
"bos kami tidak bermaksud menganggu mereka aku hanya ingin bermain main dengan gadis kecil....
belum sempat menyelesaikan kalimatnya semua orang terbelalak karena kaget mendengar suara hempasan kursi kayu yang di lempar ke arah mereka berlima hingga hancur berkeping keping.
untung saja mereka tidak terluka karena dihalangi oleh beberapa batang besi yang berjejer memagari tempat mereka berdiri.
mereka semua sontak melihat ke arah laki laki tinggi yang berada di belakang Hugo yang melemparkan kursi kayu tersebut, mata kuning keemasan nya seperti mata seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.
*****
semua preman itu langsung ketakutan melihat ke arah Aleska, siapa laki laki tinggi ini, kenapa dia begitu menakutkan, tunggu... tuan Hugo bertindak begitu sopan kepadanya.....otak mereka mulai mencerna siapa orang ini sebenarnya.
ya tuhan matilah kita, otak mereka sekarang baru berfikir jika mereka telah lancang bermain main dengan gadis bos besar yang sedang mengamuk di hadapan mereka.
saat semua orang masih tercengang dengan tindakan Aleska.
sementara Hugo dengan kesadaran penuh mengangkat pistol di tangannya dan menembak orang yang telah membuat tuannya itu murka.
dia bisa langsung bertindak, karena dia adalah orang yang terbiasa berada di sisi Aleska saat dia marah besar seperti ini.
saat semua orang masih terkejut karena lemparan Aleska, sekarang mereka semua kembali di kejutkan oleh suara tembakan.
semua orang kembali mengalihkan pandangannya kepada orang yang baru saja menembakkan pistol itu.
dengan cepat dan tepat hugo mendaratkan pelurunya tepat di mulut laki laki itu. seperti dia dengan sengaja menargetkan mulut laki laki itu karena telah lancang berbicara sesuka hatinya tentang wanita tuanya Aleska.
seketika darah berceceran dimana mana hingga mengenai wajah orang orang yang berada di dekatnya.
Carllo yang dari tadi berusaha dengan sekuat tenaga menahan dirinya untuk tetap terlihat tenang, dia duduk bersandar di kursi yang berada di belakang para preman yang baru datang itu, sepertinya mereka semua juga tidak menyadari keberadaanya.
tapi kini Carllo langsung berdiri karena terkejut menyaksikan Hugo membunuh seseorang dengan sangat sadis hanya karena orang tersebut berbicara yang tidak di sukai oleh tuannya, maka dia akan dengan mudahnya langsung membunuh orang itu.
"mereka benar benar tidak pernah main main dengan apa yang mereka lakukan, pantas saja nama Unity Resource Group sangat di takuti dimana mana, hanya urusan kecil seperti ini saja mereka sudah sangat menakutkan apalagi berhadapan dengan masalah yang lebih besar.
pikir Carllo masih terkejut.
bos mereka yang berdiri di depan Hugo langsung menelan ludah, melihat tembakan Hugo yang tidak pernah meleset se inci pun.
"tuan, ampuni nyawa kami, kami tidak akan pernah berani lagi untuk menganggu bahkan untuk menatap kearah wanita bos besar"
mendengar ini sontak Carlo mengalihkan pandangannya kepada laki laki kekar yang sedang bersujud di lantai memohon ampun kepada Hugo dan Aleska.
sedangkan Hugo hanya diam, ekspresinya samasekali tidak berubah mendengar dari perkataan laki laki itu, sepertinya dia salah memahami situasi saat ini jadi dia mengira Ruby yang merupakan adik Aleska sebagai wanitanya.
tapi situasi selanjutnya tidak dapat dipahami oleh siapapun yang ada di sana termasuk Hugo yang sudah lama mengenal dan berada di sisi Aleska.
Hugo juga sangat terkejut dengan tindakan Aleska saat ini, dia merasa tidak mengenal pemuda tampan yang berwajah dingin yang berada di hadapannya saat ini. karena Aleska tiba tiba saja berkata ingin memaafkan mereka semua.
Hugo menoleh ke samping melihat ke arah Aleska, untuk memastikan apakah kalimat maaf yang baru saja dia dengar itu keluar dari mulut Aleska.
karena selama ini tidak pernah ada yang selamat saat mereka membuat Aleska marah, tapi kali ini dia yang tadinya terlihat hampir akan menelan mereka semua satu persatu, kini dengan santai berkata akan memaafkan mereka.
Hugo terus memutar otaknya dengan keras, memikirkan momen apa yang dia lewatkan sehingga dia tidak dapat memahami tindakan Aleska yang sekarang ini.
Carllo juga sama hal nya dengan Hugo, dia sangat heran dengan tindakan Aleska yang tiba tiba berubah seratus derajat.
Carllo tahu bahwa Aleska sama sekali tidak becanda saat mengatakan akan memaafkan mereka, karena di lihat dari wajahnya, tadi mata kuning keemasan Aleska berkobar seperti api karena marah, dengan wajah yang begitu dingin seperti gunung es, tapi sekarang dia terlihat sedang berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang bahagia di balik wajah dingin yang selalu dia perlihatkan.
sebenarnya apa yang telah terjadi, bagaimanapun Carllo berfikir dia tetap tidak dapat menemukan jawabnya.
"Hugo ayo kita pergi dari sini"
Aleska melangkah keluar dari gedung itu dengan santai seolah olah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya di bangunan itu.
tapi sebelum sampai pintu dia menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang.
"kamu, apakah ingin tetap berada di sini?" tanyanya sambil lalu.
keberadaan Carllo yang dari awal sudah di anggap oleh Aleska tidak pernah ada, sekarang dia berinisiatif menurunkan gengsinya dan berbicara terlebih dahulu kepada Carllo.
Carllo juga sedikit terkejut mendengar Aleska berbicara kepadanya. dia tidak menyangka sama sekali jika laki laki itu akan berbicara terlebih dahulu kepadanya dan mengajaknya pergi dari sana. walaupun kata kata yang keluar dari mulutnya masih saja dingin seperti sebelumnya.
Carllo yang diam membatu di tempatnya segera menggerakkan kaki nya melangkah keluar dari gedung itu mengikuti langkah Aleska dan Hugo.
Hugo terus berfikir, hal baik apa yang telah terjadi hingga tuanya begitu bermurah hati hari ini, mengingat dia baru saja terlihat sangat marah.
"Hugo, katakan kepada Mike aku tidak jadi ke kantor, suruh dia mengurus semuanya dan menggantikan ku menghadiri rapat nanti sore."
"baik tuan, apakah anda masih memerlukan sesuatu?" tanya Hugo dengan hormat.
"tidak, kamu hari ini bisa melakukan apapun aku memberikan mu hari libur sampai besok,"
setelah mengatakan itu Aleska segera masuk kedalam mobilnya dan mengendarai mobilnya pergi dari sana.
"Hugo, apa yang terjadi dengan nya?"
setelah mobil Aleska menghilang dari pandangan mereka berdua Carllo bertanya dengan nada bingung kepada Hugo.
"aku juga sama sekali tidak mengerti, ah sudah lah, " ( Hugo melambaikan tangannya sambil berjalan ke arah mobilnya tampa melihat ke belakang ke arah Carllo.
dia meninggalkannya seorang diri di tengah kebingungannya melihat sikap Aleska.
"dia benar benar sangat sulit di pahami," Carllo akhirnya juga menyerah dan juga berjalan ke arah di mana mobilnya terparkir dan hendak pergi dari sana, tapi langkah kaki nya tiba terhenti mengingat kata kata laki laki botak itu saat memohon maaf kepada mereka berdua sebelum Aleska bertingkah aneh.