
"Huff .... wow!" Humaira agak terkejut melihat ruangan IGD sudah berubah.
"Mai ................!" Panggil seseorang.
Humairah menoleh sambil melambaikan tangan. Rupanya Suci.
"Ditunggu dokter Fahri"
Humaira mengangguk. Ia mempercepat langkah kakinya. Tidak biasanya dokter Fahri lebih cepat datangnya.
Intensitas kesibukan di rumah sakit hari ini mulai meningkat. Pihak rumah sakit sudah mulai menyiapkan diri menerima pasien terduga terpapar Covid-19. Ruang IGD diperluas. Dibagi dua untuk pelayanan reguler dan ODP. Keduanya dibatasi dinding yang dibuat dadakan. Kamar inap juga disediakan khusus digedung A. Sebagian pasien gedung A sudah dipindahkan ke gedung B.
Sore ini seperti biasanya, Humaira menemani Dokter Fahri. Dokter senior yang satu ini termasuk banyak pasiennya. Dokter yang patut diteladani. Datang ke rumah sakit tepat waktu. Padahal rumahnya di Bogor. Ciomas tepatnya. Telaten melayani pasien. Satu lagi, super ramah. Sebagai dokter dia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya. Justru sebaliknya memotivasi mereka untuk yakin sembuh.
"Wah, jumpa lagi kita ya, bu Grace. Kenapa-kenapa ini, sore-sore sydah bertemu saya?" Tanya Dokter Fahri pada pasien langganannya.
"Biasa dokter, sudah dua bulan ndak jumpa, kangen" jawab suami bu Grace enteng.
"Hehehe sampai begitu kangennya ya"
"Biasa dok, nafas saya sesak dan batuk-batuk" jelas bu Grace soal penyakitnya.
Dokter Fahri mengernyitkan dahinya sambil memandang bu Grace.
"Hanya itu?" Tanyanya penuh selidik.
"Boleh tahu sudah berapa hari ibu mengalaminya?"
"Tiga hari ini, dok. Memang kenapa dok?" Bu Grace balik tanya.
"Ibu dan bapak sebelumnya pernah bepergian keluar negeri?" Pertanyaan di luar dugaan. Pasangan itu saling bertatapan.
"Minggu lalu kami dari Italia, mengunjungi anak kami yang sedang kuliah disain" jawab sang suami.
Dokter Fahri menganggukkan kepalanya. Humaira yang berada tidak jauh dari mereka, mengamati. Dokter membuat memo. Tulisannya tak bisa dibaca orang biasa. Selain menulis memo, dia juga menuliskan resep.
Dokter Fahri senyum. Dia menyerahkan memo dan resep sambil menjelaskan obat yang harus diminum. Untuk memo dia menjelaskannya dengan hati-hati.
"Begini bu Grace. Ibu harus diperiksa secara khusus. Italia sedang terjangkit virus Corona. Penyebarannya cepat bisa siapa saja terpapar. Salah satu cirinya adalah demam, pilek dan batuk kering. Untuk memastikannya ibu harus periksa lab. Kalau bisa sore ini. Ibu silakan ke UGD. Disana sudah disiapkan dokter-dokter yang menanganinya" jelas dokter Fahri.
"Jadi istri saya terpapar Corona, dok?"
"Saya tidak mengatakan demikian. Sebagai tindakan prefentif perlu diperiksa secara lab. Agar dapat dilakukan tindakan medis selanjutnya" sabar dokter Fahri menjelaskan agar tidak panik.
Bu Grace bangun dari duduknya diikuti suami.
"Dok, doakan kami agar tidak terpapar ya"
"Semoga flu biasa, ya bu Grace" seperti biasa senyumnya mengembang.
Humaira menghampiri.
"Dok, bu Grace pasien terakhir" ia memberitahu dokter Fahri.
Dokter Fahri meminta Humaira menyemprotkan disinfektan untuk ruangan mereka. Setelah disemprot, ia mengajak Humaira bincang-bincang.
"Humaira, sebentar, duduk dulu disini" dokter menujukkan kursi yang harus diduduki.
"Bu Grace kelihatannya sudah terpapar. Apalagi mereka baru pulang dari Italia. Kabarnya di sana juga sudah banyak korbannya. Makanya saya minta ruangan ini disemprot" Dokter Fahri menjelaskan srbrlum Humaira bertanya.
"Begini, nampaknya penyebaran virus ini sangat masif. Hari ini sudah ratusan orang yang terpapar. Jika negara membutuhkan tenagamu apa kamu siap?"
Humaira tersenyum. Ia tidak langsung menjawab. Ia teringat pesan ayahnya. Bahwa menjadi perawat adalah menjadi pejuang kesehatan. Tidak boleh pilih kasih. Tidak boleh pula menolak tanggung jawab. Kapanpun harus siap bila dibutuhkan.
"Humaira kamu siap?" Dokter Fahri bertanya lagi.
"Siap dokter!" Tegas Humaira menjawab.