
"Silahkan masuk pangeran." Sambut kepala pelayan di kastil pribadinya yang Berada di samping kastil utama.
"Siapkan satu kamar untuknya." Perintah Aaron sambil melihat ke arah Ruby yang berdiri kaku di belakangnya.
"Baik tuan." Jawabnya patuh.
Memang semua orang di kediaman pribadi nya itu, tidak pernah berani membuka suara kepada siapapun tentang apa saja yang terjadi di kastil pribadi pangeran Aaron.
Seperti kali ini, walaupun mereka beberapa hari ini tidak melihat pangerannya itu, tapi tidak ada seorangpun yang berani mempertanyakan keberadaan nya ataupun siapa tamu yang dia bawa. Mereka hanya dengan patuh menuruti setiap perintah Aaron tampa banyak tanya.
"Silahkan nona, lewat sini." Ucap pelayan itu menuntun Ruby untuk menunjukkan kamar untuknya istirahat.
Sebelum pergi, Ruby sedikit melirik ke arah Aaron sebelum dia melangkah pergi mengikuti pelayan itu.
dia terus memperhatikan apapun di sekelilingnya saat melewati berbagai ruangan saat mengikuti pelayan itu menuju kamarnya.
Dia di bawa jalan memutari kastil itu, melewati kolam teratai indah dengan tepian di hiasi batu kerikil, tidak itu bukan batu kerikil, lebih tepatnya seperti pecahan pecahan batu zamrud, safir, dll. Dengan berbagai warna warni indah berkilauan di bawah cahaya matahari.
Sampai lah dia di depan pintu besar yang megah.
"Silahkan masuk nona, ini adalah kamar anda." Ucap pelayan itu sambil membuka pintu bewarna perunggu di depannya.
Di dalam kamar itu terdapat ranjang berukuran besar dengan tirai bersulam emas yang menggantung di setiap sisi nya.
"Terimakasih." ucap Ruby singkat sambil melangkah masuk kedalam kamar megah itu, tapi perhatiannya tidak tertuju pada ranjang indah itu, melainkan pintu menuju balkon yang berada tepat di samping ranjang itu. Tampa sadar kakinya melangkah dan membuka pintu itu, dia berdiri di tepi pagar balkon yang ternyata menghadap kolam teratai yang baru saja dia lewati tadi.
"Baik." Ucapnya singkat pada pelayan itu dan berjalan mendekat ke arah ranjang dengan ekspresi lemas di wajahnya.
Dengan begitu pelayan itu pergi meninggalkan Ruby seorang diri disana.
* di ruangan Aaron.
"Bagaimana?, Apakah dia senang?" Tanya Aaron kepada orang kepercayaan nya itu.
"sepertinya dia terlihat masih cukup kaget dari pada senang yang mulia" ucap orang kepercayaan Aaron yang menyaksikan dari kejauhan bagaimana Ruby di antar oleh pelayan kedalam kamar itu.
"Hmm dia akan terbiasa." ucap Aaron lagi percaya diri.
"tuan, strategi anda benar benar hebat, tidak akan pernah ada seseorang akan berfikir untuk memperlakukan tawanan seperti tamu terhormat, demi menghemat tenaga dan sekaligus membuat tawanan melemah dan menuruti apapun kemauan anda." Ucap nya lagi dengan mata bersinar penuh bangga.
Karena dia dari awal memang telah mengetahui rencana Aaron yang akan datang ke Jerman dan menjadi seseorang gadis yang berharga bagi musuhnya untuk menjadi tawanan.
Tapi dia terlalu licik untuk tawanan itu sendiri sadar jika dia adalah seorang tawanan. Benar benar pantas untuk menduduki tahta selanjutnya. batin orang kepercayaan Aaron.
*Di Hotel.
Aleska telah mengenakan pakaian seorang pelayan laki laki istana Aaron, dengan berbagai macam pisau kecil yang di selipkan di tubuhnya, dia dengan sigap melompati tembok pembatas dari kastil utama dengan kastil pribadi milik Aaron.
Dengan sigap dia langsung bisa berbaur dan menyesuaikan diri dengan para pelayan laki laki lainya yang tengah asik bercengkrama saat melakukan tugasnya.