Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
059 Mike bersikap sopan lah sedikit, kita adalah tamu



"hmm benar" jawabnya


Ruby memperhatikan mereka berdua, dia mengenali Hugo, dan untuk Mike dia baru pertama kali melihatnya, tapi dia yakin bahwa orang orang yang di pilih sendiri oleh kakaknya pasti orang orang baik, dan jika di perhatikan sepertinya mereka juga bisa berhubungan baik, karena itu Ruby juga memutuskan untuk menganggap merek berdua sebagai kakak, seperti dia kepada Aleska.


*****


dan ini adalah Wanda, adikku" Aleska tetap dengan sopan memperkenalkan Wanda sebagai adiknya, karena dia tahu selama ini Wanda selalu berada di pihaknya walaupun dia selalu mengabaikan pemuda itu.


karena dia tidak ingin mempersulit keadaan untuknya, jadi dia hanya membiarkan saja jika wanda selalu mengikutinya dan kadang kadang mengoceh tentang hal yang tidak penting.


Wanda hanya diam saat di perkenalkan oleh Aleska sebagai adiknya kepada kedua bawahannya, sebenarnya saat itu Wanda sangat bahagia dan merasa bangga.


tapi tentu saja Aleska merasa tidak lagi perlu memperkenalkan Ruby kepada mereka berdua jadi dia hanya diam saja.


"kakak, aku sudah mau hampir terlambat, aku akan berangkat ke sekolah dulu" setelah melihat suasana kembali tenang, Ruby kembali teringat dia hampir telat pergi ke sekolah.


"baik lah, kamu akan di antar oleh Hugo"


Aleska menoleh ke belakang melihat Hugo.


"siap tuan, dengan senang hati"


melihat ekspresi Hugo yang begitu senang walaupun dia terlihat berusaha menyembunyikan rasa senangnya tapi karena Aleska telah mengenalnya cukup lama dan bahkan bisa di bilang jika mereka telah tumbuh bersama semenjak usia merek 11 tahun hingga sekarang. maka Aleska bisa melihat dengan jelas jika Hugo terlihat sangat senang saat akan mengantar Ruby, Aleska malah merasa tidak rela.


walaupun dia tahu kalau rasa senang Hugo hanya karena dia senang di beri kesempatan oleh Aleska untuk dekat dengan adik kecilnya, yang telah di anggapnya sebagai adik perempuan sendiri yang telah dia jaga dari kecil walaupun hanya dari jarak jauh tapi karena menjaga dengan setulus hati rasa sayang Hugo kepada Ruby juga tumbuh seiring berjalanya waktu, dan menganggap jika Ruby adalah adik kecilnya sendiri dan bersedia menjaganya dari bahaya.


"tidak usah, aku akan mengantar nya sendiri. kalian tunggu di sini!" ucap Aleska menoleh ke arah Mike dan wanda dan menyuruh mereka berdua untuk menunggunya di mension.


seketika wajah Hugo yang ceria berubah drastis, tapi dia hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun.


akhirnya mereka berdua berjalan keluar dari mension dengan tenang.


sebelum Ruby mengikuti langkahnya dari belakang untuk menuju ke luar mension dia berpamitan kepada tiga orang kakak laki lakinya yang tampan tampan itu.


"kak Wanda aku pergi dulu, kakak Hugo dan kakak Mike, Ruby pergi sekolah dulu" pamit Ruby melambaikan tangannya kepada mereka bertiga.


dan Wanda terus saja memperhatikan reaksi Hugo dan Mike sambil terus menilai mereka berdua.


seperti apa orang orang yang mengagumkan yang berdiri tegak di samping Aleska dan yang selalu di bicarakan oleh orang orang.


"baiklah hati hati di jalan" kini senyuman cerah wajah Hugo telah kembali seperti semula, benar benar seperti seorang gadis saja, suasana hatinya sangat mudah berubah ubah, tampaknya dia lemah di hadapan adik perempuannya ini.


Aleska segera menyalakan mesin mobilnya dan Ruby telah duduk di samping Aleska.


"apakah kamu sudah siap?" tanya Aleska menoleh ke arah Ruby yang baru selesai memakai sabuk pengamannya.


"iya kita bisa berangkat sekarang" jawab gadis itu sambil menoleh ke arah kakaknya, tatapan mereka berdua bertemu untuk sesaat, hingga Aleska mengalihkan wajahnya yang mulai terasa panas.


"kakak, kenapa wajah mu memerah?, apakah kakak tidak enak badan?" tanya Ruby yang perhatikan kakaknya dari pagi terlihat sedikit aneh.


"aku baik baik saja, kita berangkat sekarang" ucapnya tegas seperti biasa.


"hmm baik lah" Ruby memfokuskan pandanganya ke depan, saat mobil alesyka mulai berjalan perlahan.


mobil hitam itu segera pergi meninggalkan mension sisi timur, tapi kepergian mereka di perhatikan oleh sepasang mata sayu dari balik jendela kamar yang suram, saat mobil itu melewati gerbang utama.


"apa sebenarnya yang aku pikirkan, kenapa aku sangat marah kepada Aleska, padahal selama ini aku sama sekali tidak pernah menghawatirkan kedudukan ku di keluarga ini, bahkan aku sama sekali tidak keberatan jika ayah memperlakukan ku dengan Aleska secara adil.


aku melangkah sejauh ini hanya untuk mengikuti kemauan ibu ku, agar dia bahagia dan bangga kepadaku. tapi kenapa sekarang aku merasa seperti Aleska telah mencuri sesuatu dari ku.?" ucap Devano berbicara kepada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan mobil hitam itu sampai hilang dari penglihatan nya.


devano tidak keluar dari kamar nya semenjak malam pesta perayaan perusahaan barunya. lampu kamarnya tidak di hidupkan, botol minuman berserakan di mana mana dan ruangan tersebut terasa sesak di penuhi dengan asap rokok, selama ini devano bukanlah perokok aktif dia hanya akan merokok jika sedang banyak pikiran seperti sekarang ini.


sama hal nya dengan Aleska, pikiran Devano selalu saja di ganggu oleh bayang-bayang saat di pesta, dimana Aleska datang dan menarik Ruby dalam pelukannya, saat gadis itu datang dengan keluarga Carllyss lalu membawanya pergi dari pesta begitu saja.


bayang bayang kejadian itu selalu menganggu pikiran Devano, dia tidak tahu harus bagaimana, yang pasti saat itu di merasa tidak berdaya untuk pertama kalinya di bandingkan dengan Aleska.


tapi di kamar itu Devano tidak sendiri, tadi saat masih sangat pagi Jean datang ke kamarnya, karena menghawatirkan sahabatnya itu setelah kejadian di pesta semalam.


awalnya Jean sangat terkejut saat memasuki kamar Devano, karena memang biasanya dia tidak pernah mengunci kamarnya, dan hanya Jean seorang yang berani masuk tampa mengetuk pintu terlebih dahulu untuk masuk ke kamar Devano.


"Devano apa yang kamu lakukan?" teriak Jean melihat botol minuman berserakan dimana mana.


benar kali ini Jean tidak lagi memanggil devano dengan tuan, tapi langsung memanggil dengan namanya, karena terlalu kaget melihat kondisi devano saat ini.


sementara Devano tidak bereaksi samasekali mendengar suara Jean yang berteriak kepadanya.


"Devano, apa yang salah dengan mu, selama ini kamu tidak pernah peduli tentang uang dan kekuasan, tapi kenapa sekarang kamu terlihat hancur setelah mengetahui bahwa Aleska adalah lawan yang sepadan?" tanya jean kembali berteriak kepada devano yang hanya duduk bersandar di tempat tidurnya dengan tenang.


mendengar jean yang semakin berisik Devano menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan berdiri.


bukanya dia balik untuk memarahi jean kembali, tapi malah dia malah berjalan ke arah jendela seperti mayat hidup.


melihat ini Jean tidak bisa berkata kata lagi, dia hanya mencoba mengingat ingat kejadian sebelumnya


"sebenarnya apa yang menyebabkan Devano bertidak seperti sekarang. dia bukan seperti diri nya sendiri." batin Jean.