
"hahaha aku tidak tau dimana sifat nya yang satu ini berasal, apakah dari akau atau ibunya, karena secara naluri dia mengetahui apa yang menjadi hak nya dan tidak. dan kapan harus bertidak dan mengabaikan. kadang kadang dia juga terlihat seperti mu." ucap david dengan sedikit senyuman kecil di sudut bibirnya, mungkin itu karena dia bicara sambil memikirkan istrinya Aleya.
"hahahaha benar tuan dia sangat pintar dan bisa memahami situasi dengan cepat." ikut merasa senang saat memikirkan Aleska yang luar biasa.
"kalau begitu ini akan menjadi semakin sulit untuknya," sambil mengirup dalam asap rokoknya.
"apakah maksud tuan, kepintaran tuan Aleska akan merugikan nya karena tuan muda Devano dan nyonya tidak akan diam menyaksikan ini?" Abas menganalisa maksud dari perkataan tuan nya itu.
"benar sekali Abas" sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"apakah tuan akan melakukan sesuatu?" tanya Abas yang penasaran dengan bagaimana tuanya akan bertindak setelah ini, karena dia tahu selama ini David sengaja mengabaikan mereka berdua juga untuk kebaikan mereka.
"seperti yang kamu tau, tidak ada yang bisa saya lakukan tentang hal ini" David menjawab Abas dengan lesu dan tidak bersemangat.
tapi melihat David begini Abas teringat sesuatu.
"tuan, ada satu hal lagi, saya hampir lupa memberitahukan hal ini?"
"ada apa?"
"karena kejadian lonjakan saham kali ini, nama tuan muda Aleska mulai di kenali oleh orang luar. dan bahkan mereka sudah mulai menyelidiki identitas tuan muda kedua." terang Abas dengan nada serius.
"jadi menurut mu musuh musuh kita juga sudah mengetahui hal ini?" tanya David dengan nada pasrah.
"benar tuan, karena tuan baru kembali, mungkin tuan belum menyadari situasi saat ini"
"jadi mereka sudah merasa mendapat kan kelemahan ku dengan mengetahui identitas Aleska yang sebenarnya?" tanya David dengan nada meremehkan.
"tidak tuan, malahan sebaliknya!" tetap mempertahankan wajah serius.
"bicara lah dengan jelas Abas" David mulai tidak sabar.
"hahaha" Abas terkekeh mendengar David mendesaknya karena penasaran.
"tuan belajarlah bersabar sedikit" Abas sengaja mengejek David dengan bahagia.
"Abas apakah kamu ingin bekerja penuh Tampa libur tahun ini?" ancam David kepada Abas .
"hahaha baik lah tuan ku . begini maksud ku,
karena situasi kali ini, bukan nya ini mengakibatkan lawan bisnis kita mendapatkan kelemahan kita, malahan sebalik nya.
mereka akan berfikir seribu kali terlebih dahulu sebelum menyerang perusahaan kita, karena anda memiliki begitu banyak pelindung di sekitar anda, seperti beberapa putra anda yang selalu dapat di andal kan kapanpun.
yang mereka tahu anda hanya memiliki dua orang putra yang sudah bisa di andalkan yaitu tuan muda Devano dan tuan muda Wanda, tapi sekarang mungkin mental mereka sedang terguncang, karena saat ini yang bertindak adalah putra kedua yang tiba tiba muncul entah dari mana.
bahkan setelah mereka tahu jika tuan muda Aleska yang merupakan seorang putra dari istri kedua, ini akan membuat mereka gentar.
ini seperti anda menyembunyikan beberapa kartu as anda, dan sekarang mereka sedang sibuk menyelidiki apakah anda masih memiliki beberapa stok putra lagi yang masih anda sembunyikan di rumah.
hahaha saya pikir ini sangat lucu.
bahkan sekarang isu-isu ini sudah meluas dan seperti tidak bisa di kendali kan lagi." terang abas panjang lebar dengan wajah sumringah.
suasana hati David sangat bagus setelah mendengar penjelasan Abas yang panjang lebar. tapi di saat bersamaan dia juga merasakan ketakutan, jika putra nya malah akan bertarung satu sama lain dan saling membunuh.
Abas yang mengerti ketakutan David segera menenangkannya.
"tuan tenang saja, itu tidak akan terjadi, mereka sangat pintar dan bijak, dan kedepannya mereka tidak akan melakukan apa pun yang nya membuat mereka menyesal.
akan tetapi kita tidak bisa menghindari jika mereka saling bertarung, dan saling melukai, karena itu hanya formalitas untuk menentukan siapa yang pantas." ucap Abas yakin.
"benar apa kata mu, aku harap juga begitu, dan kita tidak bisa melakukan apa apa dan ikut campur" ucap David dengan berat hati, karena mereka semua adalah putranya.
*
Di sekolah Ruby pada jam istirahat.
"Sintia apa kau melihat buku ku?" tanya Ruby sambil sibuk menggeledah semua isi tasnya untuk mencari buku bersampul kulit warna coklat kesayangannya.
"hmmmm?" Sintia yang hanya sibuk menyedot minuman dinginnya , tampa memperdulikan Ruby.
"Sintia!, aku bilang apakah kamu melihat buku ku?" Ruby mulai meninggikan suaranya, karena Sintia tidak mendengarkan saat dia berbicara.
"buku yang mana maksud mu?" jawab Sintia tidak acuh.
"itu buku diary ku yang bersampul warna coklat" jelas Ruby.
"ha? buku warna coklat?" Sintia langsung berdiri mendengar Ruby yang mengatakan tentang buku yang bewarna coklat.
"apakah buku sampul kulit coklat yang setiap hari kamu bawa kemana mana itu?" ulang Sintia memastikan.
"iya itu, apakah kamu melihatnya?"
"Ruby, ini gawat" dengan wajah khawatir.
"ada apa? apakah kamu yang mengambilnya dan menjualnya ke seseorang?" ucap Ruby melantur.
"Ruby, selain pintas dalam belajar, kamu sama sekali tidak menggunakan otak mu. aku heran kenapa kamu selalu mendapatkan juara kelas dengan otak seperti ini." ucap Sintia kesal, karena ruby mengatakan jika dia menjual buku itu, sangat tidak masuk akal.
"jadi kamu tidak menjual nya?" tanyanya lagi polos.
"Ruby, aku katakan pada mu, kemarin saat Rice putra keluarga Carllyss datang ke meja makan kita sambil membawa nampan makanannya aku yakin saat itu aku melihat dia membawa buku itu bersamanya." ucap Sintia sambil mengingat ingat kejadian waktu itu.
"Sintia.... kenapa kau baru mengatakan nya sekarang?" Ruby berteriak mendengar penjelasan sahabat nya itu.
"mana aku kepikiran kalau itu buku kamu, bisa saja dia memiliki buku yang sama, tapi setelah mendengar kau kehilangan buku itu, aku baru ingat, mungkin itu buku yang sama." sambil mengingat ingat kembali kejadian di kantin waktu itu.
"Sintia bagai mana ini, apakah dia kemari datang untuk mengancam ku?" ucap Ruby panik
"oh Ruby, kenapa kau sangat bodoh, coba kau pikir kan, dia datang ke meja kita dengan baik baik, tapi kau langsung menolaknya, jadi dia marah dan langsung pergi meninggalkan kita, bukankah situasi seperti itu lebih cocok kalau di sebut dia ingin mengembalikan buku itu pada mu!" Sintia mencoba menganalisa kejadian itu dengan benar.
"ah apa yang kau katakan?, kenapa aku tidak kepikiran. Sintia ayo kita mencari dia dan minta maaf, semoga dia mau mengembalikan lagi buku itu kepadaku" ucap Ruby.