Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
064 tetap menggenggam tangan ruby ###



Dia hanya seorang gadis kecil yang terlihat lemah, tapi tenyata tenaganya sangat besar, hanya dengan tendangan kecilnya saja gadis itu bisa membuat suara krek pada tulang rusuk salah satu preman itu dan mematahkannya dengan mudah.


Ternyata gadis ini benar benar brutal saat bertarung, dia hanya akan menyerang titik lemah pada tubuh lawannya saja, dengan itu dia bisa menghemat energinya dan tidak banyak bergerak yang yang bisa menguras tenaga, karena ini dia terlihat sangat santai saat mengalahkan semua preman itu.


benar benar teknik bertarung yang cerdas sekaligus sangat mengerikan, membuat bulu kuduk lawannya bergidik ngeri.


Gadis kecil ini benar benar bukan tandingan mereka.


Carllo yang juga baru datang awalnya sangat panik keluar dari mobilnya untuk menolong mereka bertiga. tapi siapa sangka, langkah kaki Carllo tiba tiba berhenti menyaksikan seorang gadis yang terlihat lemah hanya dengan beberapa gerakan saja bisa menjatuhkan semua laki laki yang memiliki badan dua kali lipat lebih besar darinya satu persatu dengan mudah.


Dan Carllo juga memperhatikan kembali situasinya di sekelilingnya sekali lagi. Carllo melihat adik laki lakinya yang terlihat cukup kuat malah dalam keadaan babak belur bersimpuh di tanah tidak jauh dari Ruby.


Sebenarnya apa yang terjadi sekarang, seketika otak cerdas Carllo kehilangan fungsinya.


Tapi dia kembali sadar setelah melihat sosok pria bertubuh tinggi dan tegap yang cukup dikenalinya berjalan dengan langkah besar ke arah Ruby. Dia terlihat sangat menghawatirkan gadis itu dan dia segera memeluk gadis itu kedalam dekapannya.


Ah, apa yang aku pikirkan, tentu saja ini adalah pemandangan biasa, karena memikirkan dia adalah adik seorang Aleska, pemimpin dari Unity Resource Group, pusat keamanan terbesar di dunia.


Tentu saja mereka memiliki darah yang sama yang mengalir di tubuh mereka, siapa yang tidak tahu seperti apa kemampuan kakak laki lakinya itu. Akulah yang terlalu bodoh. Suara batin Carllo yang tersadar kembali setelah melihat kedatangan Aleska.


"Aku tidak perlu menghawatirkan apapun." tambahnya lagi sambil berjalan ke arah Rice yang masih tercengang, sepertinya dia juga sangat terkejut setelah mengalami kejadian ini.


*Beberapa saat sebelumnya.


Saat Aleska mengemudikan mobilnya menuju sekolah Ruby dan menjemputnya pulang sekolah, Aleska sangat terkejut ketika menyaksikan keributan yang ada di hadapannya, saat dia hampir sampai ke depan gerbang sekolah Ruby.


Matanya emas nya langsung menangkap sosok gadis cantik yang selalu membuatnya khawatir. Gadis kecil yang selama ini dijaganya dengan darah dan keringat sekarang bertarung melawan beberapa orang laki laki bertubuh besar dan kekar, di hadapan mata kepala nya sendiri.


Walaupun dia melatih Ruby, agar gadis itu bisa membela dirinya sendiri saat situasi darurat, tapi dia sama sekali tidak pernah berfikir jika gadis itu benar benar akan bertarung membela dirinya sendiri bahkan itu terjadi saat di hadapannya sendiri.


Aleska sangat marah menyaksikan ini, siapa yang berani menyentuh gadisnya, ya Ruby adalah gadisnya, setelah menyaksikan sendiri secara langsung kejadian ini.


Aleska tidak lagi ingin memungkiri perasaan nya sendiri, dia sangat takut, bisa saja terjadi sesuatu pada gadis itu dan dia bisa saja terluka kapan pun dan dimana pun.


Bahkan mereka berani menyerang murid perempuan di depan sekolah mereka sendiri. Entah karena mereka terlalu bodoh atau karena terlalu berani.


Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.


Aleska benar benar tidak ingin kehilangan Ruby. sekarang Aleska tidak punya waktu lagi untuk terus memungkiri dan menyembunyikan perasaanya. Dia tidak ingin menyesal setelah kehilangan gadis itu.


Aleska tidak memikirkan apapun dan tidak memperdulikan apapun di sekitarnya, dia langsung keluar dari mobilnya dan langsung berjalan menuju gadis yang sangat di khawatirkan nya itu, melihat gadis itu tidak terluka sama sekali Aleska malah semakin khawatir dan segera meraih gadis itu untuk masuk dalam pelukannya.


Aleska mengusap lembut rambut Ruby yang masih berada dalam pelukannya.


"Apakah kamu baik baik saja?" Tanya Aleska dengan lembut.


"Kakak, bagaimana ini, aku takut." Sambil melihat ke arah para preman yang sudah terkapar di atas tanah itu.


Mendengar ini semua laki laki yang masih terbaring si tanah kembali memuntahkan darah dari mulut mereka.


Bagaimana gadis itu bisa berkata bahwa dia takut saat dia telah menghajar mereka semua seperti hanya menepuk seekor lalat.


"Tidak usah takut, aku sudah disini, tidak ada lagi orang yang berani menyakitimu" Aleska menenangkan Ruby dengan serius.


"bukan itu, aku takut mereka mati dan aku akan ditangkap oleh polisi" Kata Ruby lagi dengan polos.


*****


sebenarnya setelah menyaksikan mereka semua terkapar di tanah dengan kondisi yang cukup parah akibat pukulannya. Ruby benar benar ketakutan bisa saja salah satu dari mereka mati kan. pikir gadis itu.


tapi para preman yang terbaring di tanah sekarang merasa lebih baik mereka mati saja dari pada mendengar kata kata yang keluar dari mulut gadis kecil itu.


bahkan kata katanya lebih seram dari pukulannya. karena membunuh karakter mereka dan melenyapkan harga dirinya tampa sisa.


semua orang yang ada di sana menoleh melihat ke arah Ruby, apakah itu benar benar keluar dari mulutnya.


Carllo tidak bisa berhenti tersenyum ketika mendengar kata kata yang keluar dari mulut gadis itu saat di tanyai oleh Aleska.


sementara Aleska melepaskan pelukannya untuk bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.


dia tidak bisa menahan senyuman saat mendengar kara kata yang keluar dari mulut Ruby.


ternyata gadisnya samasekali tidak ketakutan karena para preman itu, malah dia takut bisa saja dia membunuh mereka, benar benar gadis yang lucu.


"tidak perlu takut, kalau kamu mau, kamu bisa membunuh mereka atau siapapun sesuka hati mu, tidak akan ada polisi manapun yang berani datang untuk menangkap mu." jelas Aleska serius.


setelah mendengar jawaban dari Aleska


"para preman itu merasa tidak perlu bernafas lagi.


apa dosa besar yang telah kita lakukan sehingga hari ini kita mengalami nasib yang begitu sial. ucap salah satu dari mereka.


sementara carllo, senyuman yang mengambang di bibirnya seketika menghilang setelah mendengar jawaban dari Aleska.


dia tahu bahwa Aleska sama sekali tidak becanda saat mengatakan itu kepada Ruby, karena Carllo tahu persis seperti apa kemampuan pria itu.


"kakak, kamu kenapa?" Rice bertanya kepada kakaknya karena melihat wajah Carllo tiba tiba saja menjadi pucat pasi.


"ah tidak, apakah kamu baik baik saja?" Carllo membantu rice untuk berdiri.


"Ruby, apakah kamu baik baik saja?" tanya Rice setelah dia berdiri.


"ya aku baik baik saja," Ruby berjalan ke arah Rice dengan tatapan kwartir.


"Rice, maafkan aku, gara gara melindungi ku kamu jadi terluka seperti ini" ucapnya penuh rasa bersalah.


"Ruby, apa yang kamu katakan, kamu lah yang telah melindungi ku dan Sintia, seharusnya kami berterimakasih kepadamu" ucap Rice.


mendengar ini akhirnya sintia juga memberanikan diri untuk mendekat kepada mereka berdua.


"kalian berdua, coba cubit aku, apakah aku sedang bermimpi" Ruby seketika langsung mencubit pipi Sintia .


"hey Ruby cukup, ini sangat sakit, apakah kamu benar benar sahabat ku?" protes Sintia langsung mengusap usap pipinya yang terasa panas akibat di cubit oleh Ruby.


"tentu saja aku masih Ruby sahabat mu" ucapnya sambil tersenyum.


seketika suasana kembali berubah normal karena tingkah konyol Sintia dan Ruby.


tapi itu tidak berefek terhadap Aleska, dia terlihat masih dingin seperti sebelumnya.


"tuan, apakah anda baik baik saja"


tiba tiba Hugo datang ke sekolah Ruby karena menerima sinyal dari Aleska untuk segera datang menemuinya di sana.


"aku tidak apa apa, kamu bawa saja mereka, aku akan mengintrogasi nya sendiri."


"baik tuan"


semua orang kembali menoleh melihat kepada mereka berdua.


"kak Hugo ternya kamu sudah disini."


"iya nona, apakah nona baik baik saja?"


"ya aku baik baik saja"


terdengar sedikit nada aneh dari Ruby saat mengatakan bahwa dia baik baik saja. sambil menatap beberapa orang yang luka luka saat di angkat oleh dua orang bawahan Hugo yang datang bersamanya.


Hugo juga mengikuti arah pandangan Ruby yang melihat kearah para laki laki yang bertubuh kekar tersebut lemah tak berdaya.


Hugo merasa sangat kasihan kepada mereka, karena dia tahu persis seperti apa kemampuan Ruby saat ini, karena dia telah melihat dari awal setiap perkembangan Ruby selama latihan bersama Aleska.


apa lagi pagi ini, Hugo memiliki kesempatan untuk menyaksikan secara langsung saat ruby latihan bersama Aleska.


"ayo kita pulang" Aleska melangkah mendekat kepada Ruby dan menggenggam tangan nya di hadapan semua orang.


"kakak, tunggu sebentar, aku pamit dulu"


ruby melihat tangganya yang sedang di genggam oleh Aleska, sepertinya dia tidak berniat sedikitpun untuk melepaskan tangannya.


"Sintia, Rice aku pulang dulu, dan kak Carllo Ruby pulang terlebih dahulu dengan kak Aleska." pamitnya.


"ruby, hati hati di jalan" kata Rice dan juga Sintia secara bergantian. tapi Carllo masih diam mematung menatap tangan Aleska yang memegang tangan Ruby dengan sangat erat.


melihat Carllo hanya diam saja Ruby kembali mengulangi kata katanya.


"kak Carllo, Ruby akan pulang dulu"


"ah, ya baik lah, hati hati di jalan"


Carllo baru tersadar dari lamunannya. entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


dia merasa tidak rela melihat tangan Ruby di genggam seperti itu oleh kakaknya. pikirannya terus berputar memikirkan tindakan Aleska semenjak dia pertama kali datang.


dari sikapnya sangat posesif terhadap Ruby. dan dia penampakannya dengan jelas dihadapan semua orang. sebenarnya hubungan seperti apa yang mereka miliki.


Ruby langsung mengikuti langkah Aleska pergi menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.


"Aleska tunggu," entah apa yang ada di pikiran Carllo untuk menghentikan kakak beradik itu untuk pergi.


Carllo perlahan melangkah mendekat ke arah dimana Aleska dan Ruby berdiri.


"Aleska...", Carllo sedikit menggantungkan kata katanya, dan melihat ke arah tangan mereka berdua yang masih saling menggenggam.


Aleska hanya diam menunggu Carllo menyelesaikan kata katanya.


"Aleska, aku ingin berbicara kepada Ruby terlebih dahulu, kenapa kamu sangat cepat menarik tangan nya untuk pergi?"


mendengar ini Aleska mengerutkan keningnya melihat kearah Carllo


"apa urusan mu?"


suara Aleska sedikit bergetar saat mengatakan itu kepada Carllo.


dia sangat marah, beraninya dia berbicara seperti itu kepadanya dan apa ingin berbicara kepada Ruby? jangan berharap.


Ruby yang merasakan Aleska sangat marah sangat heran, kenapa kakaknya tiba tiba marah seperti ini.


"Aleska, ini juga bukan urusan mu, aku hanya ingin berbicara kepada Ruby"


Carllo terus saja berbicara, sepertinya dia sengaja memancing sesuatu agar keluar dari mulut Aleska.


mendengar jawaban dari Carllo kali ini, Aleska juga menyadari maksud Carllo untuk memancing sesuatu dari nya.


*****


Aleska kembali tenang seperti semula.


"katakan, aku akan menunggu kalian berdua disini" Aleska menjawab dengan santai sambil melihat ke sembarang arah.


kali ini Carllo yang mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari Aleska.


sepertinya tadi dia hampir berhasil tapi kenapa sekarang Aleska tiba tiba berubah menjadi lebih tenang.


"bisakah kau melepaskan tangan Ruby terlebih dahulu"


sekarang Aleska melihat ke arahnya mendengar ucapan Carllo. begitupun dengan Rice dan Sintia yang menyaksikan tindakan mereka bertiga.


mereka berdua merasa suasana mulai teras mencengkram.


"kenapa aku harus melepaskannya,?"


kini giliran aleska yang bertanya dengan dingin kepada Carllo.


Carllo terus memutar otaknya, bagaimana Aleska tidak terpancing umpannya sama sekali. bagai manapun dia membuat Aleska marah, Aleska sama sekali tidak pernah mengeluarkan kata {dia adalah adik ku} kepada Carllo.


dengan begitu dia ingin mematahkan ucapan Aleska langsung di hadapan Ruby, bahwa sikapnya sekarang ini, bukanlah sikap seorang kakak laki laki terhadap adik perempuannya.


tapi bagaimanapun Carllo berusaha memancingnya mengeluarkan kata itu, Aleska tetap tidak mengatakan sepatah kata pun tentang adik perempuannya. bukan sepertinya dia tidak berniat sama sekali untuk membahas tentang hubungannya dan Ruby yang merupakan adik dan kakak laki laki.


tapi Carllo tetap tidak kehilangan akal.


"sepertinya dia terlihat tidak nyaman" ucapnya sambil melirik tangan Ruby yang di genggaman erat eh Aleska.


kali ini mereka semua menoleh ka arah Ruby untuk melihat reaksi dari gadis itu.


"kak Carllo ada apa, apa yang ingin kakak katakan kepada Ruby?"


gadis itu malah menjawab dengan tenang di tengah pertarungan dingin antara kakaknya Aleska dan kakak laki laki Rice, Carllo.


"apakah kamu memiliki waktu nanti malam, aku ingin mengajakmu makan malam"


entah apa yang di pikirkan oleh Ruby, saat di tanya seperti itu oleh Carllo dia malah secara reflek menengadah melihat ke wajah Aleska. seperti ingin meminta persetujuan dari nya.


Hugo yang menunggu kedatangan Aleska dan Ruby untuk masuk kedalam mobil, juga tidak menyangka jika dia akan menyaksikan kejadian yang cukup langka, dimana seorang pemuda dengan berani melawan Aleska memperebutkan seorang gadis.


awalnya Hugo juga berfikir tidak ada yang salah di antara mereka berdua karena dia sangat mengetahui jika Aleska sangat menyayangi adik perempuannya. tapi setelah melihat percakapan antara Aleska dan Carllo secara langsung, hugo mulai berfikir dengan jernih, mereka berdua seperti dua orang laki laki yang bertengkar memperebutkan wanita yang mereka sukai.


tapi Hugo hanya diam menyaksikan mereka bertiga dia tidak ingin ikut campur tentang urusan pribadi Aleska.


"kak Carllo maaf kan Ruby, tapi malam ini Ruby tidak bisa pergi, karena aku memiliki banyak tugas yang harus di kerjakan nanti malam." ucap gadis itu mengelak.


"apakah kamu tidak dengar, dia tidak ingin pergi dengan mu."


"bagaimana kalau lain kali?" tanya lagi.


sepertinya Carllo tetap tidak akan menyerah, dia cukup keras kepala.


"hmm baik lah, akan Ruby pikirkan terlebih dahulu."


"baik lah"


"kalau begitu Ruby pulang dulu,"


"baiklah hati hati di jalan."


"satu lagi, aku juga berhak mengintrogasi mereka, karena mereka telah berani menyentuh adikku" Carllo melihat kepada mobil yang berada di dekat Hugo yang berisi orang orang yang menyerang Ruby dan Rice.


"aku kan memberikan mereka kepada mu setelah aku menyelesaikan terlebih dahulu urusan ku dengan mereka" ucap Aleska.


"mana mungkin aku percaya kata katamu, tidak ada yang bisa menjamin jika kamu akan memberikan mereka pada ku dalam keadaan masih bernafas" ucap Carllo kesal.


Hugo yang berdiri tidak jauh dari mereka, mendengar perkataan dari Carllo, langsung mengangguk anggukan kepalanya menyetujui apa yang di katakan oleh pemuda itu.


karena dia sangat mengetahui seperti apa tuanya jika sudah berhubungan dengan orang yang telah berani menyakiti Ruby.


"ternyata dia cukup pintar dalam menilai situasi. sepertinya tuan ku akan memiliki saingan yang cukup berat." gumam Hugo pada dirinya sendiri.


"jadi apa yang kamu ingin kan?" Aleska mulai tidak sabar dalam menghadapi Carllo yang seperti ular berbisa.


"aku ingin ikut dengan kalian" ucap Carllo santai.


"pria ini benar benar licik seperti seekor ular" umpat Aleska dalam hati.


Hugo yang juga mendengar Carllo, "wah keberaniannya patut mendapat pujian, dia berani tawar menawar dengan tuan ku," Hugo berusaha untuk tidak bertepuk tangan, mengagumi keberanian Carllo.


yang tidak mengetahui apa apa tentang Aleska.


"silahkan lakukan apapun sesuka hatimu" ucap Aleska dengan muak, karena dia sudah tidak sabar pergi membawa Ruby dari sana.


mendengar ini Carllo juga cukup terkejut karena Aleska menyetujui perkataanya dengan begitu mudah.


sebenarnya apa yang sedang di rencana oleh pria ini( dalam hati Carllo menyelidiki maksud dari Aleska)


Aleska langsung menarik tangan Ruby dengan lembut untuk segera masuk kedalam mobil mereka dan segera pulang ke rumah.


melihat itu, sebenarnya Carllo sama sekali tidak rela, tapi dia tidak bisa melakukan apapun saat Aleska membawa Ruby pergi dari sana.


lagian sepertinya gadis itu juga sangat nyaman berada di dekat pria dingin seperti aleska itu.


setidak nya saat memikirkan rubyy nyaman dan baik baik saja bersama Aleska, Carllo merasa sedikit lega karena, sepertinya dia cukup baik dalam memperlakukan dan menjaga Ruby. selama gadis itu bahagia maka Carllo juga akan ikut tersenyum untuknya.


Aleska segera menginjak pedal gas mobilnya dan berlalu pergi dari sana.


suasana di atas mobil terasa cukup tegang karena percakapan Carllo dan Aleska sebelumnya, Ruby melihat kakaknya, sepertinya Aleska masih merasa kesal.


"kakak?" ruby mencoba untuk mengajaknya berbicara terlebih dulu.


"hmmm?" aleska hanya bergumam tampa melihat ke arah Ruby, dia hanya sibuk melihat ke depan dan mengemudikan mobilnya.


"kakak, apakah kamu baik baik saja?"


kali ini aleska menoleh melihat kearahnya.


"ada apa?" tanya Aleska balik.


"tidak, sepertinya kakak masih terlihat sedikit kesal" ucap Ruby jujur.


"aku baik baik saja" jawab Aleska seadanya.


suasana di dalam mobil kembali hening seperti sebelumnya.


tapi Aleska memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu.


"kenapa kamu bisa berurusan dengan para preman tadi?" tanyanya.


"aku juga tidak tahu, mereka tiba tiba saja datang dan menyerang kami"


"sepertinya mereka adalah geng lokal yang menguasai daerah ini."


"apakah kakak mengenal mereka"


"ya aku mengenali bos besar mereka"


"benarkah?, apakah dia laki laki berkulit hitam tadi"


"bukan, sepertinya mereka bertidak sendiri tanpa sepengetahuan bos mereka, kamu lain kali harus lebih berhati hati, dan satu lagi, saat menunggu ku, kamu tunggu saja dalam lingkungan sekolah, jangan keluar seperti tadi."