
Carl berlari keluar, mencari kedua putra nya.
"sayang bangun," ucap Carl sambil menggoyangkan lengan putranya.
"pergi bangun kan adikmu dan bawa dia ke kamar ibu, dan tunggu ayah pulang di sana." Carl yang berbicara kepada putra pertamanya Carllo yang masih menggosok gosok matanya.
"baik ayah," Carllo yang sangat patuh dan pintar segera bangun dan membawa adiknya ke kamar ibu nya yang sudah di kawal dengan ketat oleh penjaga yang tersisa, selebihnya akan pergi ikut bersama Carl untuk mencari dokter yang membawa kabur adiknya.
"sayang kau tinggal di rumah menjaga ibu dan adik mu, ayah akan pergi mencari adik perempuan mu dan akan kembali membawanya pulang dengan selamat."
"tuan apakah kamu baik baik saja?"
tanya Steve asisten tuan Carl yang membuyarkan lamunan Carl yang mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat insiden hilangnya putri mereka yang membuat seluruh keluarganya bersedih sepanjang waktu jika mengingat hal ini.
"tidak apa apa, kamu lanjutkan menyelidiki setiap putra di keluarga Davidson, tidak kapan perlu selidiki seluruh anggota keluarganya"
"baik tuan"
steve segera keluar meninggalkan Carl sendiri di ruangannya.
*
ruby memasuki ruang belajar aleska
"kakak?" panggil ruby kepada aleska yang sibuk belajar.
"hmmm" Aleska hanya berdehem menanggapi Ruby yang memanggilnya.
"kakak apakah kamu kenal dengan seorang pemuda yang mungkin rumah nya juga berada di sekitar sini?" tanya Ruby dengan rasa ingin tahu, mengingat pemuda yang di ditemuinya pagi ini di luar pagar mension sisi timur.
"tidak, apa kah ada orang yang menganggu mu lagi?" Aleska menjawab pertanyaan Ruby tampa menoleh kepadanya dan masih sibuk dengan buku bacaannya.
"kakak... bukan itu maksudku, tadi pagi saat berjalan di sekitar mension aku bertemu seorang pemuda, katanya nama nya deva." jelas ruby dengan kesal karena jawaban dari aleska.
"kenapa kamu berkeliaran tidak jelas sampai ke luar pagar?" Aleska bertanya balik.
"karena aku bosan, jadi apakah kakak mengenalnya?" tidak ingin menyerah.
"tidak." Aleska langsung spontan menjawab pertanyaan Ruby tampa pikir panjang dan gaya yang masih acuh tak acuh.
bruak....bunyi suara kursi yang terdorong kebelakang karena Aleska tiba tiba berdiri dengan cepat.
"kakak? apa yang kamu lakukan, membuatku terkejut saja" teriak ruby kepada kakaknya karena membuatnya kaget.
aleska langsung mendatangi Ruby dan memegang kedua bahunya,
"Ruby, jika kamu bertemu lagi dengannya, kamu harus menghindarinya, kalau perlu kamu harus segera berlari menjauhinya dan cari aku !!! apa kamu mengerti?" berbicara dengan bersungguh sungguh sambil menatap wajah ruby dengan lekat.
"ya aku mengerti, tapi ada apa?" Ruby yang melihat Aleska sangat serius, langsung saja menyetujui ucapan kakaknya itu.
"apakah dia orang jahat?" tanya Ruby lagi yang masih penasaran.
"benar, dia adalah orang jahat , jadi jangan sampai kamu tertangkap olehnya, kalau tidak dia akan menghisap dan memakan mu."
aleska melepaskan ruby dan kembali ke meja belajar nya dengan tenang seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.
"kakak, !!!! kamu selalu saja suka mengerjai ku"
ruby kesal karena kakak nya menakut nakutinya seperti anak kecil, walaupun sebenarnya tadi Ruby sudah mempercayai kakaknya, tapi karena melihat tingkah Aleska yang begitu santai Ruby mengerti kalau dia sedang di kerjain oleh aleska.
ruby dengan kesal meninggalkan ruang belajar Aleska,,, barrrr... suara pintu yang di banting oleh Ruby.
tapi sesaat kemudian senyum di wajahnya yang sangat jarang terlihat itu langsung hilang dari wajahnya di gantikan dengan ekspresi yang mengerikan.
"sialan, aku harus melakukan sesuatu, sepertinya tuan muda sudah mulai memperhatikan mangsanya. aku harus lebih berhati hati."
ucap Aleska dalam hatinya karena mengetahui orang yang dimaksud oleh Ruby yang menemuinya itu adalah tuan muda Devano yang baru saja kembali dari dari London tempat menjalankan pendidikannya yang sudah magister.
sesaat kemudian, tirai jendela kamar Aleska yang bewarna putih melambai lambai ke dalam karena di tiup oleh angin malam.
bruuk.....
suara kaki seseorang yang mendaratkan lompatannya di lantai ruang belajar aleska.
"apakah tuan memanggil saya?"
orang misterius itu bersujud dengan satu lutut yang di tekuk ke lantai dan satu tangannya memegang dadanya, seperti hormat seorang ksatria kepada tuanya.
"benar , mulai saat ini, jangan terlalu sering menampakkan diri, jika ingin melaporkan sesuatu kepada ku, letakan itu dalam buku di pustaka sekolah ku seperti biasa, jangan pernah datang ke sini jika tidak aku panggil, apa kau mengerti?." aleska memberikan peringatan kepada orang itu.
"saya mengerti tuan."
orang misterius tersebut langsung dengan mudah menyetujui apa yang di katakan oleh Aleska tampa satupun bantahan dan pertanyaan.
"tuan, saya akan melaporkan sesuatu"
"katakan"
"Devano sudah mulai mencurigai tuan dan dia akan memperhatikan setiap gerak gerik tuan mulai saat ini."
"ya aku tau,"
"bukan itu saja tuan, sepertinya carllyss juga sudah mencurigai tuan."
"bagus, ini akan lebih baik, dari pada terus menerus bersembunyi."
"apakah sekarang kita akan menampakan diri secara terang terangan?."
"benar, aku tidak akan menutupi lagi kemampuanku di hadapan musuh. berbeda dengan menghadapi Devano tuan muda utama kesayangan nyonya amanda, kita perlu memainkan berbagai trik untuk melawannya.
satu lagi, kamu juga perintahkan beberapa bawahan mu untuk melindungi Ruby tampa sepengetahuan, awasi kemanapun dia pergi. kalau terjadi sesuatu segera laporkan pada ku."
"baik tuan"
"bagus"
"orang misterius tersebut langsung menghilang setelah kembali melompat ke jendela yang berada di lantai dua."
aleska kembali belajar dengan tenang, beberapa saat kemudian dia melihat jam hitam di pergelangan tangan nya, dan dia membereskan beberapa bukunya kembali ketempat semula, dan mematikan lampu di ruangan tersebut. aleska berencana kembali ke kamarnya untuk tidur karena sudah cukup larut malam.
dia membuka pintu kamarnya dengan hati hati agar tidak membangun kan Ruby yang pasti nya sudah tertidur duluan seperti biasa di atas tempat tidurnya.
Aleska melihat lampu kamar sudah di matikan, tapi masih ada cahaya redup dari lampu tidur di sebelah ruby yang masih menyala.
Aleska berjalan dengan tenang ke arah tempat tidur dan duduk di sisi lain tempat tidur itu, dia melihat wajah Ruby yang sangat damai saat dia tertidur, tampa sadar tangan Aleska sudah terangkat ingin membelai rambut Ruby, tapi dia menghentikan tangannya tepat di atas kepala gadis itu.
beberapa saat tangan aleska masih menggantung di atas kepala adik nya yang tertidur lelap, wajahnya terlihat jelas karena cahaya lampu tepat di samping nya.
jantung aleska berdetak dengan sangat cepat.
"apa yang aku lakukan" sembari menarik tangannya kembali dari atas kepala ruby setelah beberapa saat menggantung di sana.