
Bibi kini sudah berada di rumahnya,dia sedang menceritakan masalah yang sedang di alami majikannya termasuk masalah Ratna,kedua anaknya pun setia mendengarkan cerita ibu nya.
"bu...tapi bagaimana pun Ratna adalah saudara kita,anak kandung ibu kami tidak mau kalo mereka berbuat seenaknya kalo Ratna memang bersalah" ucap anak pertama bibi namanya budi.
"iya...bu apa ibu tidak sakit hati kalo nanti aa yang akan terjadi pada Ratna" timpal rudi anak kedua bibi.
bibi menghela nafas,"apa kalian akan melindungi penjahat walaupun itu ibu sendiri?" tanya bibi pada kedua putranya.
"sudah pasti ibu sayang pada Ratna dan ibu tidak mau dia kenapa-kenapa tapi ibu tidak bisa membiarkan dia seperti itu karena ibu tidak pernah mendidik kalian untuk melakukan perbuatan kejahatan,setiap apa yang kita perbuat pasti akan ada balasannya,lagi pula ibu sudah pernah memperingatkannya tapi adik kalian tidak pernah menurut apa kata ibu".
"asal kalian tahu ibu sangat menyesal sudah membawa Ratna bekerja bersama ibu,karena dia sudah mempermalukan ibu dan juga mempermalukan dirinya sendiri" jelas bibi yang kini bicara sambil menangis,dia merasa kecewa terhadap perilaku anak perempuannya apa lagi kalo memang benar hilangnya Fariq ada sangkutannya dengan anaknya.
Rudi pun memeluk ibunya dan berkata,"maafkan kami sudah menjadi kakak yang tidak berguna,tapi kami janji akan membantu pencarian den Fariq".
"makasih kalian sudah sedikit meringankan beban ibu" ucap bibi.
"lalu kami harus bagaimana?" tanya Budi.
bibi balik bertanya," apa kalian tahu dimana keberadaan adik kalian?".
Rudi dan Budi saling menatap,"kami tidak tahu,terakhir kali dia pamit untuk pergi ke singapura" jawab Budi.
"iya bu dia bilang juga seperti itu padaku" ucap Rudi.
bibi sedikit berfikir,apa mungkin Ratna memang benar jadi TKW.
tiba-tiba saja anak sulung Ratna menghampiri mereka ketika mendengarkan apa yang dikatakan pengawal tadi," nenek..." sapa anak sulung Ratna.
"minggu lalu aku pernah melihat ibu" ucap anak sulung Ratna.
semua tertuju pada ucapannya,"dimana kamu bertemu dengan ibumu?" tanya Budi.
"di gang dekat sekolah,tapi dia pergi naik mobil bersama bang gobang"
" gobang..." ucap ketiganya serentak...
gobang adalah seorang preman kelas kakap,anak buahnya dimana-mana sampai orang yang pernah berurusan dengannya bisa-bisa kehilangan nyawa.
sedari tadi pengawal yang bersama bibi mendengarkan hal itu langsung mengabari pada bosnya tentang Ratna,karena dia di utus untuk mengawasi keluarga target.
"kenapa dia bersama orang itu?" tanya bibi pada kedua anaknya.
"apa mungkin Ratna menjadi simpanannya?karena gobang dari dulu selalu mengejar-ngejarnya" ucap Rudi.
"kamu jangan asal bicara Rudi..." ucap Budi.
"sebaiknya kita pergi menemui majikan ibu,kita beritahu soal ini" ujar bibi.
"bu...jangan gegabah belum tentu Ratna melakukan hal itu" ucap Budi.
"tapi kak...apa yang dikatakan ibu benar,tidak ada salahnya kita memberi tahu mereka,sebelum semuanya terlambat,lagi pula kita tidak mau kalo Ratna berurusan dengan preman itu" timpal Rudi.
Budi pun berpikir dan pada akhirnya dia menyutujui nya,dan mereka pun pergi ke rumah Maira.
di kediaman Maira,semuanya sudah berkumpul termasuk Riana,Lea dan Cahaya mereka juga sudah berada di rumah Maira.
mereka sedang membicarakan soal Ratna yang tidak ada dalam daftar pemberangkatan TKW ke singapura.
"apa ada kabar lagi?" tanya Fahmi pada Sandi yang baru saja menerima telepon dari Pengawalnya yang menemani bibi.
semuanya lega karena sedikit demi sedikit mereka akan mandapat celah walaupun belum pasti kalo Ratna adalah dalangnya.
setelah beberapa jam,bibi dan kedua putranya kini sudah sampai di kediaman majikannya,dan mereka pun langsung di sambut dengan ramah oleh Maira.
"apa ada kabar bi?" tanya Maira.
seketika bibi melihat ke arah Budi dan Rudi berharap mereka menjelaskannya,Budi selaku anak sulungnya langsung membuka pembicaraan,"maaf nona kami kakak dari Ratna,kami hanya ingin memberi tahu kalo Ratna tidak pergi ke singapura".
"kami sudah tahu itu,tapi kenapa kalian tidak memberi tahu dari awal" timpal Sandi datar.
"kami juga baru tahu dari keponakan kami" ujar Rudi.
"lalu apa kalian tahu keberadaannya?" tanya Gilang.
mereka menggeleng,"kami tidak tahu,tapi kami mempunyai Informasi dan kami akan memberitahu" ucap Budi.
"ayo katakan jangan membuat kami menunggu" ucap Gilang.
"tapi ada syaratnya" ujar Budi.
dengan kesal Sandi berkata," apa kalian meminta kompensasi?"
"maafkan kami Tuan..." ucap Rudi.
Sandi pun dengan kasar menarik kerah Rudi sampai dia terbangun dari duduknya,"katakan atau kau akan mati ditangan ku" bisik Sandi.
"cukup Sandi lepaskan dia" perintah Papa Ikbal.
Sandi pun melepaskannya dan dia kini agak menjauh.
"katakanlah berapa yang kau inginkan?" tanya Papa Ikbal.
Budi menjawab," bukan itu yang kami mau,tapi kami ingin kalian melepaskan adik kami".
"itu tergantung nanti,kalo adik kalian bersalah aku tidak akan sungkan-sungkan menghukumnya" ujar Sandi kesal.
Rudi dan Budi pun membeku mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan hidup adiknya,dan keduanya pun langsung melihat ke arah ibunya yang sedari tadi menunduk.
Maira yang melihat ke arah bibi pun tidak tega,dia langsung menghampiri bibi dan duduk disampingnya,bibi yang menyadari hal itu langsung turun kebawah dan duduk di lantai tapi bibi menahannya," tetap seperti ini bi..." ucap Maira,bibi pun menurut,kini Maira menggenggam tangan bibi lalu berkata," aku tahu bibi sangat menyayangi anak-anak bibi,tidak ada ibu yang tega melihat anaknya sengsara...katakanlah apa yang bibi mau?" tanya Maira.
bibi menggeleng seraya menjawab,"tidak non bibi tidak mau apa-apa".
"jangan berbohong bi,aku sudah tahu dari sorot mata bibi,jangan sembunyikan ini padaku" ucap Maira.
"non...bagi bibi keutuhan keluarga nona yang utama,masalah Ratna jangan dipikirkan jika kalo dia bersalah itu sudah menjadi hukumannya" jelas bibi.
Maira langsung melihat ke arah Rudi dan Budi,"apa kalian takut Ratna masuk penjara jika dia bersalah?" tanya Maira.
"iya itu alasannya,bagaimana pun dia adalah adik kami,dan anak-anaknya masih membutuhkannya" jawab Budi.
"itu sudah resikonya" timpal Sandi.
"sudah kak..." ucap Maira.
Maira menghela nafasnya lalu berkata," baiklah,jika dia bersalah aku tidak akan bertanggung jawab atas kesalahannya hanya pihak yang berwajib yang akan menentukan karena itu suatu keharusan,tapi di sisi itu aku tidak akan membiarkan anak-anaknya terlantar,bagaimana apa kalian setuju?"
mereka berdua saling pandang dan memutuskan untuk bersepakat dengan ucapan Maira.