
Hari ini rencananya Ummi mau belanja ke pasar. Besok penutupan pengajian di mushollah Al Abror. Ummi kebagian kue sebanyak anggota majelis taklim.
Tapi hatinya tergerak untuk mengaktifkan televisi. Dia pencet tombol power. Langsung tersambung ke saluran salah satu televisi favoritnya. televisi menayangkan sebuh berita penting dan besar. berita seperti yang disampaikan oleh ustadzah Zubaidah, Corona.
"Humaira"
"Mai .... cepat kesini"
Humaira sedang di dapur. Ummi memanggilnya seolah ada sesuatu yang menghebohkan. Ia segera menuju ruang depan.
"Ada apa ummi?" Tanya Humaira penasaran. Wajahnya dipalingkan ke arah televisi.
Salah satu stasiun televisi nasional memberitakan kasus pertama Corona. Awal Maret yang menggemparkan. Berita yang ditunggu-tunggu publik nasional dan internasional. Pengumuman langsung disampaikan oleh Presiden. Presiden didampingi Menteri Kesehatan menjelaskan kasus pertama Corona. Dua orang sekaligus, ibu dan anak. Mereka tertular saat mengikuti sebuah acara, semacam gala dinner, pesta. Tertular dari orang asing yang ikut hadir.
"Benar itu, Mai?" Ummi butuh jawaban Humaira untuk meyakinkan dirinya. Humaira hanya menganggukan kepalanya. Sebenarnya dia juga baru tahu kabar itu. Jawabannya sekedar menenangkan Ummi yang cemas.
"Tapi jangan cemas, ummi. Asal kita menjaga kebersihan dan asupan yang bergizi, Insyaalloh kita aman" Humaira mengambil handphonenya memesan ojek online langganannya. Kemudian duduk di samping ummi.
"Ya, tetap saja ummi takut. Beritanya sudah menakutkan begitu" ummi tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Berita tentang korban Corona yang meninggal masih terbayang-bayang. Kecemasannya bertambah karena korban yang meninggal kebanyakan orang yang sudah tua. Nah, secara ummi usianya sudah di atas lima puluh tahun.
Bagaimana kalau benar ia terpapar virus itu? Bagaimana nasib Humaira? Ia anak tunggal tidak punya saudara. Ayah dan ummi juga anak tunggal.
Ya Allah ..... jangan biarkan wabah penyakit ini meluas di Indonesia. Ummi berdoa dalam hati. Dipandanginya Humaira lama sekali. Mutiara kesayangannya.
"Ummi, kenapa?" Humaira sadar kalau diperhatikan umminya.
"Jaga diri dan kesehatan, ya" Ada kecemasan di wajahnya.
"Ya, ummi. Pesan ummi akan selalu aku lakukan" Humaira memeluk umminya.
"Ummi mau bareng aku, nanti kita pisah di pasar" Humaira menawarkan diri pada umminya.
"Tidak usah. Lagi pula ummi belum mandi dan sholat Ashar. Kau berangkat saja duluan. Nanti telat lho ...."
"Aku rindu ayah, ummi" Humaira kembali memeluk umminya.
Keduanya berpelukan erat. Cukup lama. Umminya menepuk-nepuk punggung anak gadisnya. Dia memaklumi kerinduan Humaira. Anak yang selalu dimanja ayahnya. Selalu cerita apa saja saat mereka berkumpul. Kini tempat bercanda tinggal ummi. Tidak jarang mereka menangis bersama menumpahkan kerinduan dengan lelaki yang mereka sayangi.
"Sudah ya, nanti kamu telat loh" ummi mengingatkan Humaira.
Humaira menyeka airmatanya. Ia menganggukkan kepala dan tersenyum. Kakinya dilangkahkan menuju kamar. Tidak lama ia keluar sudah berganti pakaian. Siap berangkat menuju rumah sakit. Wanita sederhana. Tidak suka berhias yang berlebihan.
Bunyi klakson ojek online terdengar dari luar.
Tanda ojek online langganannya sudah di lokasi.
"Aku berangkat ya, ummi. Tidak usah terlalu dipikirkan berita di televisi tadi. Kita akan baik-baik saja. Percaya deh"
Ah .... ummi menghela nafasnya. Ia mengkhawatirkan Humaira. Bukan dirinya. Jika Allah menghendakinya, ia ridho. Tapi bagaimana dengan Humaira. Ia khawatir sekali. Dan, Humaira tidak sadar apa yang dikhawatirkan ummi.
"Pergilah, tugas mulia sudah menantimu. Jangan lupa basmallah" ummi memeluk dan mengecup kening Humaira.
Momen seperti inilah yang dikawatirkan ummi. Dia melihat pancaran kebahagiaan di wajah anaknya. Semangat yang ditanamkan almarhum suaminya terlihat hasilnya. Humaira menjadi wanita yang tangguh. Padahal dia anak yang manja.
Humaira melangkahkan kakinya keluar. Pamit. Ummi mengikutinya dari belakang. Humaira berbalik. Ia kembali memeluk umminya. Dicium tangan umminya berkali-kali. Tidak biasanya
"Assalamualaikum ...." Humaira pamit.