
"sekarang, kamu kembali ke rumah dan istirahat, kosongkan sekolah itu, tentang para siswa yang begitu gigih ingin masuk kedalam pekarangan sekolah ataupun ingin menghancurkan seluruh gedung kamu biarkan saja, apa kamu mengerti?" ucap orang tidak di kenal itu memerintah Mario.
"hey, siapapun kamu, aku tidak akan mendengarkan apa yang kamu katakan, aku adalah kepala sekolah di sini, dan bagaimanapun aku ingin menyelamatkan sekolah ini, itu semua terserah padaku" ucap Mario mulai emosi.
"aku adalah mentari pendidikan di negara Jerman saat ini, tentu saja semua sekolah dapat beroperasi sesuai perintah dan izinku,
jika kamu tidak ingin aku mencabut izin sekolah itu besok pagi, maka tinggalkan sekolah itu sekarang." ucap menteri itu dengan tegas.
mendengar apa yang di katakan oleh orang itu, Mario terdiam kaku di tempatnya.
dia seperti seekor semut yang tidak bisa melakukan apapun. semuanya telah di atur dan di kuasai oleh orang-orang dengan kekuasan.
karena dia harus mendahulukan kepentingan beratus orang siswa lainnya yang tidak bersalah, Mario memutuskan menuruti perkataan menteri itu.
tidak mungkin dia mengorbankan masa depan ratusan siswa lainnya yang akan putus sekolah demi egonya sendiri.
"baik lah, jika kalian semua menjalankan negara ini di atas kekuasan dan uang, maka lakukan sesuka kalian" ucap Mario sangat marah.
"kamu akan mengerti" ucap menteri itu dan memutuskan sambungan telepon.
benar saja, Mario membalikkan badannya kembali berjalan ke meja kerjanya dengan sangat marah.
"ada apa pak?" tanya guru perempuan itu lagi"
"kalian semua, juga berkemas lah dan pulang" ucapnya sambil membereskan barang barangnya di atas meja.
"apa maksud anda pak,?" tanya mereka semua tidak mengerti,
mendengar itu staf administrasi tadi juga mengentikan kegiatannya.
"kita tidak akan melakukan apapun hari, kita akan pulang lewat pintu belakang, itu sudah di putuskan oleh menteri pendidikan" ucapnya lagi tampa melihat siapapun di sana, dengan wajah memerah.
"Mentri pendidikan?" jawan mereka yang ada di sana terkejut.
"apakah barusan yang menelpon pak Mario adalah menteri pendidikan?" tanya guru perempuan itu lagi ke guru guru lainya yang juga ada di sana?.
"apakah masalah gadis kecil ini sama dengan masalah negara? sehingga Mentri pun ikut langsung turun tangan" sambung mereka bergantian sambil menyaksikan tindakan Mario yang membereskan barang barangnya.
"apapun yang mereka lakukan dengan uang dan kekuasaan itu tidak akan berhasil, karena berita tentangnya telah tersebar luas dengan jumlah ratusan orang yang merekam langsung di tempat kejadian.
belum lagi para media dan reporter yang datang puluhan orang hari ini untuk meliput acara kelulusan sekolah kita, tidak mungkin mereka bisa membayar dan menutup mulut semua orang dengan uang kan." sambung yang lainnya lagi, sambil melihat ekspresi pak Mario.
mereka benar kesal, tapi mereka mengatakan itu juga tidak lepas dari mencari muka di hadapan pak Mario.
tapi Mario yang sidah terlanjur sangat marah tidak lagi memperhatikan mereka, dia segera berjalan pergi sambil mengingatkan lagi pada mereka semua untuk pulang.
mereka yang melihat pak mario telah keluar dari pintu itu juga bergegas mengambil barangnya masing-masing dan pergi meninggalkan sekolah itu.
*
jam sebelas malam, semua orang yang sibuk dengan laptopnya masing masing berangsur angsur Merapikan semua barang barangnya dan bersiap siap untuk pulang.
"puk puk puk"
bunyi suara tepuk tangan seseorang terdengar nyaring di tengah ruangan di lantai 10 itu.
semua orang yang mendengarnya juga menoleh ke asal suara.
"pak direktur?" tanya salah satu dari mereka melihat direkturnya memangil mereka semua untuk berkumpul.
"kalian semua hentikan kegiatan kalian dan kemari" ucapnya.
benar saja, sebagian orang yang masih sibuk mengetik di laptopnya menghentikan kegiatan mereka dan bangkit berjalan ke arah di mana direktur itu berdiri.
"apakah kalian semua sudah selesai bekerja hari ini" tanya direktur itu.
"belum pak, pekerjaan saya tinggal sedikit lagi, tapi saya pastikan bisa selesai sebentar lagi" ucapnya laki laki setengah baya dengan badan kurus itu semangat.
tulisan REPORTER tertulis di kartu identitas yang digantung di leher mereka masing masing.
"kalau begitu hentikan, tidak perlu di lanjutkan lagi " ucap direktur itu.
begitupun dengan reporter lain yang berada di sana, mereka semua terlihat bingung mendengar apa yang di katakan oleh direktur mereka.
"tidak perlu kaget, aku akan membayar semua uang lembur kalian hari ini, bahkan akan memberikan bonus besar." sambungnya lagi.
"benarkah?" tanya yang lainya bahagia mendengar kata bonus.
"benar, tapi ganti semua berita yang akan kalian terbitkan besok" ucapnya lagi dengan wajah yang berubah serius.
"pak apa maksud anda?" tanya mereka semua tidak mengerti.
"kita tidak bisa menerbitkan berita itu itu selamanya, dengarkan kata kataku jika kalian masih ingin hidup" ucapnya singkat sambil pergi meninggalkan mereka semua.
*keesokan harinya.
pagi ini nyonya Amanda duduk di kursinya menikmati sarapannya dengan wajah cerah.
"selamat pagi mama" sapa sofia dengan wajah berbinar.
"selamat pagi sayang" balas Amanda tak kalah bahagia.
"apakah tidur kamu nyenyak?" sambung Amanda lagi.
"tentu saja ma, dari semalam aku sudah tidak sabar menantikan kehancuran ruby hari ini." ucapnya senang.
"yah, mama setuju," ucap Amanda sambil mengambil tablet yang ada di sampingnya.
begitupun dengan Sofia, dia juga melihat handphone di tangannya, walaupun sekarang dia sedang menikmati roti selai kacang kesukaannya tapi karena tidak sabar dia makan sambil bermain dengan handphonenya.
"ma kenapa aku tidak melihat satu pun berita tentang gadis itu?" tanya Sofia sambil mengacak-acak handphonenya.
begitupun dengan Amanda, dia juga sudah beberapa kali memeriksa pembaharuan di handphonenya, tapi masih saja tidak ada satupun berita tentang Ruby.
"sayang, coba lihat di Twitter, di sana pasti semua orang telah sibuk membicarakan dan membagikan video dan foto foto mereka berdua" ucap nyonya Amanda.
"benar ma, mungkin ini masih terlalu pagi, untuk mereka menerbitkan beritanya" ucap sofia menyetujui apa yang di katakan oleh Mamanya.
tapi lagi lagi dia tidak menemukan apapun di Twitter nya.
"ma, sepertinya ada yang aneh" ucap Sofia kepada mamanya.
"benar, kamu lanjut makan dulu sayang, mama akan mencek apa yang terjadi" ucap nyonya Amanda bangkit dari kursinya.
"mama mau kemana" tanya Devano yang baru saja turun dan ingin sarapan bersama.
Amanda langsung menghentikan langkahnya mendengar suara putranya yang baru saja datang.
"Devano kamu datang tepat waktu," sambil memegang lengan putranya.
"tadi malam mama sudah menyuruh seseorang untuk menerbitkan artikel tentang skandal Aleska dan adiknya, tapi sepertinya terjadi sesuatu, bisakah kamu memeriksanya untuk mama?" pinta Amanda pada putranya.
"maafkan aku ma, aku tidak bisa menyakiti gadis itu" batin Devano menatap lekat wajah mamanya.
*pengumuman
hallo readers😌, selamat malam.
maaf ya jika author masih update satu episode perharinya, jika kalian setuju author update 2 episode atau lebih setiap harinya jangan lupa komen di bawah🤗. juga sertakan pendapat kalian tentang novel ini ya.
dukungan like dan komen dari kalian bisa memberikan kehidupan baru bagi author.
jadi selalu dukung author dengan like, vote dan kasi hadiah agar meningkat kan rating novel dan author bisa mendapat penghasilan dari itu.
juga membuat author makin semangat berkarya dan meningkatkan kan kualitas karya lebih baik lagi, jika kalian ada saran langsung komen di bawah👇ya atau bisa juga dengan Dm ig author @cacacondadevita jangan lupa follow, nanti pasti author follback.
terimakasih🥰
salam hangat dari author 🤗