Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
069 Seorang Gadis Dan Seikat Bunga Liar



ternyata di ujung ruang tamu, tuan Carllyss telah berdiri sejak awal mendengarkan percakapan mereka berdua.


mendengarkan mereka membicarakan Ruby dan kakak laki lakinya Aleska, dari situ tuan Carllyss mendapatkan sebuah ide yang cemerlang, dia akan memanfaatkan Ruby sebagai kelemahan Aleska dan mengendalikan pemuda itu untuk bisa menemukan keberadaan putrinya.


dengan kekuatan Aleska yang begitu kuat jika hanya menemukan seorang gadis yang hilang beberapa tahun lalu pasti tidak begitu sulit untuknya kan" pikir tuan Carl.


*****


wajah tuan Carllyss yang awalnya sangat tidak bersemangat karena melihat istrinya begitu menyayangi anak gadis orang lain seperti putrinya sendiri karena kasihan, sekarang wajahnya berubah menjadi cerah karena memikirkan ide yang baru saja terfikir kan olehnya.


tuan Carllyss langsung pergi dari sana dan kembali ke ruangannya, dia mengurungkan niatnya untuk menyapa anak dan istrinya yang awalnya terdengar sedikit ribut.


sampainya dia di ruangannya tuan Carllyss terus memikirkan bagaimana cara agar bisa menggunakan Ruby untuk membuat kesepakatan dengan Aleska.


yang terfikir kan pertama kali olehnya adalah mencuri gadis itu dari Aleska dan membuat kesepakatan dengannya, jika dia akan mengembalikan Ruby kepada Aleska dengan syarat Aleska bisa menemukan putrinya walau dalam keadaan hidup atau mati.


tapi memikirkan wajah Ruby yang akan dia curi tuan Carllyss tiba tiba menjadi tidak tega, bagaimana dia bisa menyakiti seorang gadis lain saat ingin menemukan anak gadisnya sendiri, bagaimana dia bisa mengorbankan seorang gadis yang tidak bersalah.


sepertinya rencana tuan Carllyss kali ini tidak akan berhasil, karena hanya dengan memikirkan wajah sedih gadis itu saja dia menjadi tidak tega, apalagi menyekapnya di ruangan gelap agar bisa mengendalikan dan mengambil keuntungan dari kakaknya.


"itu tidak mungkin" pikirnya lagi.


dia terus memikirkan kemungkinan rencana lain yang bisa dia lakukan selain menyakiti gadis itu. yang jelas dia sekarang secara tidak langsung telah mengetahui kelemahan dari laki laki yang menjadi CEO dari Unity Resource Group


*


sementara Carllo juga sibuk di ruang kerjanya menghubungi beberapa orang untuk memberikan pelajaran kepada putri walikota Berlin yang sangat sombong itu.


Carllo terlihat sangat serius berbicara di telfon dengan seseorang.


dia mengatakan jika besok pagi dia ingin walikota tersebut mengundurkan diri dari jabatannya.


*


di mension sisi timur.


Aleska yang baru sampai di depan mension nya untuk menepati janjinya malam ini untuk makan malam bersama Ruby.


dia berjalan keluar dari mobil dengan langkah yang tergesa gesa, yang terlihat jelas bahwa dia sudah tidak sabar ingin masuk kedalam mension dan menemui Ruby.


tapi saat Aleska memasuki mension itu, terlihat punggung laki laki yang berdiri membelakanginya yang sedang berbicara kepada Ruby.


sepertinya Aleska mengenali punggung laki laki itu dengan jelas.


"apa yang kamu lakukan disini"


tiba tiba suara Aleska yang baru datang mengagetkan Devano yang sedang mengatakan sesuatu kepada Ruby.


"kakak, kamu sudah pulang" ucap Ruby sangat senang melihat kedatangan kakaknya.


sepertinya hari ini kakaknya sengaja pulang cepat karena biasanya dia akan pulang sedikit terlambat dan sela menghabiskan malamnya di ruang belajarnya hingga Ruby tertidur sendiri di kasur kakaknya. dan selalu saja begitu sejak mereka kecil hingga sekarang.


Aleska melangkah pelan tapi past,i ke arah Devano dan Ruby.


"Aleska, aku....


Devano tidak bisa lagi melanjutkan kata katanya karena dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan situasinya saat ini.


mendengar Ruby masih memanggil devano dengan nama Deva membuat Aleska mengangkat satu alisnya.


*sebelum kedatangan Aleska.


beberapa menit yang lalu sebelum kedatangan Aleska, Devano berjalan jalan di sekitar mension untuk menenangkan pikirannya yang kacau, tapi lagi lagi devyano menyaksikan seorang gadis di bawah cahaya matahari yang sedikit menyilaukan, dia sedang asik menikmati waktunya memetik bunga liar di pinggir hutan Pinus dia terlihat sangat ceria.


seketika jantung Devano seperti akan berhenti berdetak, melihat jika gadis itu ternyata adalah Ruby.


dia ingin sekali menghampiri dan menyapa gadis itu tapi, langkahnya terhenti karena dia mengingat jika saat malam pesta sebelumnya dia tidak memiliki nyali untuk menyapa gadis itu dan menjelaskan jika dia tidak bermaksud berbohong dan menyembunyikan identitasnya.


tapi kali ini dia memberanikan diri dengan tidak tahu mau datang ke arah Ruby.


tapi tidak seperti yang dipikirkan oleh Devano.


reaksi dari gadis itu begitu tenang, dia sama sekali tidak terkejut karena kehadiran Devano yang datang tiba tiba.


"hallo?" sapa Devano.


Ruby membalikan badannya melihat ke arah suara yang seperti sedang menyapanya.


melihat orang yang datang adalah orang yang dikenalinya, Ruby mengambangkan senyuman di bibir indahnya yang terlihat penuh dan merah alami.


"ternyata kamu Deva, kamu sedang apa disini"


jantung Devano kembali berdetak tidak karuan.


ada apa dengan gadis ini, kenapa dia masih bisa tersenyum dengan wajah cerah kepadanya dan memanggilnya dengan, tunggu barusan ruyby memanggilnya dengan nama yang dia perkenalkan saat pertama kali mereka bertemu. ada apa dengan gadis ini, apakah dia belum mengetahui identitasnya yang sebenarnya atau dia melakukan ini dengan sengaja.


"hmmm aku sedang jalan jalan dan tampa sadar telah sampai ke sini." jelas Devano singkat


"jadi begitu,"


ruby hanya menjawab singkat dan kembali melihat keranjang tempat bunganya yang masih belum terisi penuh.


"jadi kamu disini apakah ingin memetik bunga?"


tanya Devano lagi berinisiatif mengajak Ruby berbicara.


"benar, aku suka merangkai bunga untuk pajangan di rumah ku"


Devano mengingat kembali waktu dia pertama kali mendatangi mension tempat tinggal Aleska dan Ruby, di sana juga terlihat beberapa tangkai bunga liar yang berserakan dan beberapa di antaranya sudah tersusun rapi di dalam vas bunga kaca berisi air.


ternya bunga yang waktu itu, yang dilihatnya adalah hasil pekerjaan Ruby. jadi siapakah anak kecil yang meninggalkan beberapa boneka mainannya di depan televisi yang masih menyala.


memikirkan ini Devano kembali merasa sangat penasaran dan ingin mendatangi mension tempat Ruby dan Aleska tinggal sekali lagi.


"pasti mereka nanti terlihat sangat indah, aku penasaran bagaimana hasilnya nanti, melihat bunga bunga ini yang memiliki warna warna yang begitu cerah." ucap Devano melihat kearah keranjang bunga Ruby yang di penuhi dengan bunga bunga liar yang tumbuh sangat indah dengan warna warna cerah, seperti putih, kuning, merah dan merah muda.


Devano sengaja mengatakan itu untuk memancing Ruby agar mengajaknya datang kerumahnya.


dan seperti yang diharapkannya dari gadis itu. Ruby dengan santai mengajaknya untuk ikut kerumahnya dan melihat sendiri bagaimana hasilnya nanti.


"aku juga tidak tahu pasti, bagaimana hasilnya nanti apakah indah atau tidak. jika kamu ingin melihatnya kamu bisa datang ke rumahku" tawar gadis itu dengan polos.