Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
155 lagi lagi



saat mereka tengah terhanyut dalam suasana hening, seseorang datang dan mengetuk pintu rumah mereka.


"tuan muda, tuan Davidson datang" ucap pelan yang datang ke arah mereka, yang dibelakang pelayan itu telah berdiri tuan Davidson.


Aleska seketika menghentikan makan dan melihat ke arah pelayan itu, begitupun dengan Ruby.


Ruby pun langsung otomatis berdiri dan menyapa tuan Davidson.


"selamat malam tu...an" sapa Ruby terbata karena di belakang Davidson muncul seorang pemuda yang di kenalnya.


"malam Ruby, klian selesai kan saja makan malam kalian terlebih dahulu, aku akan menunggu" ucapnya ramah.


"silahkan ikut makan bersama kami tuan, jika tuan bersedia" ucap Ruby menawarkan.


"dan Deva....?" sambungnya lagi yang kini mengalihkan perhatiannya pada Devano yang berdiri di belakang ayahnya.


bukan menawarkan lebih tepatnya meminta penjelasan, kenapa dia juga ada di rumahnya.


"tidak apa apa, kami berdua sudah makan, kalian lanjutkan saja" ucapnya lagi?


Ruby yang mendengat penjelasan david menatap lekat ke arah Devano, tapi dia tetap tidak mengatakan apapun.


sementara Devano hanya diam melihat ke arah lain pura pura tidak tahu jika Ruby menatap lekat ke arahnya meminta penjelasan.


"tidak, ayah bisa bicara sekarang" ucap Aleska sambil beranjak dari kursinya.


melihat Aleska meninggalkan makanan begitu saja tuan Davidson juga tidak dapat melakukan apapun.


mau bagaimana lagi, sepertinya aku datang di momen yang kurang tepat, batinnya sambil mengikuti langkah Aleska dari belakang menuju lantai dua dima ruangan Aleska berada.


dan Devano juga mengikuti langkah keduanya di belakang dalam diam.


sampainya di ruangan Devano dan tuan David langsung mengambil posisi duduk di sofa.


begitupun dengan Aleska, dia duduk di hadapan keduanya santai.


"tuan, apakah ada masalah sampai anda mau repot-repot datang kemari?" tanya tidak suka.


"apa kamu sudah melihat harga saham perusahaan?" tanya tuan Davidson sambil meletakkan sebuah tablet di atas meja di hadapan aleska.


Aleska melihat di sana terpampang panah kurva saham yang menukik tajam.


"apa yang anda inginkan?" tanyanya lagi dengan ekspresi enteng.


"apa yang kamu lakukan sehingga lengah, aku awalnya membiarkan dan menutup mata karena kamu cepat bertindak dan memblokir beritanya segera, tapi lihat sekarang, beritanya bocor bahkan lebih parah dari sebelumnya" ucap Davidson menahan emosinya.


mendengar itu Aleska menaikan sudut bibirnya.


aku terlalu berharap banyak, aku kira dia datang ingin marah marah karena menghawatirkan kami, tapi lihat satu satunya hal yang dia khawatir kan adalah perusahaan nya" batin Aleska tragis.


"jika yang tuan khawatir kan adalah ini" sambil menggeser tablet tadi kembali ke hadapan Davidson.


"maka anda tidak tidak perlu khawatir, semua kerugian perusahaan anda akan di tanggung oleh Unity Resource Group (URG)" ucapnya singkat


ya Unity Resource Group (URG) adalah perusahaannya sendiri, dengan nilai kekayaan tidak terukur.


Davidson terdiam dan melihat sekilas ke arah Devano dan kembali terdiam.


apa yang dia pikirkan, kenapa dia begitu bodoh untuk bernegosiasi dengan orang yang tidak lagi memerlukan uang.


"jika tidak ada hal lain lagi, saya ingin kembali melanjutkan makan malam" ucap Aleska sambil berdiri dari duduknya.


"ah ya " ucap David kaku.


"tunggu" ucap Devano Tiba tiba, yang dari tadi hanya diam membisu tidak membuka suaranya sama sekali.


David menghentikan gerakannya untuk berdiri menatap ke arah putra nya itu.


begitupun dengan Aleska, dia menatap curiga ke arah Devano yang selalu saja bertindak di luar dugaannya.


benar saja apa yang di duga Aleska, dari tadi dia hanya diam saat membahas perusahaan tapi dia terlihat begitu tertarik tentang masalah pribadinya.


David yang mendengar ucapan Devano juga merasa menciut kecil ke bumi.


karena dia melupakan tujuan utamanya saat terlalu antusias terhadap salah perusahaan, apalagi dengan keterkejutan dengan respon yang di berikan Aleska yang bersedia menyuntikan dana tampa batas pada perusahaan.


yaaa.. akhirnya dia melupakan masalah yang lebih serius.


dia juga menatap lekat wajah Aleska menantikan jawaban dari pemuda itu.


"apa urusan mu?" tanya Aleska tidak suka dengan aura yang mencengkram.


"tentu saja, seberapapun hebat kekuatan mu, tetap ada hal hal yang tidak dapat kau lakukan, salah satunya seperti yang kamu lakukan saat ini terhadap Ruby" ucap Devano tidak terima.


"jadi maksud mu, apa yang kamu lakukan dengan ibumu dan adik perempuan mu yang hampir membunuh Ruby adalah benar?" ucap Aleska yang malah balik bertanya.


Devano berusaha berfikir keras mencerna apa yang dikatakan aleska barusan.


dia beralih melihat ke arah ayahnya untuk meminta penjelasan.


tuan David yang mengerti apa yang dikatakan Aleska hanya menunduk bersalah.


"jangan ikut campur urusanku jika kamu tidak mengerti apa apa" sambung Aleska penuh penekanan yang melihat respon Devano yang celingak celinguk tidak mengerti.


dia berjalan keluar meninggalkan Devano dan ayahnya di ruangan itu begitu saja.


"kak mau kemana?" tanya ruby yang membawa tampan berisi tiga cangkir teh hanya, dia berniat mengantarkan mereka bertiga minuman, tapi malah berpapasan dengan aleska tepat di depan pintu ruangannya.


tapi pemuda itu pergi begitu saja.


"sikap dinginnya benar benar telah mencapai tulang" batin gadis itu melihat punggung kakaknya yang pergi sari sana.


kini dia melangkah masuk kedalam ruangan itu.


"apakah kalian sudah ingin pergi" tanya gadis itu polos, karena melihat mereka berdua telah berdiri dari duduknya.


tapi kedua orang itu tidak tahu harus menjawab seperti apa, terlebih Devano.


"ah aku baru tahu jika kamu berkerja untuk tuan Davidson, pantas saja kita sering bertemu" sambung nya lagi polos melihat ke arah Devano.


mendengar itu Davidson menatap lekat wajah putra nya.


dia benar benar tidak mengerti lagi bagai mana kedua putranya bertindak dan memperlakukan gadis polos di depannya ini, yang merupakan adik perempuannya mereka sendiri.


"yah bisa di bilang begitu" ucapnya lagi sambil berdehem menghindari tatapan ayahnya.


"ya aku sudah menduganya" ucapnya lagi sambil tersenyum imut ke arah Devano.


dia merasa bersalah sekaligus kasihan kepada gadis polos yang ada di hadapannya ini.


ah bukan polos, tapi terlalu polos. batin Devano yang melupakan keberadaan ayahnya karena terlalu larut dalam pikirannya sendiri.


"sepertinya aku juga perlu bicara berdua dengan mu" ucap david dan langsung pergi dari sana meninggalkan mereka berdua.


*keesokan paginya.


"tok tok tok... ketuk seseorang di pintu ruangan Aleska.


"masuk" ucapnya sambil melihat ke arah pintu.


"selamat pagi tuan" sapa Mike kepada Aleska.


"bagaimana perkembangannya?" tanya Aleska masih sibuk dengan dokumen yang ada di tangannya.


"berjalan seperti harapan kita tuan" ucap Mike dengan ekspresi lega yang sangat kentara di wajah manisnya.


"bagus, lakukan rencana selanjutnya" perintah Aleska mengangkat kepalanya melihat ke arah wajah Mike.