
"ha?" mereka bertiga bereaksi spontan, dengan wajah heran yang terlihat sama persis.
"oh tuhan, bahkan reaksi kalian pun terlihat sama"
saat ini Carllo adalah orang pertama yang menyadari kesamaan mereka bertiga, secara tidak sadar sifat pertahan Carllo terhadap orang tidak di kenal mencair di hadapan Ruby.
seolah-olah prinsip Carllo yang selalu hati hati di hadapan orang baru tidak berlaku jika di hadapan gadis imut itu.
benar, apa yang dikatakan sintia benar, jika mereka menurunkan kewaspadaan terhadap satu sama lain , seakan mereka sudah saling mengenal sifat masing masing untuk waktu yang lama.
Ruby yang polos tidak memikirkan perkataan Sintia, dia hanya menganggap itu sebagai angin lalu.
dan untuk Rice dia terlalu cuek untuk peduli dengan hal hal kecil seperti itu.
"kak Rice, jangan dengarkan dia, lebih baik kakak kembalikan saja buku ku," ucap Ruby membujuk Rice.
"kau sangat lucu, bahkan demi buku mu sekarang kau pun sudah memanggil ku dengan kakak" ucap Rice dengan senyuman yang mengambang dengan jelas di wajah fresh nya.
"apa salahnya kakak memang lebih tua dari ku"
"hmm tidak masalah, sepertinya memiliki seorang adik perempuan juga menyenangkan"
mendengar ini jantung Carllo yang dari tadi dengan tenang memikirkan banyak kemungkinan sekarang berdetak dengan lebih kencang mendengar perkataan adiknya Rice barusan.
"kedengarannya memiliki banyak kakak laki laki juga menyenangkan" timbal Ruby.
"Ruby, aku tidak jadi menginginkan seorang adik perempuan seperti mu?" berubah pikiran dengan cepat.
"hah? kenapa kakak cepat sekali berubah pikiran?" tanya Ruby ingin tahu
"karena aku tidak ingin mati di hajar lagi oleh kakak mu itu" ucap Rice sambil bergidik ngeri mengingat kekejaman Aleska.
"ah, benar, " wajah Ruby juga tertunduk lesu karena sedih memikirkan Rice yang lucu tidak jadi menjadi kakak laki laki nya.
"ah aku ada ide, bagaimana kalau hubungan kita menjadi rahasia kita berempat saja?" usul Ruby.
"ah, benar, aku setuju dengan mu" Rice menjawab juga dengan sangat bahagia mengulur kan telapak tangan nya ke arah Ruby untuk TOS .
Sintia yang melihat kelakuan konyol mereka berdua menepuk jidat nya.
sedangkan reaksi Carllo hanya tersenyum dan menggeleng gelengan kepalanya melihat tingkah adik nya yang lucu dan polos saat mendapat kan seorang teman baru yang juga sepertinya, mereka berdua terlihat sangat cocok.
*
di suatu desa kecil di pinggir kota Jerman seorang gadis kecil berlari dengan penuh keringat.
"ibu, ini aku membawakan obatnya"
gadis itu membawakan setumpuk tanaman obat di tangannya dan menyerahkan kepada ibunya yang sibuk merawat seorang pasien yang terluka berat di seluruh tubuhnya.
terlihat di beberapa tempat seperti di dada dan wajahnya memar dan biru akibat beberapa pukulan yang keras.
"ibu apakah orang ini akan selamat?, apakah dia seorang penjahat?" tanya Freya yang penuh dengan rasa ingin tahu.
"Freya itu bukan urusan kita,"
Freya sudah terbiasa membantu ibunya yang seorang dokter dan dia juga menguasai pengobatan tradisional dari kecil, jadi Freya bisa memahami beberapa teknik pengobatan tradisional.
sejak ibunya datang ke desa ini dia menutupi identitasnya sebagai seorang dokter. dan mulai belajar teknik pengobatan tradisional dan meramu obat obatan yang berhasil di kumpulkan nya di hutan sekitar desa.
Freya bersama ibu nya sudah seminggu merawat orang asing yang mereka temukan terluka di sekitar desa mereka tinggal saat kembali dari mencari beberapa tanaman obat di hutan.
"ibu dia sudah sadar!!" Freya berteriak memanggil ibu nya.
"apakah anda baik baik saja?" tanya ibu anny
"iya, apakah anda yang menyelamat kan saya?"
ucap pemuda itu sambil berusaha duduk dan memegangi bagian tulang rusuknya yang masih terasa sakit.
sambil melihat ke sekeliling ruangan yang cukup nyaman dan lukanya sudah di balut dengan rapi.
"benar, saya adalah Anny dan ini putri saya Freya." ucap anny memperkenalkan dirinya kepada pemuda itu. karena menurutnya, dia hanyalah pemuda malang yang tidak sengaja mereka temukan.
pria misterius tersebut memperhatikan kedua ibu dan anak itu secara bergantian.
"maaf telah merepotkan anda berdua, nama saya adalah Tommy, saat dalam perjalanan, tiba tiba ada beberapa orang yang menyerang saya,"
tommy mencoba menjelaskan alasan kenapa dia terluka.
"saat itu anda mau kemana?" freya yang penasaran langsung bertanya kepada pemuda di hadapan nya ini.
"freya jangan bertanya terlalu banyak, itu bukan urusan kita" ibu freya, anny memarahi freya yang dirasanya lancang menanyakan urusan orang lain yang baru saja di kenal.
"tidak apa apa nyonya. saya dari kota ingin mengunjungi saudara saya tapi sepertinya saya malah tersesat ke desa ini dan di serang beberapa orang preman."
Tommy mencoba menjawab pertanyaan freya di depan nya, karena dia tidak ingin melukai perasaan gadis kecil tersebut. walaupun sebenarnya dia berbohong kepada mereka berdua.
setelah beberapa hari, setelah dirasa cukup sehat, Tommy akhirnya pamit kepada Freya dan ibu Anny dan pergi dari kediaman mereka.
sebelum dia pergi dia terlihat mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang.
"kirimkan aku sebuah mobil, aku akan mengirimkan alamatnya."
perintahnya tommy kepada seseorang di ujung telfon.
setelah itu tommy segera berpamitan kepada ibu dan anak itu dengan sopan dan dia juga telah meninggalkan beberapa dolar di atas meja nakas tempat tidurnya. sebelum dia pergi.
tommy berjalan kaki untuk keluar dari desa itu, saat tommy sampai di ujung jalan terlihat sebuah mobil hitam yang sudah menunggunya.
"apakah kamu baik baik saja,? apa yang terjadi?" tanya pemuda yang juga seumuran dengan nya dengan antusias, karena telah seminggu dia kehilangan kontak dengan rekan nya ini.
"kita pulang dulu, aku akan menceritakannya kepadamu nanti" jelas tommy dengan singkat.
"hmm baik lah" ucap pemuda itu sambil menginjak pedal gas mobil nya dan berlalu pergi meninggalkan desa yang tenang menuju ibu kota jerman yaitu berlin.
"selamat malam tuan?"
Steve yang merupakan asisten pribadi carllyss datang ke ruang kerja carllyss di kediamannya.
(carllyss adalah nama resmi dari carl yang merupakan ayah dari Carllo dan Rice)
"iya, apakah sudah ada kabar dari Tommy?" tanya carl kepada bawahannya itu dengan tidak sabar.
"benar tuan,"
steve memanggil Tommy masuk keruangan Carl untuk melaporkan hasil penyelidikannya langsung.
"selamat malam tuan" sapa Tommy dengan sopan menghadap kepada atasannya tersebut.
"iya selamat malam, Tommy silahkan duduk terlebih dahulu, saya dengar kamu sempat terluka, apakah sekarang kamu baik baik saja?" tanya Carl sambil melihat ke arah pemuda itu.
mendengar itu Tommy segera duduk di atas sofa di ruang kerja carllyss.