
"ayah, hari ini aku mendapatkan teman baru, dan dia akan bersedia menjadi adikku tapi ini adalah rahasia" rice menjawab pertanyaan ayahnya dengan begitu polos, sehingga mengundang banyak tanda tanya.
Carl yang mendengar perkataan putra keduanya mengerutkan kening. den melirik ke arah Carllo mengharapkan penjelasan dari putra pertama nya itu.
"hahaha ayah, siang tadi kami bertemu dengan seorang gadis, dia satu sekolah dengan Rice. dia sangat imut dan polos seperti Rice, mereka berdua sangat mirip, bahkan secara fisik juga kelihatan sedikit mirip dengan Rice, jadi mereka berdua memutuskan untuk berteman." jelas carllo kepada ayahnya.
selalu saja penjelasan Carllo lebih dapat di terima di banding dengan Rice yang selalu menjelaskan segala sesuatunya secara rancu.
"hmm jadi apa yang menjadi rahasia?" tanya tuan Carl dengan penasaran.
"hahahaha karena dia juga memiliki seorang kakak laki laki yang galak, Rice pernah berkelahi dengan kakaknya karena salah kesalahpahaman dia mengira Rice menganggu adiknya.
mungkin karena dia tahu adiknya sangat imut dan polos jadi dia lebih protektif dalam menjaga adiknya." jelas Carllo kembali
"hahaha sepertinya dia kakak yang baik." jawab Carl yang terlihat senyum cerah di wajahnya, dan seketika dia sedikit bisa melupakan tentang kejadian pahit beberapa tahun yang lalu.
"benar sekali, mungkin jika Rice adalah perempuan aku juga akan seperti itu dalam menjaganya," tambah Carllo.
"kakak kamu memang memiliki adik perempuan tapi itu bukan aku, jangan berharap menjagaku seperti menjaga anak perempuan." jelas Rice dengan nada kurang senang.
hahahahahahahahah...…
tuan Carl dan Carllo ketawa dengan geli mendengar perkataan Rice yang selalu saja mengundang tawa karena sifat polosnya.
Rice yang melihat mereka berdua menertawakannya pergi dengan kesal ke kamarnya.
"ada apa ini, kenapa semua orang terlihat bahagia tampa aku?"
seorang wanita paruh baya yang sangat cantik dan elegan berjalan dengan anggun ke arah mereka.
"ibu, kami menertawakan kepolosan Rice." jawab Carllo.
"benarkah? dia kenapa?"tanya ibunya sedikit penasaran.
"dia hari ini dia sangat senang karena mendapatkan teman baru seorang gadis imut di sekolahnya"
"bukankah dia tidak suka dengan anak perempuan?" tanya ibu carllo dengan nada sedikit keheranan karena dia tahu jika Rice tidak menyukai anak perempuan sama sekali apa lagi untuk berteman dengannya.
"benar sekali, bahkan mereka selalu saja bertengkar hal yang tidak perlu setiap bertemu"
"jadi kenapa dia senang?, apakah ada yang spesial dari gadis itu? " tanya ibu Carllo masih dengan heran.
"karena dia setuju menjadi adik Rice hari ini, dan mereka berdua benar benar mirip"
"benar kah? apakah gadis itu tidak berbahaya?" tanya ibu Carllo karena merasa sedikit menghawatirkan putranya.
"sayang jangan khawatir kan mereka, mari kita pergi" segera tuan carl menengahi pembicaraan istri dan putra nya itu.
tuan carl memeluk bahu istrinya dan membawa nya pergi ke kamar mereka.
*
malam hari di ruang belajar Aleska di mension sisi Timur.
"tuan , saya melihat hari ini nona Ruby bertemu dengan putra keluarga Carllyss, tapi mereka hanya pergi makan siang bersama dan kembali ke sekolah seperti biasa."
Aleska membaca secarik kertas dalam bukunya yang di ambil nya siang dari pustaka sekolahnya.
setelah membacanya Aleska terdiam beberapa saat.
"kenapa mereka mencoba mendekati Ruby?" Aleska berbicara kepada dirinya sendiri.
"kakak, apakah kakak di dalam?"
"kakak, karena kamu melewati makan malam, jadi aku membawakan mu roti sandwich."
Aleska memutar kursinya menghadap Ruby yang baru datang membawa nampan berisi makan malam untuk dirinya.
"Ruby kemana saja kau hari ini?"
"sekolah, tentu saja, kemana lagi" jawab Ruby polos
"Ruby kau tau maksud ku"
Ruby mencoba mengingat kembali tadi dia pergi dengan makan siang bersama Carllo dan Rice.
"oh itu, tadi aku keluar bersama teman ku" jawab Ruby singkat.
"Ruby kau harus hati hati dengan orang baru."
"hmm baik"
"bagus, jangan sembarangan menemui orang asing"
kali ini Aleska benar benar mengawatirkan Ruby, bukan hanya sekedar tidak suka jika Ruby berteman dengan anak laki laki.
*****
keesokan harinya, pagi pagi Ruby sudah sampai di sekolahnya, sepanjang jalan menuju kelasnya semua siswa berbisik bisik berbicara dan melihat ke arahnya, Ruby melewati mereka dengan tidak nyaman.
Ruby mulai ketakutan dan berkeringat dingin karena trauma masa kecilnya yang kembali jelas di dalam pikirannya.
*flashback Ruby on
dari kecil saat usia Ruby 7 tahun, Ruby sudah ditindas oleh ibu tirinya dan pelayan dari mension utama yaitu tempat tinggal ibu tiri dan para putra putrinya.
Ruby sering tidak di beri makan dan di kurung di ruangan yang gelap.
"tolong,,,tolong nyonya Amanda ampuni aku"
teriakan Ruby menggedor pintu bawah tanah yang sangat gelap dan kotor di bawah mension mereka. dan beberapa tikus yang kelaparan akan berkeliaran di sekitarnya, Ruby sangat ketakutan.
hingga waktu berlalu sampai pagi dan pelayan kembali membuka kan pintu untuk Ruby, seperti biasa, dia akan di temukan dalam keadaan tidak lagi sadarkan diri karena kelaparan dan ketakutan.
ini sudah sering terjadi ketika nyonya Amanda datang ke mension mereka di sisi timur, untuk mencari Aleska, dan jika dia tidak menemukan keberadaan Aleska maka dia akan menyiksa Ruby sebagai gantinya dan melampiaskan rasa kesalnya atau apapun itu.
pada suatu malam, saat Ruby berusia sekitar 7 tahun. nyonya Amanda datang ke mension mereka, dan berteriak memanggil manggil Aleska.
suara nyonya Amanda menggema memecah malam di ruangan sunyi di mension sisi timur, Ruby yang mendengar kedatangan nyonya Amanda pun langsung mencari tempat untuk bersembunyi di sudut kamarnya dan menggigil ketakutan.
seperti biasa, ketika nyonya Amanda tidak menemukan Aleska dia akan pergi mencari Ruby di kamarnya, dan masih seperti biasa saat melihat Ruby, Amanda akan langsung memegang pergelangan tangannya dan menyeretnya ke ruang bawah tanah untuk melampiaskan kekesalannya.
"katakan kemana bocah tengil itu pergi" sambil mencengkram kuat wajah Ruby.
setiap Ruby di bawa ke ruang bawah tanah Amanda akan menanyakan pertanyaan yang sama yaitu tentang keberadaan Aleska.
"nyonya aku tidak tau, bahkan aku belum pernah melihat wajahnya, di selalu pulang tengah malam dan pergi saat masih sangat pagi, aku hanya melihat punggung nya saat pulang dan pergi sesukanya , dia tidak pernah berbicara kepada ku." jelas Ruby dengan suara yang terdengar gemetar karena ketakutan.
"dasar bocah tidak berguna" mencengkram lebih kuat, dan mendorong gadis itu ke belakang.
Amanda seperti biasanya akan langsung pergi meninggalkan Ruby dalam ruangan gelap itu. dan memerintahkan pelayannya segera mengunci ruangan Ruby dengan rapat. dan akan di buka ke esoknya harinya.
"nyonya tolong keluarkan aku dari sini, aku tidak tau apa pun nyonya...." berteriak sambil menggedor gedor pintu itu berharap mereka mendengarkannya dan membuka kembali pintu itu.