kan masih siang sayang..." rengek Maira.


"kalo siang kenapa?"


"ih...kamu" ucap Maira manja saat tangan Fariq sudah menariknya kedalam kamar mandi,dan mereka pun mandi bersama sambil melakukan penyatuan di siang hari.


Maira dan Fariq sudah siap pergi,"teh...." panggil Maira pada baby sister nya," iya bu..."


"aku mau pergi keluar sebentar sama bapak,tolong jagain Dzakir ya" ucap Maira.


"iya bu..."


"kalau begitu saya pergi,Dzakir umma pergi dulu ya nak..." ucap Maira sambil mencium pipi anaknya,Maira dan Fariq pun pergi menemui Ratna.


Fariq melaju kan mobilnya,dia membelah jalan, udara yang sangat panas tidak membuat Maira mengurungkan niatnya,dia malah semangat ingin cepat-cepat bertemu dengan Ratna entah apa yang akan dia katakan jika bertemu dengan Ratna tapi yang pasti dia ingin berdamai dengan Ratna dan membuat Ratna sadar akan apa yang tuliskan takdir.


di dalam perjalanan Maira melihat ke arah jendela mobil,sepertinya dia sedang melamun karena di pikirannya sekarang adalah masa lalu suaminya,begitu banyak perempuan yang menyukai Fariq karena ketampanan dan keramahannya,sampai mereka ingin memiliki karena begitu bucin nya terhadap Suaminya.


bagi Maira justru itu adalah ujian hal tersulit,karena dia harus menghadapi perempuan-perempuan yang begitu gigih untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


dan Maira berharap dia akan selalu sabar menghadapi segalanya,dan dia sudah siap untuk menerima apa pun yang sudah menjadi resiko nya " beginilah kalo mempunyai Suami yang tampan dan ramah pasti wanita-wanita di sana berlomba-lomba mendapatkannya" ucap Maira dalam hati,sedangkan Fariq fokus menyetir.


bersambung....


jangan lupa sawerannya buat author...


dan makasih sudah setia membacanya ikuti terus sampai episode terakhir...