Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
072 semua makanan ini aku yang masak



suara langkah yang turun dari tangga membuat Devano dan Hanson menoleh ke arah tangga tersebut.


mereka berdua melihat jika itu adalah Aleska yang turun terlebih dahulu dari lantai atas.


"jadi kamu sudah mulai mengintrogasi para pelan ku? apakah itu tujuan mu datang ke sini?"


tepat saat aleska berkata seperti itu, suara langkah yang menuruni tangga kembali terdengar, sontak mereka bertiga melihat ke arah asal suaranya.


*****


di sana terlihat seorang gadis yang sangat cantik yang memiliki kulit putih bersih di padu dengan mata bulatnya yang bewarna merah, rambut indahnya di gerai hingga sampai ke pinggang nya yang begitu ramping.


dengan menggunakan gaun yang sederhana yang biasa dia pakai saat berada di rumah.


tapi gaun itu melekat pada tubuhnya dengan begitu indah.


sepertinya Ruby menuruni tangga tampa menghiraukan tiga orang laki laki yang terpana melihat ke arahnya, dia hanya berjalan dengan santai menuruni setiap tangga.


"apakah aku membuat kalian menunggu lama?" tanyanya melihat ke arah mereka bertiga.


eghem ... ... Aleska sengaja membuat suara batuk kecil untuk menghentikan Devano dan Hanson untuk melihat ke arah adiknya.


seketika Devano sadar dengan teguran kecil dari Aleska dan menundukkan kepalanya, begitu juga dengan Hanson kepala pelayannya sendiri.


walaupun Hanson sudah melayani Aleska dan Ruby selama bertahun tahun, tapi dia sangat jarang melihat putri kecilnya yang ternyata telah tumbuh besar menjadi gadis yang begitu menawan.


"maaf tuan, saya akan undur diri terlebih dahulu" pamit Hanson undur diri.


Devano yang melihat tingkah Hanson terlihat sedikit aneh tambah merasa curiga tentang mension ini.


yang di lihat devano kali ini benar benar sebuah suasana yang terasa sangat tidak bisa di cerna oleh otaknya antara kepala pelayan dan majikanya.


bagaimana bisa kepala pelayan di rumah ini terkejut saat melihat kehadiran majikanya sendiri, seperti ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.


sepertinya di mension ini di penuhi dengan teka teki yang tidak biasa dan rahasia yang terbenam di dalamnya.


aku harus bisa bertemu bertemu dengan kepala pelayan itu dan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. (isi pikiran Devano)


"baik" jawab Aleska.


Hanson langsung mengundurkan diri dari hadapan mereka untuk kembali ke tempatnya.


Aleska melangkah maju menuju meja makan, bukanya dia langsung duduk di kursinya tapi dia malah berjalan ke arah kursi tempat biasanya Ruby duduk dan menarik sedikit kursi itu ke luar meja.


lalu Aleska mempersilahkan Ruby untuk duduk dengan sopan, layaknya seorang perlakuan seorang pria pada kekasihnya saat kencan pertama.


"hmmmmm terimakasih kakak"


sebenarnya Ruby cukup terkejut di perlakukan seperti itu oleh kakaknya Aleska, tapi dia tidak terlalu memikirkannya karena Ruby saat ini sudah sangat lapar memandang hidangan yang tersaji di hadapannya.


apalagi dia dan Aleska juga sudah cukup dekat, karena mereka sering menghabiskan waktu bersama saat latihan. dan akhir akhir ini Aleska juga telah berangsur angsur bersikap hangat kepadanya, jadi apa lagi yang perlu dia cemaskan selain perutnya, yang saat ini, sudah tidak tahan minta di isi.


dari belakang Devano juga menyusul langkah mereka berdua dengan canggung setelah menyaksikan tindakan mereka berdua.


sepertinya hubungan mereka berdua sangat baik, dilihat dari ekspresi Ruby yang seperti telah terbiasa di perlakukan manis seperti itu oleh Aleska.


jika Aleska hanya dengan sengaja melakukan ini di hadapan ku saja kenapa tidak ada ekspresi canggung di wajah Ruby, tidak seperti pertama kali di perlakukan seperti itu oleh aleska? (pikir devano menyaksikan interaksi mereka berdua yang terlihat sangat akrab)


"deva silahkan duduk" ucap Ruby sambil tersenyum manis ke arahnya.


mereka bertiga menikmati makan malamnya dengan tenang, hingga mereka semua terlihat kenyang, tunggu sepertinya hanya Ruby di sini yang terlihat kenyang, sementara Devano hampir tidak menyentuh makanan nya dan Aleska seperti tidak ingin makan sama sekali.


Aleska terus berfikir, kenapa sepertinya orang yang ingin merebut Ruby darinya semakin banyak, setelah tadi siang bertemu dengan Carllo putra keluarga carllyss dan sekarang Devano kakaknya sendiri.


kenapa kalian begitu menginginkan bunga indah yang telah aku rawat sendiri dari bayi? (pikir Aleska sambil terus menatap dingin ke arah Devano dengan kesal)


"kakak, aku sudah kenyang" ucap Ruby melihat ke arah piring mereka berdua dengan tatapan heran.


"apakah makanan nya tidak enak?" tanya Ruby cukup heran melihat ke arah mereka berdua bergantian.


"tidak, ini sangat enak," jawab Devano dengan cepat.


"tapi kenapa kalian berdua sama sekali tidak menyentuh makanan nya" ruby berbicara dengan wajah cemberut, saat ini dia benar benar terlihat sangat imut.


"itu, karena,, sepertinya aku kurang enak badan" jelas Devano mencari alasan, agar tidak menyinggung perasaan gadis itu.


Aleska hanya mengerutkan kening nya melihat mereka berdua.


"apakah kamu ingin aku masakan semangkuk bubur?" ruby menawarkan.


"memasak semangkuk bubur? " Devano berusaha memutar otaknya, dan kembali bertanya kepada Ruby.


"apakah kamu bisa memasak" tanyanya sedikit heran.


"tentu saja, semua makanan ini aku yang masak." jelas Ruby singkat.


"uhuk uhuk uhku... devano merasa sangat terkejut mendengar perkataan Ruby.


apa yang di katakan gadis di depannya ini??


dia yang telah memasak semua hidangan ini???


devano tidak pernah berfikir sedikitpun jika Ruby adalah orang yang telah memasak hidangan makan malam mereka kali ini.


karena, yang pertama, dia dari awal telah menghabiskan waktunya dengan gadis ini saat memetik bunga di pinggir hutan Pinus.


yang kedua, disini memiliki begitu banyak pelayan bagai mana mungkin jika gadis kecil yang merupakan majikan mereka yang memasak hidangan sebanyak ini.


dan satu lagi kapan dia melakukan ini????


Devano benar benar tidak bisa lagi mengandalkan otaknya yang cukup cerdas menerima semua informasi yang tidak berkesinambungan ini.


"deva cepat minum, kenapa kamu terbatuk-batuk seperti itu? apakah mereka benar benar tidak enak?"


"sekali lagi gadis itu mengkonfirmasi ucapannya tidak mungkin aku salah dengar untuk yang kedua kalinya kan?" pikir devano.


Devano melirik ke arah Aleska, dia seperti meminta penjelasan dari pria itu, apakah yang di dengarnya adalah kenyataan dan dia sedang tidak berhalusinasi.


"tidak bukan begitu, aku hanya tidak menyangka jika kamu yang memasak hidangan sebanyak ini" devano berusaha terlihat tenang.


"biasanya aku akan selalu memasak untuk makan kami berdua," jelasnya lagi.


"jadi kapan kamu memasak makan ini?" tanya Devano ingin tahu.


"oh itu aku masak tadi, tapi karena kak Aleska masih belum pulang, sambil menunggunya maka aku akan pergi jalan jalan dan memetik bunga " jelas Ruby.