
mobil Devano memasuki gerbang mension utama.
setelah memarkir mobil Devano keluar dari mobilnya dengan lesu.
dia berjalan masuk kedalam rumah.
sedangkan nyonya Amanda yang tengah berada dalam panggilan telephon dengan mamanya, dia terlihat dalam suasana hati yang bagus sambil duduk di pendopo taman samping mension sambil menikmati teh sore harinya.
"tentu saja berhasil, Devano adalah satu satunya putraku yang dapat di andalkan, mama lihat, baru tadi pagi aku mengeluh kepadanya tentang berita yang di hilangkan itu, lihat sekarang bahkan beritanya lebih heboh dari sebelumnya" ucap Amanda kepada mamanya di ujung telfon.
mendengar suara mobil seseorang yang datang Amanda mengalihkan perhatiannya kepada mobil yang baru saja masuk ke pekarangan rumahnya.
Amanda langsung tersenyum melihat kedatangan putranya Devano dan segera mengakhiri mengakhiri panggilannya.
"ma nanti kita bicarakan lagi, itu dia Devano sudah pulang" ucapnya senang.
"baiklah, nanti kabari mama lagi" ucapnya di ujung telepon.
"baik ma" meletakkan ponselnya.
"devano?" panggil nyonya Amanda sebelum Devano masuk kedalam rumah.
"mama" ucap Devano sambil membalikkan badannya.
"sayang, kamu sangat hebat, bari tadi pagi Mama mengeluh padamu, baru beberapa jam saja kamu sudah mengatasinya, bahkan lebih baik dari sebelumnya" ucap Amanda puas dengan ekspresi senang yang sangat jelas di wajahnya.
saat mereka berdua masih berdiri di luar, datang lagi sebuah mobil hitam.
David keluar dari mobilnya dengan wajah kusut.
Devano melihat papanya yang datang dengan keadaan seperti itu sedikit mengerutkan dahinya.
beda halnya dengan Amanda, dia tersenyum puas melihat kearah David, jelas jelas dia mengetahui alasan dibalik penampilan suaminya yang seperti itu.
saat David hampir sampai di depan mereka berdua Amanda segera mengubah ekspresinya khawatir.
"pa, apakah kamu baik baik saja?" sambil mendekat dan memegang lengan David peduli.
"yah, aku baik baik saya" jawab David sambil mengalihkan perhatiannya kepada Devano.
"kamu juga pulang cepat?" tanyanya kepada putranya itu, karena tidak biasanya Devano sudah berada di rumah pada jam ini, apalagi dengan keadaan kantor yang sedang kacau.
"iya pa, aku sedikit pusing mangkanya pulang cepat" ucap devano jujur, memang dia merasa sangat pusing memikirkan masalahnya.
"jangan terlalu memaksakan diri, ini semua bukan salah kamu" ucap David dengan frustasi memegangi kepalanya.
"ada apa pa? apakah ada masalah di kantor" tanya Devano kepada papanya, karena papanya tidak akan pernah se frustasi ini jika tidak berurusan dengan masalah kantor.
mungkin masalah scandal Aleska dan Ruby sedikit banyaknya mempengaruhi perusahaan. " batin Devano menebak.
"yah, saham perusahaan turun drastis" ucap David lelah.
"apa?" ucap Devano terkejut sambil mengeluarkan handphon di sakunya untuk mencek informasi perusahaan.
benar saja akibat scandal Aleska dan Ruby menyebabkan saham perusahaan menurun drastis.
dia melihat panah kurva saham di handphone menukik tajam.
dia terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri hingga melupakan perusahaan, untung saja ayahnya segera mengingatkan.
"pa apa yang harus kita lakukan?" ucapnya panik.
"ayo kita masuk terlebih dulu" ucap David serius.
mereka bertiga berjalan beriringan masuk kedalam rumah.
"pa, kamu harus segera membuat pengumuman tentang masalah ini kepada media, sebelum perusahaan benar benar hancur" ucap Amanda dengan nada sarkis.
"pengumuman apa maksud mama?" tanya Devano?
"david coba kamu pikirkan, apa solusi yang dapat mengatasi masalah ini selain mengumumkan kepada media untuk mengeluarkan mereka berdua dari keluarga kita?" ucap Amanda dengan satu tarikan napas.
"Amanda apa yang kamu pikirkan?" ucap David sudah mulai sinis melihat ke arah Amanda.
"David, baru satu hari saja keluarga kita sudah di serang oleh media, tidak satupun dari keluarga kita sekarang yang bisa keluar dari rumah dengan leluasa bahkan terlalu malu untuk hanya sekedar menunjukkan muka, ini adalah aib yang sangat memalukan, yang tidak akan pernah di lupakan sampai kapan pun" ucap Amanda muak.
"apa kamu ingin menghancurkan perusahaan yang telah kamu bangun dengan susah payah selama ini?" sambung Amanda yang hanya melihat David berdiam diri dan tidak merespon sama sekali.
"ini semua salah ku karena tidak ada waktu untuk mereka bersua dan membiarkan mereka berdua hidup kesepian, hingga membuat mereka salah jalan seperti sekarang ini," ucap David tidak dapat lagi menyembunyikan rasa bersalahnya.
"tidak bisa begitu" ucap Amanda marah meninggalkan mereka berdua yang tengah frustasi.
"papa mandi dulu, nanti setelah makan malam kita bicarakan lagi di ruangan Papa" ucap David sambil berjalan juga masuk ke kamarnya.
Devano hanya diam membisu melihat punggung ayahnya yang berjalan masuk ke kamarnya.
"aghhh...aku sangat egois," ucap Devano merutuki dirinya merasa bersalah, karena dia menginginkan masalah ini kembali seperti semula, seperti sekarang.
"tapi siapa orang yang bisa membalikkan situasi ini? siapa orang yang memiliki kekuatan yang lebih kuat dari Aleska" batin Devano.
* di mension sisi timur.
"tuan kami pamit dulu" ucap Mike dan Hugo keluar dari ruang kerja Aleska.
"baiklah, besok lakukan seperti yang telah kita rencanakan" ucapnya juga sambil berdiri dari duduknya.
"tentu tuan."
mereka bertiga berjalan beriringan menuruni tangga.
mereka semua berhenti dan melihat Ruby yang tengah sibuk menata berbagai menu makan malam di atas meja.
"selamat malam kakak ipar" sapa Mike spontan.
puuuukkk.... pukul Aleska tepat di belakang kepala pemuda itu.
Hugo dan Ruby seketika melihat heran ke arah mereka berdua.
begitupun dengan Mike yang tidak menyadari panggilannya kepada Ruby.
itu semua karena efek seharian ini dia memikirkan penampilan Ruby saat menjadi kakak ipar mereka dan akan melahirkan beberapa bayi mungil milik Aleska.
tapi otak cerdasnya tiba tiba lemot, dia melihat kepada Aleska dengan wajah tidak terima karena Aleska yang tiba tiba memukul kepalanya.
tapi saat menyadari ekspresi aneh di wajah Ruby, dia baru menyadari ucapnya.
"ah maksud saya nona Ruby, selamat malam" ucap nya kaku, yang malah terdengar sangat aneh.
Aleska dengan kikuk berjalan ke arah ruby untuk memecah suasana.
"semuanya terlihat enak" ucapnya melihat ke arah makanan yang telah di tata dengan rapi.
"ah ya, semuanya sudah terhidang, ayo kita makan malam bersama dulu." ucap gadis itu sedikit canggung.
"benar, aku sudah lapar," ucapnya sambil duduk di kursinya"
"ayo kak," tawar ruby sambil melihat ke arah Mike dan Hugo yang masih berdiri kaku di tempatnya semula.
"ah ya?" ucap Hugo sambil melihat ke arah Aleska.
tapi diam diam Aleska melototi mereka berdua.
"ah tidak nona, kami akan langsung pulang saja" ucapnya meninggalkan mereka berdua.
Aleska dan Ruby menyuap satu demi satu hidangan yang tersedia dalam diam.