Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
063 Preman Yang Kehilangan Harga Diri



"Hey, ayo kita segera kembali ke sekolah, bukankah katamu kakakmu akan menjemput sebentar lagi" ucap Sintia.


"Oh iya, benar, ayo kita pergi" ucap Ruby.


"Hey tunggu dulu, aku juga ingin menelfon kakak ku minta di jemput juga" kata Rice sambil mengeluarkan handphone dari dalam sakunya.


"Hahaha baik lah, silahkan ditelfon dulu tuan muda Rice"


Sintia tertawa mendengar perkataan Rice yang juga ingin di jemput oleh kakaknya.


*****


tuuutttt tuuuutttt.....


"Hallo. Ada apa?" sahut Carllo di ujung sana dengan nada sedikit terganggu.


"Kakak, apakah kamu tidak sibuk sekarang? bisakah kamu menjemput ku?" Tanya Rice kepada orang di balik handphone nya itu


"Sepertinya aku tidak bisa, kamu pulang sama sopir saja"


"Hmm, baik lah, kalau kakak sibuk,....." ucapnya terputus oleh Ruby.


"Apakah kak Carllo tidak bisa datang menjemputmu?" tanya Ruby kepada Rice dengan sedikit berbisik.


"Apakah itu suara Ruby?" tanya Carllo mengkonfirmasi.


"Benar,"


"Aku ke sana menjemput mu sekarang, kalian dimana?" Mendengar suara Ruby di telfon adiknya Rice sontak membuat Carllo yang sedang sibuk dengan beberapa dokumen di tangannya langsung berdiri tegak dari kursinya.


"Aku di sekolah" jawabnya dengan ekspresi bingung.


"Baik, tunggu di sana" Carllo langsung mematikan sambungan teleponnya dan langsung menuju ke sekolah Rice.


Mendengar ini Rice menjadi bingung dan terus menatap layar handphonenya yang sudah mati.


Ada apa dengan nya? gumam Rice dengan bingung melihat reaksi kakaknya Carllo yang sedikit aneh.


"Ada apa?" Tanya Ruby lagi.


"Bukan apa apa, katanya dia akan datang menjemput ku di sekolah. ayo kita segera pergi dari sini." ajaknya.


"Baik, ayo!"


Mereka bertiga keluar dari restoran itu setelah Rice membayar semua tagihan nya dan mereka berjalan beriringan untuk kembali ke sekolah mereka dan menunggu kakak mereka di sana.


Tapi saat hampir sampai ke sekolah mereka bertiga tiba tiba di dikepung oleh beberapa orang preman, yang mencoba menganggu mereka


Melihat ini Rice langsung berdiri paling depan untuk melindungi Ruby dan Sintia karena dia adalah satu satunya laki laki di antara mereka bertiga. Jadi tentu saja Rice harus melindungi mereka berdua.


"Kalian mau apa? Jangan coba coba untuk menganggu kami atau kalian akan menyesal."


Ucapnya sambil menyuruh mereka berdua untuk mundur dan kalau bisa pergi dari sini dan minta bantuan.


Dan dia harus lebih bekerja keras karena Ruby dan Sintia sepertinya tidak akan berhasil kabur dari mereka.


Rice mulai bertarung seorang diri melawan mereka, tapi walaupun Rice sering berolahraga dan memiliki badan bagus tapi untuk melawan lima orang preman sekaligus yang memiliki badan yang lebih besar darinya itu sedikit tidak mungkin.


"Rice hati hati," Teriak Ruby ke arah Rice yang sedang bertarung melawan lima orang preman sekaligus.


Sebenarnya dia ingin langsung membantu Rice, tapi pemuda itu sangat melarangnya, dan untuk menghargai Rice, Ruby hanya diam di tempatnya berdiri bersama Sintia, dia tidak ingin membuat Rice merasa tidak berguna sebagai seorang laki laki.


Jadi dia ingin membiarkan terlebih Rice bertindak dahulu, tapi jika Rice tidak bisa melawan mereka mau tidak mau Ruby akan maju melawan mereka semua.


Mendengar suara teriakan dari Ruby, salah satu dari mereka menuju ka arah Ruby, mereka hampir lupa tujuan mereka yang sebenarnya, karena sibuk menghajar bocah laki laki yang sombong ini.


Salah satu dari preman itu ingin menarik tangan Ruby. Tapi siapa sangka, tiba tiba preman yang bertubuh besar itu terhempas ke tanah sebelum sempat menyentuh gadis itu.


mendengar suara hempasan yang sangat kuat, mereka menghentikan gerakan nya yang sedang menghajar Rice dan melihat ke arah suara itu, siapa sangka yang mereka lihat adalah salah satu teman mereka yang terkapar di tanah berkerikil itu.


Rice yang juga menoleh ke arah Ruby pun juga terkejut menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya, siapa orang yang datang untuk menolong mereka, batin Rice.


Tapi belum sempat dia bisa bereaksi semua preman itu langsung melepaskan nya dan menuju ke arah Ruby.


Karena melihat teman mereka terhempas jatuh ke tanah mereka berhenti menyerang Rice dan sekarang mereka semua berjalan ke arah Ruby untuk beralih menyerang gadis itu.


"Ruby cepat lari!" Teriak Rice dengan panik, melihat preman yang awalnya menghajar dirinya sekarang berbalik arah ingin menyakiti Ruby.


Tapi Ruby dan Sintia yang melihat preman itu mendekat ke arahnya hanya diam di tempatnya tampa bergeming.


Rice yang melihat ini tidak tau harus melakukan apa, melihat mereka berdua sama sekali tidak bereaksi.


Sintia hanya diam melongo melihat kearah Ruby dengan wajah ketakutan, sementara Ruby hanya diam di tempatnya berdiri dengan santai. Dia terlihat bereaksi seperti tidak terjadi apapun di depannya.


Tapi baru saja laki laki yang sedikit bertubuh gempal mendekat ke arah Ruby, pria itu juga terhempas ke tanah oleh tendangan gadis itu tepat di ulu hatinya membuat pria bertubuh cukup besar itu tidak bisa bangkit lagi dari tanah.


Terlihat darah segar mengalir dari mulut laki laki itu, sementara gadis yang baru saja menghantamnya terlihat hanya tetap berdiri di tempatnya Tampa bergeser sedikit pun.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Rice tidak percaya dengan apa yang di lihat oleh kedua matanya sendiri. Ekspresi Rice kali ini sama persis dengan ekspresi Sintia yang dilihatnya tadi.


"Apakah Sintia seperti itu karena telah menyaksikan kejadian seperti ini juga sebelumnya?" Pikir Rice.


Sementara salah satu dari mereka, yang terlihat seperti pemimpinya mulai geram, melihat ke arah Ruby.


Dia mengertakan giginya menyaksikan satu persatu temanya lagi lagi di kalahkan oleh gadis kecil itu.


Akhirnya dia memerintahkan dua orang temanya yang lain untuk memegang gadis itu, sementara dia akan mengajarnya dengan puas.


Karena bagaimanapun dia hanyalah seorang gadis kecil, jika kedua tangannya di pegang maka dia tidak akan bisa bergerak dan melakukan apapun, dan saat itu aku akan memberikannya pelajaran. pikir preman itu melihat ke arah Ruby.


Akhirnya laki laki tinggi berkulit gelap dan bertubuh kekar itu memutuskan untuk menyerang Ruby secara bersamaan dengan dua orang temanya yang lain.


Tapi semua berjalan tidak seperti yang mereka harapkan, jangankan untuk membalas pukulan gadis itu, menyentuh sehelai rambutnya saja mereka tidak sanggup, mereka sama sekali tidak bisa menyentuh gadis itu.