Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
018 pelindung



Ruby menangis terisak saat nyonya Amanda pergi meninggalkan nya sendiri di ruang gelap ini. Ruby terus terusan berteriak minta di lepaskan walaupun dia tahu tidak akan ada seorangpun yang datang untuk menolongnya.


sesaat kemudian teriakan Ruby terhenti karena dia mendengar teriakan lain di luar.


dan itu adalah suara dari pelayan yang biasanya di bawa oleh nyonya Amanda untuk mengurung dirinya. dan terdengar beberapa orang sedang berkelahi dan suara perabotan pecah yang sangat nyaring di keheningan malam.


tidak lama kemudian ada seseorang yang datang ke depan pintu tempat Ruby di kurung dan membuka pintu itu.


Ruby yang tidak tau apa yang terjadi sangat ketakutan , ini pertama kali nya ada seseorang yang membuka kan pintu saat msih malam.


"keluar" perintah dari orang tersebut dengan suara dingin dan penuh penekanan.


tapi suaranya terdengar masih seperti seorang anak laki laki dan tubuhnya juga tidak setinggi orang dewasa.


mungkin tiga tahun lebih tua darinya, Ruby mencoba menebak siapa yang sudah menolongnya, apakah mungkin dia Aleska kakak yang selama ini selalu di cari oleh Amanda?


"apakah kamu lebih suka berada di dalam?"


mendengar Aleska berbicara kepadanya dia berhenti melamun dan segera keluar mengikuti langkah Aleska.


Dalam gelap Ruby melihat ke arah orang yang yang berjalan di depan nya.


punggung ini terasa akrap, punggung yang biasanya di lihatnya saat sudah tengah malam saat dia pulang dan subuh saat dia pergi lagi.


dia berjalan ke arah kamar Ruby, dan berhenti tepat di depan pintunya. Ruby juga ikut berhenti tepat satu langkah di belakangnya.


"kamu masuk dan istirahat lah" memancarkan aura dingin dan bicara tampa pernah melihat ke arah wajah gadis itu.


kemudian dia pergi meninggalkan Ruby berdiri kaku di depan pintu kamarnya. tampa menjelaskan apa pun kepada Ruby.


kemudian Ruby memperhatikan kemana dia pergi, mungkin dia akan pergi lagi entah kemana, tapi dia berhenti tepat di depan pintu kamar sebelah kamar miliknya, tampa sadar ruby juga mulai berjalan ke arah kamar itu.


beberapa langkah sebelum mencapai pintu itu Ruby berhenti sejenak dan melihat ke lantai bawah, yang hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela kaca.


dia melihat beberapa orang yang mungkin pengawal nyonya Amanda terkapar tidak sadarkan diri atau memang sudah mati di sana.


dia tidak memperdulikan itu dan terus berjalan selangkah demi selangkah ke kamar Aleska, Ruby perlahan membuka pintu kamar Aleska, dan di lihatnya di dalam aleska sudah berbaring dalam selimut di atas kasurnya.


Ruby berlahan berjalan menuju Aleska dan membaringkan tubuh kecilnya tepat di samping Aleska dan langsung tertidur.


Aleska yang merasakan ada seseorang yang membuka pintu kamar nya hanya diam tampa bereaksi sedikit pun. kemudian dia mendengar langkah kaki kecil yang mendekat ke arahnya, dia tidak ingin memperdulikan itu, karena dia tau, mungkin itu adalah adik kecil yang selama ini tinggal bersamanya.


Aleska ingin melihat apa yang akan di lakukan gadis kecil tersebut, tapi tampa di duga oleh Aleska, ternyata gadis itu tidak ingin mengganggunya dan merengek kepadanya karena ketakutan seperti yang di pikirannya, malahan dia dengan tenang berbaring di sisi Aleska dan langsung tertidur.


Aleska melihat seorang gadis tidur dengan nyaman di sebelahnya, sebenarnya setelah memastikan kalau itu adalah Ruby dia ingin mengusir gadis itu. tapi siapa sangka dia sama sekali tidak merengek dan menganggu Aleska, dia hanya tidur dengan tenang.


memikirkan ini Aleska menjadi tidak tega untuk mengusirnya, dia hanya membiarkan nya tidur tepat di sampingnya, dan menarikan selimut untuknya selah itu Aleska juga membaringkan kembali tubuhnya untuk tidur.


saat keesokan harinya, Ruby terbangun dan melihat ke sebelahnya, seperti tidak ada jejak siapapun yang pernah tidur di sana, dia seperti sudah bermimpi, dan melihat ke sekitar, tapi ini bukan kamar nya.


kamar ini terasa sangat dingin dan asing, Ruby belum pernah masuki ruangan ini sebelumnya. dia segera bangun dan keluar dari ruangan itu.


seperti biasa dia akan mendapati ruangan kosong yang sangat hening dimana hanya dia seorang yang hidup di dalamnya, ah tidak, ada satu lagi yaitu kakak laki lakinya Aleska.


Ruby berjalan pelan dari lantai dua menuruni tangga menuju lantai satu, dia melihat ruangan yang biasanya masih memiliki beberapa perabotan sekarang sudah hilang dan semakin terasa kosong, sementara para mayat yang di lihatnya malam tadi juga sudah hilang, dia terus berjalan ke arah dapur, di sana dia melihat segelas susu hangat.


Ruby segera berlari keluar mencari sosok Aleska yang mungkin baru saja pergi, tapi sampai di depan pagar halaman dia berhenti, dan tidak berani melangkah keluar. Ruby membalikan tubuhnya dengan lesu kembali ke dalam mension milik mereka.


entah apa yang terjadi pada malam itu, hingga semingu telah berlalu, bahkan sampai saat ini nyonya amanda tidak pernah lagi datang mencari Aleska ataupun datang mengganggunya, bahkan seorang pelayan yang kebetulan lewat di luar pagar pun tidak berani melihat ke arah Ruby.


*


di mension utama nyonya Amanda terlihat sangat emosional kepada para pelayan dan pengawalnya.


"bagaimana kalian bisa kalah oleh seorang bocah yang berusia 11 tahun, bahkan dia secara terang terangan membunuh para pengawal ku dan bahkan berani menghinaku dengan mengantar kan semua mayat yang sudah di bunuh nya ke depan pintu rumah ku."


"apa saja yang kalian lakukan selama ini" teriak nyonya Amanda sangat kuat kepada para pengawalnya.


"maaf kan kami nyonya" Amanda terdiam sesaat mengingat malam itu aleska menemuinya setelah membunuh semua pengawalnya.


flashback Amanda.


"nyonya, seperti yang pernah aku katakan, ini masalah antara kau dan aku, jangan coba coba menganggu gadis itu, semua yang kamu inginkan sudah aku penuhi tapi tetap saja kau melanggar janji mu.


kali ini tidak akan aku membiarkannya begitu saja, jangan menganggap aku lemah hanya karena aku membiarkan kamu selalu bertindak semau mu tampa melawan.


seharusnya kali ini kamu sudah mengerti apa yang seharusnya tidak kamu sentuh." lanjut Aleska dengan penuh penekanan dan dengan acuh pergi meninggalkan Amanda sendiri dan keluar dari mension utama yang sangat megah.


Amanda sangat marah mendengar seorang anak kecil berani memperingatinya seperti ini. tapi dia juga tidak bodoh, kedepannya dia tidak bisa lagi bertindak sembarangan karena memang bocah laki laki ini sangat berbahaya.


setelah kejadian ini, Ruby mulai menikmati hidupnya di mension dengan damai, tapi sikap Aleska tetap saja dingin seperti biasanya, tidak ada yang berubah.


*flashback and