
"ah, ingat kedepannya jika bertemu, panggil dia ayah" aleska memberi tahu ruby sambil memencet hidung adiknya ruby dengan gemas.
hari ini dia sangat bahagia, karena dia bisa mengantar Ruby ke sekolah dengan usaha nya sendiri, walaupun sebenarnya dia memiliki beberapa mobil tapi tentu saja itu menjadi salah satu rahasianya.
sekarang dia bisa mengantar dan menjemput Ruby ke sekolah dan tidak akan membiarkan Ruby berjalan kaki dan naik bus umum lagi setiap hari untuk pergi ke sekolah.
"ah kakak ini sakit" Ruby mengeluh sakit karena hidung nya di pencet oleh Aleska.
"tapi apa yang tadi kakak katakan? apakah tentang ayah seseorang?" tanya Ruby, mengingat apa yang di katakan Aleska barusan.
"ah lupakan saja" Aleska langsung masuk ke dalam mobil dan Ruby langsung menyusul kakaknya dan duduk di samping pengemudi.
"kakak ayo kita berangkat sekarang"
dengan tingkah imut dan suara manjanya Ruby mengajak Aleska untuk segera berangkat ke sekolah.
jika setiap hari begini terus bagaimana Aleska dapat menahan perasaanya kepada Ruby.
Aleska menggeleng geleng kan kepalanya berusaha tidak memikirkan Ruby, tapi saat dia akan menginjak pedal gas, dia melihat Ruby malah tidak memasang sabuk pengamannya.
sehingga Aleska mencondongkan badannya ke arah ruby untuk mengambil sabuk pengaman yang ada di samping Ruby. karena gerakan Aleska yang tiba tiba malah membuat Ruby terkejut dan tidak sengaja bibirnya menempel pada pipi aleska.
ternyata niatan Aleska yang ingin segera bergegas pergi untuk menghindari Ruby malah membuat situasi semakin sulit untuk di kendalikan nya. tapi alyeska berusaha tetap terlihat tenang memasangkan kembali sabuk pengaman Ruby, seolah olah tidak terjadi apapun
sementara Ruby memegang bibirnya dengan kaget dan melihat Aleska duduk kembali setelah memasang sabuk pengaman untuk nya.
tapi dia tidak tahu harus mengatakan apa dan hanya diam sepanjang jalan menuju ke sekolahnya, Ruby dan Aleska meras suasana terasa sangat canggung sekarang di antara mereka berdua.
beberapa saat kemudian mereka sampai di sekolah Ruby.
( aghh.... akhir nya sampai juga) batin ruby.
ruby melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil kakaknya Aleska.
"kakak terimakasih, dan hati hati di jalan"
"iya, belajar dengan baik"
"ya tentu saja"
setelah berbicara beberapa kata Aleska langsung pergi meninggalkan Ruby yang berdiri di depan sekolahnya.
Aleska mengendarai mobilnya dengan cukup laju dan tiba tiba berhenti di tepi jalan yang cukup sepi.
sambil terengah-engah Aleska keluar dari dalam mobilnya untuk mendapatkan sedikit udara segar.
"ahhhh apa yang aku lakukan?"
aleska terus berbicara pada dirinya sendiri sambil meletakan tangannya memegangi dadanya yang terasa hampir meledak.
bahkan saat tadi masih di dalam mobil bersama Ruby dia mencoba menahan diri untuk tidak bernafas untuk mengurangi suara detak jantungnya yang sangat kuat yang mungkin saja di dengar oleh ruby.
memikirkan Ruby yang tadi tidak sengaja mencium pipinya dadanya kembali terasa sangat sesak.
"Ruby, apa yang harus aku lakukan padamu?"
sementara Aleska menenangkan dirinya, Ruby masih berdiri terpaku tepat dimana dia berdiri saat ditinggalkan oleh Aleska.
"oh tuhan apa yang telah aku lakukan?"
Ruby berbicara pada dirinya sendiri sambil terus memegangi bibirnya.
"untuk kak Aleska tidak membunuhku"
saat Ruby berfikir seperti itu Sintia yang juga baru saja datang ke sekolah melihat Ruby yang hanya berdiri di depan sekolah sambil berbicara sendiri. hingga Sintia datang menghampiri Ruby dan mengejutkannya
"hayoooooo, kamu lagi memikirkan kan apa?" memegang bahu gadis itu untuk mengejutkan nya.
"kamu kenapa, pagi pagi sudah melamun?"
"kenapa kak aleska mau membunuh mu? apakah kamu membuat kesalahan kepadanya?"
Sintia terus bertanya dengan penasaran karena dia sempat mendengar sedikit kalau Ruby menyebut nyebut kakaknya Aleska akan membunuhnya.
"ah Sintia jangan menganggu ku"
Ruby dengan kesal segera pergi ke kelas dengan langkah yang besar meninggalkan Sintia sendiri.
" Ruby, Ruby .... tunggu aku"
"aku mendengar gosip baru tentang kakak mu Aleska?" dengan suara yang cukup kuat.
mendengar ini Ruby langsung menghentikan langkahnya dan menoleh melihat Sintia di belakang nya.
"akhirnya kamu berhenti juga." ucap Sintia.
"apa kata mu? ada gosip baru tentang kakak ku?" sambil membalikkan badannya.
"benar sekali, apakah kamu belum mengecek handphone mu, group forum sekolah sudah di penuhi dengan gosip kakak mu yang keluar dari sekolah dan sekarang memiliki setengah saham dari Davidson Coperation."
"hah apa yang kamu katakan?"
ruby segera melihat handphone nya dan benar saja, jika foto Aleska dengan seragam sekolah di sandingkan dengan memakai stelan jas sudah terpampang dimana mana.
"dunia sekarang sangat mengerikan, bahkan aku baru tau pagi, ini jika kak aleska sudah keluar dari sekolah." ucap Ruby dengan ekspresi aneh.
"bagaimana tidak, semua murid di sekolah kita sedang heboh karena berita kakakmu yang sangat cepat tersebar"
hah, tapi tunggu memiliki setengah saham dari Davidson Coperation?"
Ruby diam dan berfikir, bagaimana ini mungkin, ini sangat berlebihan kalau mereka memberikan kak Aleska setengah saham mereka sebagai hadiah.
Ruby berbicara kepada dirinya sendiri.
tapi si dengar cukup jelas oleh Sintia.
Ruby, apakah kamu bodoh, Davidson Coperation adalah milik orang tua mu tentu saja ini tidak aneh jika di memberikan setengah sahamnya kepada putra nya sendiri?
"putra?" Ruby ingat pagi ini aleska mengatakan jika dia bertemu dengan tuan David jangan memanggilnya dengan sebutan tuan tapi ayah.
"ah bagaimana aku bisa sebodoh ini." umpat ruby kesal pada dirinya sendiri dan memukul kepalanya, memikirkan kalau dia sangat bodoh tidak mengerti apa yang di katakan oleh kakaknya tadi pagi.
"bagaimana ini, ini pasti tidak sesederhana kelihatannya, bagaimana mungkin nyonya Amanda membiarkan ini begitu saja"
Ruby sangat mengawatirkan kakaknya.
"bagaimana aku bisa membantu kakak?"
saat Ruby berpikir dengan serius bagaimana cara membatu kakaknya.
beberapa saat kemudian guru datang ke kelas mereka karena sudah masuk jam pelajaran, Ruby harus menunda keinginannya dan memikirkannya lagi nanti saat pulang sekolah.
dia tidak bisa membiarkan kakaknya bekerja dan menghadapi masalah sendiri.
***
saat mobil Aleska sampai di perusahaan Davidson Coperation dengan bangunan megah setinggi hampir 200 M yang memiliki sekitar 50 lantai atau hampir setara dengan tinggi bangunan Westendstrae 1 yang berada di kota Frankfurt.
saat Aleska sampai dia telah di sambut oleh beberapa orang saat turun dari mobilnya dan menunduk memberikan hormat.
setelah menerima salam hormat mereka, Aleska dengan santai berjalan masuk ke perusahaan dan mengabaikan tatapan orang yang yang memperhatikan nya dan berbisik bisik membicarakan kehadirannya, entah itu pujian atau hinaan dari mereka, aleska sama sekali tidak memperdulikannya.