
"ternyata dia tidak sedingin yang aku kira" batin Ruby yang telah duduk di kursinya dengan nyaman, menyaksikan Aleska memutari mobil.
"ayo kita berangkat sekarang" ucap Aleska setelah dia duduk di kursi kemudinya.
"ya," sambil melihat ke arah luar dimana Hugo dan Mike berangkat dengan mobil terpisah di belakang mereka.
"ada apa?" tanya Aleska perhatian.
"tidak, aku hanya sedikit gugup," ucap Ruby.
"tidak apa-apa, ada aku, semuanya akan baik baik saja"
"tapi firasat ku tidak enak" ucapnya lagi dengan ekspresi sedikit gelisah.
"jangan berfikir macam macam, nanti kamu hanya perlu duduk manis di samping kakak" ucap Aleska berusaha menghibur gadis itu dan membuatnya sedikit lebih tenang.
benar saja Ruby tersenyum manis menatap Aleska, dan suasana di sana terasa kembali normal.
dan Aleska langsung menginjak pedal gasnya dalam meninggalkan mension sisi timur, mereka melewati hutan pinus, dimana mobilnya melesat membelah aspal yang membuat dedaunan gugur berhamburan ke setiap sisi jalan. udara sejuk berhembus manja di bawah rindangnya kesunyian hutan, hanya suara desir mobil yang menemani perjalan mereka.
*Davidson Corperation
Amanda melangkahkan kakinya keluar dari mobil, dengan makeup tebal dan bibir merah menyala, dia berjalan berlenggak lenggok di antara para karyawan yang berdandan polos dengan warna baju dominan hitam dan abu abu.
ya kehadirannya begitu mencolok.
tapi itu bukan sesuatu yang aneh, tidak akan ada satupun mata yang berani merendahkannya.
"selamat pagi Nyonya" sapa mereka yang suka menjilat.
Amanda yang begitu cantik dan awet muda begitu rendah hati membalas sapaan mereka dengan sedikit anggukannya yang melegenda.
tapi kali ini matanya menangkap seorang pemuda yang berdiri di depan lift yang mencuri perhatiannya.
mendengar langkah kaki seseorang di belakangnya Jean berbalik.
dan bertapa terkejutnya dia, tante, sekaligus ibu atasannya itu telah berdiri anggun di belakangnya.
"selamat pagi Tante" ucap Jean sedikit terkejut karena dia tiba-tiba datang tampa memberikan kabar.
"pagi Jean," ucapnya ramah sambil tersenyum.
"kenapa anda datang sendiri" tanya Jean lagi sambil memperhatikan di sekitar Amanda tidak ada siapapun.
tidak seperti biasanya, setidaknya dia di iringi dengan satu asistennya dan satu orang pengawal.
"yah, aku boson datang bersama mereka" Jawab Amanda langsung mengerti jika yang di maksud Jean adalah asisten dan pengawalnya.
ting.... suara pintu lift terbuka.
"kalau begitu, silahkan masuk nyonya, saya akan mengantar Anda" ucapnya sopan menawarkan.
jika di kantor Jean juga sudah terbiasa memanggil Amanda dengan sebutan nyonya, lain halnya jika itu adalah pertemuan keluarga.
"ya, terimakasih Jean" ucapnya sambil tersenyum ramah kepada pemuda itu.
berdiri di samping Amanda Jean memperhatikan penampilan ibu dari atasannya itu.
dia mengenakan celana dasar panjang dengan kaki yang melebar, dipadukan dengan blezer kekinian dengan warna hitam pekat, membuat dirinya terlihat berpendidikan dan modis, hanya saja makeup nya terlalu tebal menutupi wajah indahnya yang awet muda.
Ting.... suara pintu lift terbuka kembali di lantai paling atas.
"silahkan nyonya" ucap Jean mempersilahkan Amanda berjalan terlebih dahulu.
Jean terlalu segan hanya untuk bertanya, apakah nyonya nya ini ingin ke ruangan suaminya David atau ke ruangan putra nya Devano, Karena kegalauan tidak mendasarnya, dia memutuskan untuk mengikuti nya saja dari belakang.
tepat di depan ruangan CEO milik suaminya David, Amanda terus berjalan santai melewati ruangan itu begitu saja.
dan setelah beberapa langkah di berhenti tepat di ruangan yang Jean juga tuju, yaitu ruangan Devano.
dengan cepat tanggap Jean langsung maju dan mengetik pintu itu.
orang yang di dalam ruangan menegakkan kepalanya melihat ke arah pintu.
"mama?" ucapnya sambil berdiri.
"ya, sepertinya kamu sangat sibuk" ucap Amanda sambil tersenyum ke arah putranya.
Devano juga tersenyum merespon mamanya.
"kalau begitu aku pamit dulu" ucap Jean meninggalkan mereka berdua.
"yah" ucap nyonya Amanda menyetujui.
dia mengambil posisi dan duduk dia atas sofa tamu di ruangan Devano.
"ada apa ma, kelihatan sangat mendesak" ucap Devano sambil tersenyum ramah mengikuti ibunya yang duduk di atas sofa. karena biasanya dia akan datang saat hampir mau makan siang.
"tidak ada apa apa, mama datang hanya untuk melihat kamu" ucapnya santai.
tok tok tok...
" masuk ucap Devano"
"permisi tuan nyonya" ucap sekretaris Devano sambil meletakkan dua cangkir teh di depan keduanya.
setelah itu diapun berlalu pergi.
"minum dulu ma" ucap Devano, dia tahu jika Mama nya sudah datang seperti ini pasti terjadi sesuatu, apalagi hari ini juga bertepatan dengan acara konferensi pers nya Aleska. batin Devano.
Amanda mengambil gelasnya dan meminum sedikit.
"apakah kamu baik baik saja?" tanyanya sambil meletakkan kembali gelas itu ke atas meja.
"ya, aku baik baik saja" ucap Devano berusaha santai dan menunggu ibunya sendiri yang membuka duluan apa yang ingin dia katakan tampa mau bertanya.
"ibu dengar hari ini adalah hari dimana Aleska akan melakukan konferensi pers nya" ucap Amanda mulai serius.
"ya begitulah" ucap Devano tidak teratik sambil meraih gelas tehnya juga dan minum dari sana.
"kamu tidak perlu khawatir, konferensi itu tidak kan pernah terjadi"
"uhuk uhuk" Aleska tersedak air minum nya.
"apa yang mama lakukan?" tanya Devano terkejut.
dia sedikit curiga jika mamanya berbuat nekat.
karena saat dia menyelidiki masa kecil Aleska dan Ruby dia menemukan beberapa hal ganjil dan aneh tentang ibunya.
"ibu tidak melakukan apa-apa," sambil tersenyum misterius.
"hanya saja, ada orang lain yang melakukannya untuk kepentingan nya sendiri dan sekaligus juga bisa menguntungkan bagi kita." sambung Amanda lagi.
"ma, mama jangan terlibat dengan orang-orang yang berbahaya, masalah perusahaan mama serahkan pada ku, aku juga sudah punya solusi untuk menangani masalah saham yang turun drastis ini, sekaligus juga mendapatkan suntikan dana dari perusahaan sahabat ku untuk menutupi kerugian perusahaan kita" ucap Devano kepada ibunya dengan frustasi.
"tidak bisa begitu Devano, dia yang membuat kekacauan, tapi kamu yang harus membereskan semua akibat kelakuannya yang seperti binatang" ucap Amanda yang sudah mulai panas.
"ma, ini jauh lebih baik, dari pada kita mendapatkan suntikan dana dari perusahaannya itu, maka harga diriku dan keluarga kita mau di taruh dimana, mama tahu, jika dia ingin, dia sangat mampu untuk mengembalikan semua kerugian kita bahkan mungkin berlipat ganda" terang Devano kepada mamanya.
"mama tahu, bagaimana pun konferensi nya hari harus gagal, dan dia dinyatakan di keluarkan dari keluarga kita, setelah itu baru kamu bisa bertindak Seperti yang kamu katakan barusan. ingat Devano dia tidak boleh bertindak duluan" ucap Amanda, sambil berdiri dan pergi dari sana meninggalkan Devano seorang diri di dalam ruangannya.
*hallo readers😌, selamat malam.
dukungan like dan komen dari kalian bisa memberikan kehidupan baru bagi author.
jadi selalu dukung author dengan like, vote dan kasi hadiah agar meningkat kan rating novel dan author bisa mendapat penghasilan dari itu.
juga membuat Author makin semangat berkarya dan meningkatkan kan kualitas karya lebih baik lagi, dan jika kalian ada saran langsung komen di bawah👇ya atau bisa juga dengan Dm ig author @cacacondadevita jangan lupa follow, nanti pasti author follback.
terimakasih🥰
salam hangat dari Author 🤗