Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
031 Rahasia Aleska



"benar mata nya yang bewarna kuning terang terlihat sangat menawan." di sambung oleh karyawan wanita yang lain sambil menatap Aleska yang berjalan melewati mereka menuju lift khusus yang hanya diperuntukan untuk petinggi dan pemilik perusahaan.


saat Aleska sampai pada lantai 47 dimana kantornya berada, di sana sudah ada Abas yang menunggu kehadirannya.


"selamat datang tuan muda"


Abas menunduk hormat menyambut kedatangan aleska,


"paman, panggil saja aku seperti biasanya"


karena dulu Abas sering datang dan memberikan bantuan kepada aleska secara diam diam aleska sangat menghargainya. karena ini dia bersikap sopan dan ramah kepada Abas.


"baik lah kalau itu permintaan tuan muda"


Aleska tersenyum kecil ke arah Abas.


dan juga di balas dengan senyuman tulus oleh Abas.


*****


"baik lah, pertama-tama mari kita masuk ke ruanganmu terlebih dahulu"


Abas membuka pintu ruangan kerja yang akan di pakai oleh aleska kedepannya.


Aleska mengikuti langkah paman Abas dan masuk keruangan yang memiliki luas yang sama dengan ruangan tuan David yang pernah di masuki oleh aleska sebelumnya, dengan desain yang sederhana tapi terlihat elegan dengan penggunaan warna warna gelap dan netral dan satu set sofa tamu dari bahan kulit bewarna hitam.


"Aleska ini adalah ruangan yang akan kamu gunakan untuk bekerja kedepannya, seperti yang kamu lihat, ruangan ini sengaja di persiapkan dan di desain sesuai selera mu, apakah kamu menyukainya?" dengan wajah tersenyum bahagia.


"hmm ini lumayan"


aleska merasakan cukup puas dengan ruangannya saat ini. dan dia berjalan ke arah sofa duduk di salah satu sofa tamu tersebut


"paman, silahkan duduk terlebih dahulu, sebelum kita melanjutkan pembicaraan kita kedepannya" tawar aleska.


"hmm baik lah, sesuai keinginanmu"


Abas duduk di sofa tepat di hadapan aleska duduk saat ini dan hanya di batasi oleh meja kaca"


"jadi begini Aleska, aku sudah menyiapkan beberapa orang terbaik di perusahaan untuk menjadi asisten dan membantu pekerjaan mu kedepannya.


kamu bisa memilih salah satu dari mereka langsung, aku bisa memanggilkan mereka ke sini, atau kamu ingin melihat berkas data diri mereka terlebih dahulu."


Abas mencoba menyampaikan dan mejelaskan maksud nya menyambut kedatangan Aleska.


"paman? boleh kah aku membawa asisten ku sendiri"


"haha tentu saja, saya hanya menyiapkannya sesuai prosedur kantor, tapi tentu saja kamu sudah memiliki seorang asisten bersama mu untuk sampai ke posisi sekarang ini."


Abas langsung saja menebak dengan tepat posisi Aleska saat ini dan mengatakan langsung kepada Aleska jika dia bisa sampai pada posisi sekarang ini mustahil bisa dilakukan seorang diri dan pasti ada pihak yng membantunya dari belakang.


dan Abas cukup penasaran dengan apa rahasia yang selama ini di simpan oleh Aleska dengan sangat baik, hingga nyonya amyanda yang mengawasinya setiap hari pun juga tidak mengetahui ini.


"Aleska yang merasa apa yang di lakukan nya sudah berhasil di tebak dengan tepat oleh Abas, tidak berkilah lagi dan mengakuinya begitu saja dengan ringan seolah olah itu bukan masalah sama sekali jika di ketahui oleh orang lain.


"paman benar sekali, seharusnya semua orang juga sudah tau, mungkin sekarang dia masih dalam perjalanan dan akan sampai sebentar lagi."


Aleska langsung mengakui begitu saja, karena dia berfikir tidak ada gunanya bersembunyi dari orang yang telah melihatmu dengan jelas.


"hmm baik lah kalau begitu"


tingkah Aleska yang terkesan cuek membuat orang lain merasa jika ini bukan sebuah rahasia dan memang seharusnya di ketahui oleh orang lain.


"jika kamu memiliki pertanyaan lain atau butuh sesuatu katakan saja pada ku"


"baik lah"


Abas berdiri dari duduknya dan berniat untuk meninggalkan ruangan Aleska. saat dia membuka pintu seseorang juga datang.


"apakah kamu adalah asisten aleska?"


"benar tuan"


"hmm baik lah kalau begitu, silahkan masuk, dia telah menunggu mu di dalam"


"baik, terimakasih tuan"


Abas segera pergi dari ruangan Aleska dan meninggalkannya bersama asistennya yang baru saja datang.


"aku seperti pernah melihat orang ini, tapi dimana?" sambil berjalan ke ruangannya sendiri yang berada satu lantai di bawah ruang kerja aleska saat ini.


Abas berusaha untuk mengingatnya tapi tetap saja dia tidak mengingat apa apa tentang pemuda yang baru saja dia temui yang merupakan asisten aleska tersebut.


*


sementara Jean di ruang kerja Devano sedang memberikan laporannya kepada Devano.


"tuan hari ini adalah hari dimana Aleska secara resmi mulai bekerja di kantor ini"


Devano yang mendengar Jean menjelaskan informasi tentang Aleska terlihat tidak terlalu tertarik, dia hanya sibuk mebolak-balik beberapa berkas yang ada di tangannya.


"tapi tuan, sepertinya penyerahan kepemilikan


perusahaan Adolf Hitler Corp (AHC) kepada anda akan selesai dalam waktu dekat, anda hanya perlu mempersiapkan syarat yang telah di tentukan oleh nenek anda."


"berarti mama masih bersikukuh dengan keinginannya untuk menjadikan AHC menjadi milikku?"


"benar tuan"


sebenarnya Jean adalah putra dari anak angkat dari Baretta, karena dia hanya memiliki satu anak perempuan yaitu amanda, jadi dia memutuskan untuk mengadopsi seorang anak laki laki menjadi anak angkatnya bernama Adalrich, yang merupakan ayah dari Jean asisten Devano saat ini, dan secara hukum Jean adalah sepupu dekat Devano.


"tapi apa syaratnya?" tanya devano mengangkat kepalanya melihat ke arah jean.


"ini, silahkan tuan lihat sendiri" sambil menyerahkan sebuah map coklat berlogo (AHC) kepada Devano.


Devano mengambil berkas yang di berikan oleh Jean dan membukanya, saat membaca isi kertas tersebut Devano tersenyum ke arah Jean dan mengangguk.


"hmmm baik lah, aku setuju"


setelah membaca persyaratan yang di berikan oleh neneknya Devano terlihat tersenyum dan langsung menyetujuinya, tapi ekspresi Jean malah terlihat bingung melihat tingkah bosnya Devano.


"tuan , apakah anda kan menyetujui syarat yang di berikan oleh nenek?"


"kenapa tidak"


"hmm baik lah terserah anda"


Jean mengambil kembali berkas di tangan Devano berniat untuk keluar dari ruangan Devano saat beberapa langkah sebelum keluar handphone Devano bergetar di atas meja kerjanya, mereka berdua melirik handphone itu


tretttttttzzzzz.... trettttttzzzz.....


Devano melihat ke arah handphone dan mengambilnya.


Jean yang tadinya ingin pergi pun menghentikan langkahnya melihat Devano menerima telfon.


"hallo?"


"hallo tuan, ini tentang penyelidikan saya tuan!"


"apakah sudah ada hasil? ini lebih cepat dari perkiraan ku, "


Devano sangat penasaran akan mension sisi timur yang di kunjungi nya waktu itu.


"bukan begitu tuan, mension itu di luar jangkauan kami" (dengan rasa bersalah)


"apa maksud mu?, bukan kah aku sudah memberi kalian akses khusus untuk masuk melewati taman pohon Pinus!"


"benar tuan, kami hanya bisa menjangkau mension utama, tapi saat kami mencoba mendekat ke mension sisi timur, di sana ada beberapa orang pengawal yang memiliki keahlian membunuh tampa suara.