Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
061 Gadis Kecil Yang Menakutkan



"Hmm baik lah, apakah kakak benar benar adalah CEO Unity Resource Group?" Tanya Wanda sedikit menurunkan nada suara.


"Bisa di katakan begitu" jawab Aleska ringan.


"Kalau begitu, apakah aku boleh melihat lihat anggota Unity Resource Group saat latihan?"


Tanya wanda lagi dengan penuh harap.


*****


"Hmm baiklah, nanti jika ada waktu Mike atau Hugo akan menemanimu jalan jalan di Unity Resource Group." Jawab Aleska yang sepertinya tidak keberatan sama sekali.


Mendengar ini sontak Wanda kembali melihat ke arah Mike dan Hugo. Dalam hatinya "kenapa harus bersama dengan orang orang menyebalkan seperti mereka."


Tapi mau tidak mau dia harus setuju karena dia sangat penasaran tentang Unity Resource Group.


"Hmm baiklah" Baiklah ucap Wanda setuju.


"Kalau begitu aku akan pergi sekarang" ucap Aleska.


"Ok, aku juga ingin pulang sebentar" sambung Wanda.


"Naiklah, lebih baik segera menemui ibumu sebelum dia kembali mengamuk dan menghukum mu lagi." Aleska mengingatkan.


Wanda hanya mengangguk angguk, dan pergi dari sana


Mike dan Hugo segera berdiri dari duduk mereka dan bersiap untuk kembali ke markas mereka untuk melanjutkan rencana mereka.


"Tuan mari kita pergi sekarang." Ucap Mike


"Baik." Aleska menyetujui.


Mereka berempat segera keluar dari mension sisi Timur, dimana Wanda pergi sendiri ke mension utama untuk menemui ibunya.


Sementara Aleska bersama dua orang kepercayaannya langsung berangkat menuju markas mereka dengan lega. Karena saat ini mereka bisa berjalan beriringan tanpa perlu bersembunyi sembunyi lagi.


*Disekolah Ruby


Ruby berjalan di koridor sekolahnya menuju ke kelasnya merasa aneh, karena biasanya tidak akan ada murid yang memperhatikan kedatangannya, tapi sekarang hampir semua murid menyapanya dengan sangat ramah. Tapi tentu saja tetap ada yang berbisik bisik dan melihat Ruby dengan pandangan iri.


"Hai Ruby, "


"Hai juga Dea"


Ruby membalas sapaan Dea dengan canggung karena tidak biasanya mereka saling tegur sapa seperti ini.


Karena Dea adalah salah satu murid terkaya di sekolah ini, dia juga sangat cantik dan pintar, biasanya dia sangat sombong. Tapi kali ini dia tersenyum begitu ramah kepada Ruby, membuat bulu kuduk Ruby berdiri karena geli melihat tingkah Dea.


"Ruby, mari kita makan bersama nanti siang di kantin, aku akan mentraktir kamu sepuasnya" ucapnya lagi kepada Ruby.


"Ah terimakasih" tolak Ruby sopan.


"Ruby?"


Dari jauh terdengar suara yang tidak asing di telinga Ruby yang memanggilnya. Dia langsung menoleh mencari sumber suara itu.


Ruby segera berjalan ke arah Sintia begitu juga dengan Sintia yang sangat antusias berlari ke arah Ruby, karena dia sangat penasaran dengan gosip yang beredar dari tadi malam saat pesta besar Devano putra pertama keluarga Davidson.


Sementara Dea yang melihat dia di abaikan oleh mereka berdua merasa sangat kesal.


"Awas saja kalian berdua, kalau bukan karena kakak mu Aleska aku sama sekali tidak sudi untuk berbicara kepadamu apa lagi untuk makan bersama dengan anak seorang simpanan sepertimu.


"Ayo kita pergi" Dea dengan kesal mengajak kedua temanya untuk segera pergi ke kelas mereka.


"Ruby, cepat katakan kepada ku, apa sebenarnya yang terjadi saat pesta kakak mu Devano, aku dengar kamu juga berada di sana, dan semua siswa sekarang sedang membicarakan mu" Sintia terus mendesak Ruby dengan berbagai pertanyaan.


"Hmm aku juga tidak tahu, jika pesta yang akan di hadiri Rice ternyata adalah pesta keluarga ku sendiri" Ucapnya polos.


"Ruby, ini sangat kebetulan, kamu bisa menghadiri pesta itu dan menjadi terkenal sekarang. Katanya kakak tiri mu Devano itu tidak ada apa apanya di bandingkan dengan kakak mu Aleska ?"


"Hmm aku juga tidak tau, yang aku dengar kakak ku Aleska adalah CEO dari Unity Resource Group."


*****


"Ruby, kamu benar benar menakjubkan" Ucap Sintia sambil menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya sendri.


"Sintia, yang menakjubkan itu kakak ku Aleska bukan aku." Berusaha menjelaskan, karena dia berfikir jika sahabatnya telah salah paham.


"Sama saja, kan kalian saudara kandung, dan aku dengar kakakmu sangat memanjakan mu di pesta itu, jelaskan semuanya padaku!" Ucapnya lagi dengan antusias.


"Hmm manja bagaimana maksud mu, dia memang selalu seperti itu" Jawabnya heran, apa nya yang manja pikir Ruby.


"Ya tuhan, benar juga, kenapa aku bisa lupa, jika kakak mu selalu saja menghajar semua orang yang mencoba menjahili mu selama ini, Ruby selama ini dia juga sudah sangat perhatian kepadamu kan" Sambung Sintia mengatakan itu dengan mata yang berbinar binar.


"Sintia, benar apa yang kamu katakan, dia sangat baik kepadaku, tapi aku saja tidak bisa melakukan apapun untuknya dan hanya bisa menyusahkan nya saja dan menjadi beban untuk nya" Pikir Ruby kembali, mengingat ingat kebaikan kakak nya itu.


"Ruby, kemana perginya rasa percaya diri mu, sebagai adik dari CEO Unity Resource Group kamu harus kuat untuk berdiri di samping kakak mu. Kamu tidak harus melakukan apapun, cukup bersyukur dan nikmati saja semua yang di berikan kakakmu kepadamu" Saran Sintia masih dengan wajah antusias nya.


"Kurasa apa katamu ada benarnya Sintia, aku harus terus tumbuh kuat dan menggapai mimpi ku sendiri sehingga terlihat pantas untuk menjadi adik dari seorang Aleska yang merupakan pemimpin dari Unity Resource Group" Ucapnya kembali dengan percaya diri.


@pesan Author(memang ya guys ya, teman yang berkualitas itu sangat penting)


"Benar sekali, aku akan selalu mendukung mu"


Ruby dan Sintia berjalan menuju kelas mereka besama.


"Satu lagi Sintia, apakah kamu ingat saat ada taksi yang menjemput ku saat pulang sekolah kemarin? Itu ternya itu adalah orang suruhan kak Aleska, mereka juga sudah lama bersahabat dan sekarang aku juga menganggapnya sebagai kakak ku" ucap Ruby menceritakan kisahnya waktu itu.


"Benar kah? Pantas saja saat itu aku merasa aneh, taksi itu khusus datang menjemputmu seperti sudah menjadi taksi pribadi saja, ternya dia adalah orang suruhan kakakmu, sekarang itu masuk akal" Ucapnya sambil mengangguk angguk kecil.


Sampai guru datang untuk memulai pelajaran, baru mereka menghentikan pembicaraan mereka berdua. Dan mulai mengeluarkan buku pelajarannya.


Sekarang semua murid tampak belajar dengan sangat serius karena sebentar lagi akan ada ujian kelulusan yang akan mereka hadapi sebagai murid di tahun akhir.


Setelah itu semua murid akan tamat dan bersiap siap untuk memasuki Universitas favorit mereka masing masing.


Sama hal nya Ruby dan Sintia, mereka berdua juga nampak sangat serius dalam belajar dan mengikuti instruksi dari gurunya, karena mereka juga memiliki mimpi mereka sendiri.


Tapi sebenarnya Ruby tidak perlu khawatir karena nilainya setiap tahun selalu saja bagus, bahkan sangat bagus untuk bisa masuk ke universitas favoritnya.