Humaira

Humaira
Bab 48 tamparan fariq



"aaakh..." karin berteriak kenapa sahabatnya tidak mendukung dia dengan fariq bersatu,karin merasa dia sudah kehilangan semuanya,sahabat dan pujaan hatinya.


sekilas karin membayangkan masa-masa sekolah tingkat menengah bersama fariq dan gilang,terlihat 3 orang murid smp sedang makan baso di pinggir jalan.


"riq...aku yang traktir ya .." ucap karin.


fariq dan gilang saling menatap,"oke...makasih ya teraktirannya..." ujar gilang sambil memakan baso.


"enak aja,kamu bayar sendiri...aku cuman bayarin fariq pacar aku..." ucap karin pede.


fariq langsung batuk mendengar ucapan karin


"uhuk...uhuk..."


"kamu kenapa riq...?" tanya karin sambil mengusap punggung fariq.


"engga..." fariq berdiri langsung menghampiri tukang baso," ini pak uangnya sekalian dengan kedua teman saya kembaliannya buat bapak saja" ucap fariq.


"riq....aku bi..." ucapan maira di potong fariq.


"rin...aku bukan pacar kamu jangan ucapkan itu lagi..." fariq pergi meninggalkan karin dan gilang.


"riq...nanti aku nyusul..." teriak gilang.


karin diam,dia sangat patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan,karin melirik gilang yang sudah menghabiskan basonya.


"kamu jangan berharap banyak nanti sakit sendiri,kita anak sekolah lebih baik fokus sama belajar" ucap gilang dan pergi meninggalkan karin.


teringat itu semua karin menangis sejadi- jadinya untung saja apartemen karin kedap suara...


karin sedang berfikir keras bagaimana memisahkan fariq dan istrinya,cintanya pada fariq berubah menjadi balas dendam karena dia merasa fariq sudah menghancurkan cintanya.


"lihat saja...aku akan membuat kamu menderita..." ucap karin licik.


dirumah sakit maira,sandi dan papah ikbal sedang mengobrol,papah ikbal menceritakan perjalanan hidupnya sampai sekarang ini.


maira juga berdecak kagum pada papahnya atas kerja kerasnya yang sekarang ini menjadi pengusaha terkaya,hanya saja baru kali ini maira bertemu dengan papah dan kakaknya.


"pah...maira boleh minta sesuatu gak?"


"apa sayang...katakanlah papah akan mengabulkannya" jawab papah ikbal.


"maira mau tes DNA"


sandi dan papahnya terdiam mendengar ucapan maira.


"tapi maaf bukannya maira ragu tapi hanya ingin meyakinkan kalo maira benar-benar anak papah" lanjut maira.


"baiklah papah ikut kamu saja,bagaimana sandi...?"


"iya sandi juga setuju..."


"makasih pah...kak..."


"ehm...bagaimana kalo sekalian saja sama anak kamu sandi..." ucap papahnya pada sandi.


maira mengerutkan keningnya.


"papah sudah tahu tentang cahaya,kemarin kakak yang kasih tahu" ujar sandi.


"oh...syukurlah maira ikut senang sebentar lagi keluarga kita akan berkumpul" ucap maira,sandi dan papahnya pun tersenyum bahagia.


setelah berbincang maira dan sandi pamit pada papahnya untuk membeli cemilan,sedangkan papah ikbal menemani riana sambil mengajaknya berbicara,papah ikbal teramat sayang pada riana karena pengorbanan cinta sang menantu untuk anaknya sandi.


"memangnya kamu tidak suka?" sandi balik tanya.


maira menjawab," bukan seperti itu kalo rambut kakak pendek kan terlihat rapi,tidak seperti ini kaya buntut kuda" mereka pun tertawa sambil berjalan,terlihat sepasang mata sedang melihat kedekatan keduanya,tadinya karin hanya ingin bertemu fariq tapi saat dia melihat maira,dia langsung beraksi.


saat maira dan fariq keluar dari kantin rumah sakit,seseorang bertepuk tangan menghentikan langkah keduanya.


"wow...sungguh pemandangan yang menakjubkan,seorang perempuan bersuami sedang berjalan bersama laki-laki lain" ucapnya.


"dia siapa maira...kamu kenal dia?" tanya sandi pada maira.


"iya kak...maira mengenalnya" jawab maira dengan rasa takut,takut karin bertingkah lagi saat dia melakukannya pada maira waktu itu.


"ayo kak...kita pergi" ajak maira meligkarkan tangannya ke lengan sandi.


"berhenti wanita murahan..."teriak karin sontak saja mata semua orang tertuju pada mereka.


"apa kau bilang...?" tanya sandi melotot pada karin.


" sudah kak...kita pergi saja " maira mencegah kakaknya agar tidak terpancing emosi.


sandi memegang tangan maira untuk membawanya pergi,tapi tangan karin sudah mengambil paksa kerudung maira,"buka topengmu?"


"aah..." maira menjerit ketika kerudungnya terlepas dia langsung menutupi rambut yang terurai dengan tangannya sambil menangis.


"apa yang sudah kau lakukan?" teriak sandi pada karin.


sandi langsung membuka jas dan menutupi kepala maira,sandi lalu menghampiri karin.


"kau punya urusan apa dengan maira...?" tanya sandi pada karin.


"kau tidak perlu tahu...aku hanya mengingatkanmu jauhi wanita j***g ini karena dia sudah bersuami"


sandi semakin geram mendengar kata-kata j***g yang di tujukkan pada adiknya.


sandi menoleh kebelakang tedapat maira yang masih berdiri di belakangnya.


"ingat jangan sentuh dia...kalau sekali lagi kau menyentuhnya aku tidak akan tinggal diam" sandi mengingatkan karin dan beranjak pergi sambil menggandeng maira.


karin menghiraukan ucapan sandi karena emosi sudah menguasainya dia menarik tubuh maira dan memukul kepala maira dengan tasnya.


sandi pun kewalahan tidak bisa melindungi adiknya.


buuk...buuk...


"rasakan,ini tidak sepadan dengan sakitnya hatiku..."ucap karin.


dua orang satpam menghampiri karin yang sedang melayangkan pukulan pada maira.


"hentikan...jangan buat keributan disini..." ucap salah seorang satpam.


sandi memeluk maira yang sudah kelelahan akibat pukulan karin.


"lepaskan...aku harus membuatnya menderita" teriak karin.


tiba- tiba sebuah tamparan melayang ke pipi karin,karin pun berhenti meronta,terlihat fariq sudah berada di hadapannya dengan mata memerah.


"hentikan karin kali ini tidak ada ampun lagi bagi mu,bawa dia ke ruangan interogasi dan panggil pihak kepolisian kesini" ucap fariq sambil melihat tajam pada karin.


kedua satpam langsung membawa karin,fariq melihat keadaan istrinya,dan mendekati maira lalu memeluk maira,saat itu juga maira ambruk.


bersambung...