Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
071 Tamu Saat Makan Malam



melihat Aleska yang masih menatap lurus ke arahnya Devano tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya berdiri kaku di tempatnya, dan sedikit merasa rendah diri karena sekarang dia pasti terlihat seperti seorang pengecut di hadapan Aleska.


Bukan, bukan itu yang dia takutkan, lebih tepatnya dia takut jika Aleska membongkar rahasianya sekarang di hadapan Ruby.


apa yang di pikirkan oleh anak ini sebenarnya "dalam hati Aleska yang melihat wajah pucat Devano"


karena Aleska sangat ahli dalam menilai situasi tentu saja dia mengetahui dengan jelas ketakutan yang terlihat di wajah devano itu tentu saja karena dia takut jika Aleska membongkar rahasianya kepada Ruby.


*****


tapi Aleska bukanya membongkar rahasia Devano begitu saja, tapi Aleska malah memutuskan untuk mengikuti alur sandiwara Devano sambil menyelidiki apa maksud tujuan Devano sebenarnya terus menyembunyikan identitasnya kepada Ruby.


"kalau begitu sekalian saja ajak dia ikut makan malam bersama kita" tawar Aleska tiba tiba.


Devano yang awalnya tertunduk bersiap siap untuk dimarahi Aleska karena datang kerumahnya saat dia tidak berada di rumah. dan lebih parahnya jika Aleska membongkar rahasianya di depan Ruby.


saat ini devano sama sekali tidak bisa bertindak apapun lagi, dia akan menerima segala akibat yang tidak terbayangkan olehnya, karena bisa saja Ruby membencinya, memikirkan itu tubuh Devano yang awalnya tertunduk kini bertambah lemas mengingat jika dia dan Ruby baru saja memutuskan untuk berteman.


kni setelah mendengar kata kata Aleska, Devano dengan cepat menegakkan kepalanya melihat ke arah wajah Aleska. memastikan apakah kata kata itu keluar dari mulut Aleska.


karena dia merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya sendiri.


sementara Ruby juga terlihat cukup terkejut.


"kakak benarkah?" tanya gadis itu lagi.


devano juga sangat menantikan jawaban dari Aleska yang di tanyai oleh Ruby.


"itu pun kalau dia bersedia" jawab Aleska dengan cuek sambil berjalan masuk kedalam kamarnya.


kali ini Ruby mengalihkan pandanganya kepada Devano.


"jadi apakah kamu bersedia ikut makan malam bersama kami?" tanya gadis itu.


"hmm baik lah,"


kali ini devano terpaksa untuk mengatakan jika dia bersedia makan malam bersama mereka berdua, entah apa yang sedang di rencanakan oleh Aleska.


sekarang devano malah gelisah karena Aleska tidak membongkar rahasianya tapi malah ikut mendukung sandiwaranya.


Devano hanya dengan pasrah melihat ke arah Aleska yang berjalan ke lantai dua menuju kamarnya.


"Deva, kamu tunggu di sini sebentar, aku juga akan mandi terlebih dahulu." ucap Ruby.


"baik lah" jawab Devano.


sekarang ruby juga berjalan ke lantai dua. dan Devano hanya diam di tempatnya menyaksikan Ruby berjalan ke lantai dua.


tapi tunggu. kenapa dia juga memasuki kamar itu. bukankah Aleska barusan juga memasuki kamar yang sama.


ada apa ini sebenarnya? batun devano berbicara sendiri.


tidak lama kemudian terlihat Ruby keluar dari kamar itu membawa beberapa gaun tidur di tangannya yang terlipat rapi dan berjalan menuju kamar satu lagi tepat di samping kamar Aleska.


apa yang terjadi di sini sebenarnya, kenapa Ruby membawa beberapa gaun tidurnya dari kamar Aleska. sekarang otak Devano tidak bisa berfikir apa apa dia hanya merasakan badan yang terasa semakin panas. entah apa yang di pikiran nya sekarang.


aku harus bisa menyelidiki mension ini, kalau perlu aku bisa menggunakan para pelayan yang bekerja di sini. mereka pasti mengetahui sesuatu.


Devano yang duduk sendirian di ruangan itu mulai melihat ke sekelilingnya memperhatikan setiap detail yang ada di sekelilingnya. mencari setiap petunjuk yang mungkin saja dia temukan.


tidak lama kemudian terlihat seorang pelayan wanita setengah baya dan beberapa orang lainya mulai menyajikan beberapa makanan di atas meja.


melihat ini Devano hanya duduk dengan tenang walaupun sebenarnya dia cukup heran melihat jika rumah ini memiliki cukup banyak pelayan tapi kenapa mereka sebelumnya seperti tidak pernah ada.


melihat jika Ruby hanya bermain sendirian dan kesepian di sini seorang diri. gadis itu benar benar terlihat seperti hidup sendirian, padahal ada beberapa orang pelayan di sini.


awalnya Aleska hanya mengira jika di rumah ini Aleska hanya memperkerjakan satu dua orang pelayan saja, Devano tidak menyangka jika mereka menyimpan pelayan yang cukup banyak.


mereka semua hanya menata makanan di atas meja makan dengan tenang, sepertinya mereka tidak memperhatikan adanya keberadaan orang lain di sekitar mereka.


Devano benar benar tidak habis pikir, bagaimana bisa di rumah tempat tinggal seorang Aleska yang merupakan CEO dari Unity Resource Group tumbuh besar, semua nya begitu lengah dan tidak waspada sama sekali, dan bersikap terlalu santai.


saat Devano masih memperhatikan mereka menyajikan makanan tiba tiba terdengar suara seorang pria yang sudah cukup berumur menyapanya.


"tuan muda devano"


seketika devano dikagetkan oleh suara itu.


dia memperhatikan sosok pria tua yang menyapanya barusan, sepertinya dia mengenaliku, pikir Devano. mengingat bahwa dia jarang berada di rumah dan dia tidak banyak di kenal, walau oleh pelayan mension utama sekalipun.


"tuan muda, saya tidak menyangka jika anda berada di sini, sudah sangat lama sejak terakhir kali saya melihat anda" ucap pelayan itu ramah.


Devano mengingat ingat lagi siapa laki laki tua yang kelihatanya adalah kepala pelayan di tempat Aleska dan Ruby ini.


"apakah kamu mengenali ku?" dia berinisiatif untuk bertanya.


"benar tuan, saya adalah Hanson kepala pelayan di mension utama sebelum di pindahkan ke sini, saat itu tuan masih berumur sangat muda, sekitar 8 atau 9 tahun.


Devano terus memutar otaknya, jika dia adalah kepala pelayan di mension utama sebelumnya, maka itu bisa saja jika dia mengenaliku, tapi yang menjadi pertanyaan kenapa seorang kepala pelayan mension utama bisa pindah dan bekerja dengan Aleska, apalagi itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu bahkan saat umur ku masih sangat muda, sekitar 8 atau 9 tahun.


apa sebenarnya yang terjadi waktu itu, bagaimana ibu bisa menyerahkan kepala pelayannya kepada Aleska, dengan sifatnya yang seperti itu.


apa lagi saat itu pasti Aleska juga masih berumur sangat muda memikirkan jika dia dua tahun lebih muda dariku.


saat itu apakah dia juga sudah memiliki kekuatan nya yang sekarang.


pikir Devano yang lagi lagi berdebat dengan dirinya sendiri.


bagaimanapun aku memikirkannya sepertinya itu masih tetap tidak mungkin di umurnya yang masih sangat muda. sebenarnya dari mana sumber kekuatan anak itu berasal.


"berarti kamu sudah lama berada di rumah ini?" tanya Devano akhirnya.


"benar tuan"


suara langkah yang turun dari tangga membuat Devano dan Hanson menoleh ke arah tangga tersebut.


mereka berdua melihat jika itu adalah alyeska yang turun terlebih dahulu dari lantai atas.


"jadi kamu sudah mulai mengintrogasi para pelan ku? apakah itu tujuan mu datang ke sini?"


tepat saat aleska berkata seperti itu, suara langkah yang menuruni tangga kembali terdengar, sontak mereka bertiga melihat ke arah asal suaranya.