
sementara Ruby yang telah selesai merapikan diri dan memakai gaun terbaiknya malam ini telah duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke halaman depan mension sambil menunggu aleska yang tidak kunjung datang.
"apa yang di lakukan nya hingga sampai sekarang masih belum datang, apakah dia lupa kalau sudah mengajak ku untuk keluar makan malam hari ini" ucap Ruby kepada dirinya sendiri dengan rasa sedikit kecewa.
*****
tapi tiba tiba handphonenya yang berada di atas meja di sampingnya berdering.
Ruby menoleh ke samping untuk melihat layar handphonenya itu, tapi itu hanya nomor yang tidak di kenal, dia berusaha mendekat dan meraih ponselnya.
"hallo?"
"ya, apakah ini Ruby?" tanya suara seorang wanita di ujung telepon nya.
"benar, saya Ruby" jawab Ruby membenarkan.
"syukurlah, ini Tante sayang" ucapnya, yang ternyata dia adalah Camelia istri dari Carl.
wajah Ruby yang tadinya lesu kini seketika berubah menjadi cerah mendengar suara nyonya Camelia.
"benarkah ini Tante?" tanyanya lagi memastikan.
"benar sayang, apakah sekarang kamu sibuk?" tanya nyonya Carllyss itu kepada Ruby.
"tidak Tante aku sekarang sama sekali tidak sibuk hanya sedang menunggu seseorang yang mungkin telah melupakan janjinya" keluh Ruby kepada nyonya Carllyss dengan nada bicaranya yang awalnya terdengar ceria sekarang berubah terdengar sedikit sendu.
Camelia langsung terbayang wajah cemberut Ruby saat mengatakan kalimat itu.
"oh betapa lucunya" batin Camelia.
"sayang apakah sekarang kamu sedang menunggu seseorang?" tanyanya dengan nada yang penuh perhatian.
"benar Tante, aku sedang menunggu kak Aleska, tapi Tante tidak perlu khawatir dia pasti akan datang." ucap Ruby dengan penuh keyakinan.
"begitu kah, sepertinya hubungan kalian berdua sangat dekat" kata nyonya Carllyss itu menebak.
"tidak Tante, dia adalah orang yang sangat dingin, lihat saja sampai sekarang dia masih belum datang setelah membuat janji" ucap gadis itu dengan sedikit nada kesal yang terdengar pada suaranya.
nyonya Carlyyss tersenyum mendengar semua perkataan Ruby dan berkata.
"sayang, sepertinya kamu sangat menyayangi kakak laki laki mu Aleska" kata nyonya Carllyss.
tepat saat nyonya Carllyss mengatakan itu Aleska datang ke kamar Ruby.
dia langsung membuka pintu dan berjalan kearah Ruby dengan langkah besar.
sementara Ruby yang mendengar suara pintu kamarnya di buka berbalik menoleh ke belakang melihat siapa yang datang.
Ruby melihat Aleska berjalan menuju ke arahnya tanpa niat untuk berhenti.
seketika tubuh kecilnya sudah berada dalam pelukan pemuda itu. dengan tetap memegang handphone nya yang masih menyala.
untuk beberapa saat mereka berdua hanya terdiam, Ruby juga telah melupakan jika dia sedang berada dalam panggilan telefon dengan nyonya Carllyss.
"Aska? apakah terjadi sesuatu?" tanya Ruby kepada kakak laki lakinya dengan tubuhnya yang masih berada dalam pelukan Aleska.
yang sekarang sudah mulai di panggilnya dengan aska jika dia sedang kesal dengan pemuda itu.
"ya, aku juga berharap terjadi sesuatu" ucap Aleska spontan sambil membayangkan pembicaraan nya dengan Mike barusan.
dengan posisi tangannya yang masih di belakang kepala Ruby dan dagunya yang berada tepat di atas kepala gadis itu.
"apa yang sedang kamu bicarakan?" tanya Ruby yang sekarang sudah mulai kembali sadar dan berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Aleska.
"apakah kamu sudah menunggu lama?" tanya Aleska dengan lembut dengan mengabaikan pertanyaan Ruby.
"ya, aku sudah menunggu hingga berjamur, aku kira kakak tidak akan datang karena melupakan janji kakak" omel Ruby sambil sedikit menengadah menatap ke arah Aleska karena sekarang tubuhnya sudah bebas dari pelukan pemuda jangkung itu.
"maaf kan aku" ucap Aleska mengalah, untuk membujuk gadis itu.
"hmmm ya udah, ayo kita pergi sekarang" sambung Aleska.
"ya tuhan, kakak tunggu sebentar, aku melupakan sesuatu" ucap Ruby tiba-tiba sambil melihat ke arah handphone yang masih ada di genggamannya.
dia kembali ingat jika dia masih berada di panggilan bersama nyonya Carllyss.
"hallo Tante?" ucap Ruby dengan hati hati.
"hallo sayang, apakah kamu ingin pergi sekarang?" tanya nyonya Carllyss dengan lembut.
"benar Tante" jawab Ruby dengan sedikit canggung.
"kalau begitu hati hati di jalan, lain kali Tante juga akan mengajak kamu untuk makan malam bersama" ucap nyonya Carllyss sambil tersenyum.
"baik Tante, nanti akan Ruby telfon lagi" ucap Ruby.
"baiklah sayang"
"bye Tante" ucap Ruby ingin Mengakhiri panggilan.
"bye sayang" tutup Camelia.
setelah mematikan telfon nya ruby melihat ke arah Aleska.
"kakak kenapa?" tanyanya yang melihat Aleska menatapnya.
"hmm tidak, ayo pergi" ajak Aleska.
"hmm ayooook" ucap Ruby bersemangat
Aleska membalikan badannya pergi dari sana tapi saat sebelum dia membuka pintu dia di panggil oleh Ruby.
"kakak,?
mendengar suara Ruby memanggilnya, Aleska menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"ada apa?" tanyanya.
"kakak, apakah tadi terjadi sesuatu?" tanya Ruby, karena dia merasa sedikit aneh dengan perlakuan Aleska, awalnya saat pertama kali dia datang Aleska langsung memeluknya.
tapi setelah Ruby kembali berbicara di telfon dengan nyonya Carllyss dia tiba tiba kembali bersikap dingin, tapi dia juga tidak bertanya kepadanya apa apa ataupun tentang dengan siapa dia berkomunikasi barusan.
tapi entah kenapa Ruby merasa tidak tenang oleh sikap Aleska yang tiba tiba saja berubah dari hangat kembali menjadi dingin kepadanya jadi dia memutuskan untuk bertanya.
"kakak, apakah kamu marah kepada ku? kerena berkomunikasi dengan keluarga Carllyss apakah kakak tidak menyukai mereka?" akhirnya Ruby memutuskan untuk bertanya.
"tentu saja tidak, ayo kita pergi" jawab Aleska singkat.
dalam hati Aleska, kali ini dia benar benar tidak merasa marah jika Ruby berhubungan dekat dengan mereka dari keluarga carllyss tapi tetap saja dia juga tidak rela melihat gadis yang di sayangnya dekat dengan orang lain. jika benar apa yang di katakan oleh Mike dia akan bahagia, tapi sekaligus dia merasa takut jika keluarga itu mengambil Ruby dari nya, dia terus saja merasa gelisah.
"baik" Ruby berjalan mendekat ke arah Aleska dan berjalan di sampingnya.
*
sementara di desa kecil di pinggir kota dekat dengan pegunungan dan hutan yang masih asri.
malam itu Tommy terlihat sedang sibuk menimba air sumur, untuk keperluan mereka yang nantinya akan banyak memerlukan air bersih.
tiba tiba seseorang datang dan memanggil namanya dari belakangnya.
"Tommy? ayo kita makan malam, jangan hanya sibuk bekerja, ini sudah waktunya untuk istirahat" panggil nyonya Anny.
"baik nyonya " jawab Tommy.
Tommy meletakkan ember di tangan nya dan berjalan masuk kedalam rumah yang terlihat masih sedikit berantakan karena mereka baru saja pindah ke rumah itu.
*beberapa hari sebelumnya
saat itu Tommy kembali ke rumah dimana nyonya Anny dan putrinya tinggal saat merawat dia waktu sakit, tapi rumah itu sudah kosong, terlihat tidak ada jejak sama sekali yang di tinggalkan oleh tuan rumah yang tinggal di sana sebelumnya.
*hy reader tercinta,🥰
jika kalian sudah membaca sampai bab ini, aku harap kalian meninggalkan komentar, like, dan vote ya, biar author memiliki HARAPAN untuk terus menulis karyanya.
terimakasih.
salam hangat dari Author🤗