
saat berjalan keluar mengikuti langkah kecil aleska Ruby melihat beberapa pengawal nyonya Amanda terbaring tidak bernyawa di lantai mension, ternyata untuk bisa menyelamatkannya, Aleska telah membunuh beberapa pengawal nyonya Amanda.
setelah kejadian itu Ruby selalu merasa aman saat berada di dekat Aleska dan memutuskan akan selalu menempel padanya.
sampai Ruby masuk ke sekolah dan tiba tiba saja Sofia putri bungsu nyonya Amanda juga memasuki sekolah yang samanya dengan nya. karena itu Ruby hanya bisa diam tampa bisa melawan sama sekali, dia merasa sangat takut berada jauh dari bintang keberuntungannya yaitu Aleska.
*****
tapi setahun kemudian tiba tiba kakaknya yang merupakan bintang keberuntungan bagi Ruby muncul di sekolahnya, entah karena kebetulan atau nasib baik sedang berpihak kepadanya.
semenjak saat itu Ruby sama sekali tidak pernah lagi melihat batang hidung Sofia , dan anak anak di sekolahnya berangsur angsur memperlakukannya dengan baik sampai sekarang.
"aku harus melakukan sesuatu utuk membalas kebaikan kak Aleska" tapi saat membayangkan itu Ruby tersenyum malu malu.
*
sementara Aleska bukanya pergi ke kantor seperti yang dikatakan nya kepada Ruby, tapi dia langsung ke bangsal tempat dia memerintahkan Hugo mengurung lima preman yang menyerang Ruby. karena dia tidak ingin membuat gadis itu khawatir.
"selamat datang tuan, silahkan masuk" sapa Hugo.
"baik"
Aleska berjalan kedalam ruangan dingin yang terlihat cukup terbengkalai, tapi saat masuk ke dalam Aleska melihat carllo sudah duduk di sana dengan santai.
tapi aleskay samasekali tidak terkejut dan bersikap cuek dan dingin seperti biasanya.
dia berjalan masuk seolah tidak melihat Carllo duduk dan berada di sana, dia benar benar mengabaikan pemuda itu.
"apakah mereka mengatakan sesuatu?" tanya Aleska kepada Hugo.
"ya tuan, semenjak sampai ke sini mereka selalu saja berteriak minta di lepaskan dan berkata jika yang menyuruh mereka adalah Dea teman sekolah nona Ruby"
mendengar ini Aleska mengerutkan keningnya.
"siapa dia?"
"dia adalah putri walikota Berlin, mungkin karena itu dia berani untuk menyewa geng lokal untuk menganggu nona Ruby.
dan sepertinya mereka bertindak tampa sepengetahuan ketua geng mereka." jelas Hugo.
aleska menampakan seringai seram dari bibir merah alaminya.
melihat ini Hugo merasa merinding menyaksikan ekspresi Aleska yang seperti itu.
Hugo merasa kasihan kepada walikota itu, karena bagi Aleska untuk berhadapan dengan walikota itu hanya seperti berhadapan dengan seekor semut.
begitupun dengan Carllo, dia juga ikut merinding melihat Aleska menyeringai seperti itu, padahal dia tidak mengenal persis Aleska seperti Hugo.
"kalau begitu panggil ketua mereka kemari sekarang"
mendengar Aleska mengatakan untuk memanggil ketua geng lokal yang cukup terkenal itu dengan mudah, Carllo cukup penasaran apakah yang dia dengar dari mulut Aleska akan berjalan sesuai keinginan pemuda itu .
"baik tuan" Jawab Hugo patuh.
Hugo segera mengeluarkan handphone nya dan menelfon seseorang.
"hallo tuan Hugo, apa kabar, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang di balik handphone itu.
setelah Hugo mengatakan itu suara orang di seberang sana tidak terdengar untuk beberapa saat.
"maaf kan saya tuan, saya akan segera ke sana dan akan menerima hukuman dari anda."
suara orang di balik telfon itu terdengar sedikit bergetar.
beberapa waktu kemudian terdengar suara kedatangan beberapa mobil yang mendekat ke bangunan itu.
mendengar ini Carllo sedikit tersentak, tapi dia tetap berusaha tenang duduk di kursinya dan menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya karena salah satu tujuannya datang kesini untuk mengukur sendiri seberapa besar kekuatan Aleska.
begitupun dengan Aleska, dia tidak mungkin tidak mempertimbangkan kedatangan Carllo kali ini, karena itu dia sengaja memerintahkan Hugo untuk memanggil bos para geng lokal tersebut untuk datang ke tempat mereka secara langsung untuk memperlihatkan kepada Carllo sedikit kekuatannya.
kalau hanya geng lokal dan walikota Berlin saja bukan apa apa untuknya.
sebenarnya Hugo juga menyadari tujuan Aleska kali ini, kalau tidak Aleska bisa saja langsung menghabisi nyawa mereka, karena dia adalah orang yang tidak pernah tawar menawar soal keselamatan Ruby selama ini. tentu saja Hugo mengetahui ini dengan pasti.
jadi kali ini dia menyiratkan kepada Carllo untuk mundur dalam mendekati Ruby, karena dia bukan apa apa di bandingkan dengan tuannya untuk bisa melindungi Ruby. tidak seperti tuanya, seharusnya melihat ini Carllo melihat jelas perbedaan dirinya dan aleska.
setelah mobil yang baru datang itu berhenti terlihat beberapa orang laki laki dengan otot otot besar dan penuh dengan tato di badan mereka melangkah masuk kedalam gedung, tapi rasa khawatir terlibat jelas di wajah mereka.
"rupanya kalian sudah datang" ucap Hugo.
"iya tuan, kami langsung kesini setelah menerima perintah dari anda,"
salah satu dari mereka yang memiliki kepala botak menjawab Hugo dengan kepala tertunduk.
dan dengan sudut matanya melihat ke arah
dimana lima orang anak buahnya di kurung di dalam sebuah ruangan yang berpagar besi persis seperti sebuah penjara narapidana, sepertinya tempat ini adalah tempat khusus bagi mereka untuk menahan musuh musuh mereka, melihat ini saja keringat dingin mulai keluar di dahi mereka.
sedangkan Carllo juga menyaksikan adegan ini dengan jelas.
dia melihat ke arah Aleska, sepertinya mereka belum pernah bertemu dengan Aleska secara langsung karena di lihat bagaimanapun sepertinya mereka tidak mengenali Aleska yang duduk diam di belakang Hugo.
sedangkan lima orang yang sedang di kurung oleh Hugo hampir pipis di celana mereka setelah melihat bos besar mereka datang bersama tiga orang kepercayaannya,
yang merupakan petarung terbaik di organisasi mereka.
tapi sekarang mereka semua menunduk tidak berdaya di hadapan orang itu. sebenarnya siapa orang yang telah berani mereka sentuh.
melihat Hugo diam saja bos mereka yang memiliki kepala botak itupun kembali berbicara dengan suara sedikit tercekat.
"tuan, saya akan menerima hukuman dari anda terlebih dahulu karena tidak bisa mendidik mereka dengan benar hingga mereka berani menyentuh anda."
"tidak, mereka tidak menyentuhku sama sekali" Jawab Hugo.
mendengar ini laki laki kekar dengan kepala botak itupun langsung melihat ke arah lima orang laki laki yang sedang berada dalam ruang tahanan. seolah olah meminta penjelasan dari mereka.
"bos kami tidak bermaksud menganggu mereka aku hanya ingin bermain main dengan gadis kecil....
belum sempat menyelesaikan kalimatnya semua orang terbelalak karena kaget mendengar suara hempasan kursi kayu yang di lempar ke arah mereka berlima hingga hancur berkeping keping.
untung saja mereka tidak terluka karena dihalangi oleh beberapa batang besi yang berjejer memagari tempat mereka berdiri.
mereka semua sontak melihat ke arah laki laki tinggi yang berada di belakang Hugo yang melemparkan kursi kayu tersebut, mata kuning keemasan nya seperti mata seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.