Humaira

Humaira
Palagan



Belum pernah Humaira semangatnya seperti hari ini. Seolah hendak menemui seorang yang dirindukan. Semua perlengkapan sudah disusun rapi. Pakaian untuk seminggu masuk koper. Koper baru. Dia baru membelinya dari toko online. Lumayan pikirnya lagi diskon.


"Mai .... kue sudah ummi bungkus, ya" Ummi membantunya berkemas-kemas.


Siang ini Humaira harus segera menuju hotel yang disediakan pemerintah. Perawat, dokter dan tenaga medis lainnya diberikan fasilitas selama wabah Covid 19. Perhatian yang perlu diapresiasi. Memang sudah seharusnya dilakukan oleh pemerintah.


Oya, Humaira sekamar dengan Santi. Santi anak seorang guru. Mereka baru kenal. Sejak dibukanya lowongan bertugas di rumah sakit darurat tersebut banyak menambah teman. Santi salah satunya. Dia tinggal di Depok. Humaira dan Santi sudah saling bertukar nomor handphone.


"Assalamualaikum .... " suara seseorang dari luar membuat mereka berdua berhenti berkemas.


Ummi membuka pintu. Seorang lelaki muda menyambutnya dengan senyuman. Ternyata lelaki itu, Handi. Handi menawarkan diri mengantar Humaira. Sebenarnya dia juga terkejut mendengar kabar ini. Tapi dia sangat menghargai keputusan Humaira. Baru kemarin dia mengatakan isi hatinya. Kini harus berpisah untuk suatu tujuan yang mulia.


Ummi menyilahkan Handi masuk. Sementara dia kembali ke kamar untuk memberi tahukan anak gadisnya.


Humaira keluar kamar menemui Handi.


"Hampir selesai, tunggu ya" Humaira ke dapur. Sebentar kemudian muncul lagi dengan membawa segelas air. Dia menyilahkan Handi untuk minum. Lalu ke kamar kembali untuk menyelesaikan berkemasnya.


"Aku sudah siap, Han" Humaira keluar dengan membawa koper dan tas ransel.


Handi membantunya membawa menuju mobil. Ummi mengikuti mereka berdua dari belakang. Selama perjalanan Humaira tak mau lepas dari pelukan ummi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia hanya ingin menikmati dekapan sang bunda. Handi sesekali mencuri pandang dari kaca spion. Ada kekhawatiran dalam hatinya.


Sesampainya di hotel Humaira langsung menuju resepsionis. Santi dan bundanya sudah menunggunya di lobby hotel. Humaira langsung memeluk Santi. Ssnti mengenalkan Humaira pada bundanya. Dia juga menyalami bundanya dan mencium tangannya.


Humaira juga mengenalkan ummi pada bunda Santi. Sebentar saja mereka berkenalan seperti sudah kenal lama. Bunda Santi pandai mengambil hati. Supel. Mudah mencari bahan obrolan. Mungkin karena dia guru.


"Mai .... kok abangmu tidak dikenalkan sih?" goda Santi. Pipi Humaira langsung merona merah.


Humaira mengajak Handi bergabung. Sedari tadi Handi duduk di depan mereka. Handi langsung berdiri dan menghampirinya.


" Bunda ... Santi, ini mas Handi" Humaira memperkenalkan Handi.


Handi menganggukkan kepala pada bunda dan Santi. Santi hampir saja menyodorkan tangannya. Dia obrolan dengan Humaira. Kalau dengan lelaki yang bukan muhrimnya tidak perlu berjabat tangan.


"Bunda .... ummi .... mas Handi, yuk kita makan dulu" ajak Santi karena waktu makan siang sudah hampir lewat.


Mereka memilih tempat dipinggir. Sambil makan mereka menetuskan obrolan. Tanpa terasa waktu makan dan obrolan mereka hampir habis. Santi dan Humaira harus bersiap berangkat tugas.


Santi dan Humaira bergegas menuju kamar. Sementara Bunda, Ummi dan Handi menuju mushollah untuk sholat zuhur.


"Ya Allah, Engkaulah yang Maha Pelindung. Lindungilah anakku, Humaira. Juga mereka yang berjuang melawan Corona. Aku serahkan sepenuhnya padaMu atas keselamatan anakku. Ampuni segala dosanya. Ringankan langkahnya dalam bertugas" Ummi khusyu berdoa untuk Humaira.


Ummi segera membereskan mukenanya. Bunda dan Handi sudah menunggu di teras mushollah. Mereka terlihat berbincang. Serius. Entah apa yang dibincangkan. Handi sesekali mengernyitkan dahi dan menganggukkan kepalanya. Ummi menghampiri mereka.


"Maaf ya, lama menunggu. Yuk ...." Ummi mengajak mereka kembali menuju lobby.


Ternyata benar. Humaira dan Santi sudah siap di lobby. Mereka akan diantar ke rumah sakit oleh mobil yang disediakan pemerintah. Mereka berdua hari ini mendapat tugas sore hingga besok pagi.


"Ummi ..... aku pamit ya" Humaira mencium tangan Ummi dan memeluknya. Dipandangi wajah ummi. Kembali mereka berpelukan.


"Selamat bertugas, ya sayang. Ummi hanya bisa mendoakan" Ummi kembali memeluk Humaira. Butiran airmatanya jatuh. Handi yang melihat peristiwa itu juga sedih. Tapi dia mencoba pasang wajah tegar.


Pemandangan yang sama terjadi juga pada Santi dan bundanya. Kedua ibu seakan berat untuk melepas anak mereka. Inginnya mereka menemani.


"Mas, titip ummi ya. Kalau ada yang penting telepon aku" pintanya pada Handi.


"Ya, insyaallah aku akan menjaga ummi. Jangan khawatirkan ummi ..." Handi menjamin ummi agar Humaira tenang.


Humaira dan Santi menuju mobil jemputan. Ummi, bunda dan Handi mengikuti dari belakang. Sebelum masuk ke mobil, Humaira dan Santi kembali memeluk ibu mereka. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir mereka.


Lambaian tangan mengiringi kepergian mereka. Ummi, bunda dan Handi masih berdiri di depan pintu masuk hotel. Melepas kepergian mereka sampai mobil jemputan itu menghilang dari pandangan.