
"Ruby, apa kau tidak takut, setelah membuat dia marah, sekarang kau ingin minta maaf dan ingin dia mengembalikan buku mu??" dengan ragu.
"memangnya kenapa? aku hanya ingin minta maaf dan ingin buku ku di kembalikan." Ruby selalu saja sangat polos dan bertidak sesuai yang dia inginkan, dan jika itu benar menurutnya, bahkan dia tidak pernah pikir panjang tentang resiko apa yang akan di timbulkan nya setelah itu.
"Ruby tunggu!" teriak Sintia yang mengejar Ruby dari belakang,
"Ruby, kita tidak bisa langsung mencari dan menemuinya, nanti dia bisa salah paham, kita harus memikirkan beberapa strategi terlebih dahulu." Sintia tidak hentinya berbicara sambil mengikuti langkah lincah Ruby dari belakang.
tapi Ruby tidak mendengarkan nya dan tetap lanjut berjalan ke arah parkiran untuk mencari Rice . yang biasanya dia akan keluar saat jam istirahat untuk mencari makan siang.
saat menuju ke parkiran seseorang memanggilnya nama nya dari dalam mobil.
"Ruby???"
langkah ruby seketika berhenti mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.
Ruby menoleh melihat ke arah suara, perlahan kaca mobil yang menarik perhatiannya menurunkan kaca hitam yang membatasi menutupi wajah orang yang barusan memangil nama nya!
"hai Ruby, senang bisa melihat mu lagi." sapa pria itu.
"hai kak Carllo, senang juga melihat mu"
"benarkah, apakah adik ku menganggu mu lagi?" tanya Carllo dengan wajah ramah.
"tidak bukan itu,....
Ruby ragu ragu untuk mengatakan tujuan nya mencari Rice kepada Carllo.
"hmmm sudah lah, jika kamu tidak ingin mengatakan nya" ucap pria itu mencoba mengerti perasaan seorang gadis.
"eh iya, kamu Carllo kakaknya Rice kan? celoteh Sintia sahabat Ruby yang melihat Carllo.
"benar sekali, kebetulan aku sedang menjemputnya untuk makan siang bersama, apakah kamu melihat anak itu?" tanya Carllo kepada Sintia
"ah maaf, aku tidak melihat nya dari tadi, padahal kami juga sedang mencarinya!" ucap Sintia.
Kakak..... teriak Rice dari kejauhan
Ruby dan yang lainya juga spontan melihat ke arah Rice secara bersamaan.
kemudian Rice berlari lari kecil menuju ke arah mereka.
"kakak, kenapa kamu lama sekali, aku sudah dari tadi menunggumu" belum juga Carllo menjawabnya Rice, Rice sudah melihat di sana juga ada Ruby dan sahabatnya Sintia.
"hey, kenapa kalian ada di sini?. aku peringati kalian berdua, jangan coba coba untuk menganggu kakak ku!" Rice memperingati mereka berdua karena tidak ingin kakaknya juga menjadi target tidak masuk akal Aleska selanjutnya.
"Rice tenang lah, kenapa kamu sangat galak kepada para gadis," sambil tersenyum ke arah mereka.
Sintia bersemu merah mendengar perkataan manis dari Carllo. sedang kan Ruby hanya memasang wajah bingung melihat kelakuan kedua kakak beradik itu.
"Ruby, jika kamu juga memiliki beberapa urusan dengan Rice, kenapa tidak ikut kami saja sekalian untuk makan siang, dan membicarakan masalah kalian dengan baik baik. bagaimana?" tawar Carllo.
sebenarnya Carllo sudah mengetahui tujuan ruby, yaitu ingin meminta bukunya kembali. jadi dia berfikir akan menarik jika membawa Ruby ikut makan siang bersama mereka.
"baiklah, sepertinya juga bagus jika ada kak carllo" ucap ruby setelah sedikit mempertimbangkan.
"bagus ayo pergi sekarang" ajak Carllo dengan wajah puas.
"Ruby?" suara Sintia mengejutkan Ruby, Sintia memegang lengan ruby, dan melarang nya untuk pergi bersama mereka.
"Ruby, apakah kamu yakin akan ikut bersama mereka?" tanya Sintia tidak yakin.
"memangnya kenapa?"
"apakah kamu tidak tau kalau keluarga mereka adalah musuh bisnis ayah mu" Sintia mengingatkan.
"tentu aku tau"
"jadi kenapa kamu masih mau ikut dengan mereka" tanya Sintia heran.
"Ruby, entah apa yang ada di otak mu, aku tidak mengerti lagi"
mau tidak mau Sintia yang mengawatirkan Ruby akhirnya juga mengikuti mereka untuk jaga jaga jika mereka ingin menyakiti Ruby, setidaknya itu yang ada di pikiran Sintia saat ini.
"kakak ? apa yang kamu pikirkan dengan mengajak gadis ini bersama kita?" tanya rice yang terlihat keberatan dengan kehadiran Ruby dan Sintia.
"apakah kamu takut?" dengan nada penuh makna.
"bukan itu maksud ku" langsung membela diri karena menyadari perubahan dari ekspresi kakaknya.
"kalau begitu menurut saja"
sampainya di restoran yang mereka tuju.
"Ruby kamu ingin makan apa?" tanya Carllo ramah.
"terserah saja"
"kakak jangan peduli kan dia, kalau dia tidak ingin makan juga itu pun terserah dia"
Ruby yang mendengar celotehan Rice tidak begitu mempedulikan nya.
"kakak kamu ingin makan apa? aku ingin memesan sama dengan makanan mu!" ucap Ruby santai.
"gadis aneh, kakak lihat lah dia. dia tidak tahu malu, mengganggap kau adalah kakak nya." sindir Rice kepada Ruby yang dengan lancang memanggil Carllo juga dengan sebutan kakak.
"hahaha, dia tidak akan merebut ku dari mu" Carllo yang mendengar Rice keberatan dengan tindakan Ruby hanya membalasnya dengan beberapa candaan kecil.
setelah mereka semua memesan, sambil menunggu pesanan, carllo bertanya kepada Ruby dengan lembut.
"jadi Ruby, ada urusan apa kamu dengan Rice?"
"hmm itu kak, pertama aku ingin minta maaf dulu kepada mu Rice"
Ruby menoleh ke arah dimana Rice duduk
"Rice maaf kan aku dan kak Aleska"
Rice yang sebenarnya berhati lembut, melihat Ruby minta maaf dengan wajah imut nya yang minta di kasihan itu, dia juga menjadi tidak tega untuk memarahi Ruby lagi.
"jadi kamu menemui ku hanya untuk minta maaf?" tanya Rice
"sebenarnya ada satu lagi" ucap Ruby dengan wajah sedikit menunduk karena rasa bersalah.
"hmm apakah itu tentang buku mu??" tanya Rice memastikan.
"hmm benar sekali, buku itu sangat penting untuk ku, bisa kah kamu mengembalikannya kepada ku?" ucap Ruby kembali dengan nada cerianya. dan mengatakan itu dengan satu tarikan nafas.
"hmm. itu tidak masalah, waktu itu aku datang menemui mu juga untuk mengembalikan buku itu" jelas Rice dengan wajah serius.
jika melihatnya seperti itu sebenarnya dia adalah pemuda yang tampan, dengan potongan rambut Comma Hair dan setelan pakainya yang selalu rapi.
"ah maafkan aku, karena salah paham kepadamu waktu itu" ucap Ruby menyesal.
"hmm tidak apa apa"
Sintia yang mendengar mereka bertiga berbicara seperti itu terheran heran, kenapa mereka bertiga bertindak seperti mereka sudah saling mengenal untuk waktu yang lama.
bahkan tidak terdengar satupun nada canggung di antara mereka saat bicara seperti orang yang pertama kali bertemu dan bicara pada umumnya.
"hei aku ingin bertanya kepada kalian bertiga?"
mereka bertiga pun secara bersamaan menoleh ke arah Sintia.
"aku bukan bermaksud ingin mengganggu pembicaraan kalian bertiga, tapi aku sangat penasaran, apakah kalian bertiga sering bertemu tampa sepengatahuan ku sebelumnya?" tanya Sintia penasaran.