
Devano melihat ke arah meja makan terlibat sebuah gunting dan beberapa macam bunga liar dengan warna dan jenis yang berbeda yang yang masih segar berserakan di atas meja dan beberapa bagian sudah tersusun rapi di dalam vas bunga di atas meja.
mungkin dia pergi ke suatu tempat kerena terdesak oleh suatu hal dan tidak menyelesaikan kegiatan nya terlebih dahulu.
" mungkin itu adalah ibu dari anak ini" pikir devano dalam hatinya sambil melirik ke arah televisi yang masih menyala dan melihat beberapa boneka kecil mainan anak perempuan yang sedikit berserakan di atas karpet berbulu yang terlihat hangat.
semua orang akan berfikir hal yang sama, apa bila di hadapkan dengan situasi seperti ini.
keluarga yang hidup bahagia, dengan istrinya yang suka merangkai bunga liar yang mungkin di ambilnya di suatu tempat di hutan, dengan seorang anak perempuan mereka yang ceria.
situasi ini membuat Devano bingung, ini tidak seperti yang di bayangkan nya , dia seperti
salah memasuki rumah seseorang.
Devano mencoba melihat ke sekeliling ruangan mencoba mencari apakah ada seseorang di dalam rumah, tapi dia tidak menemukan satu orang pun.
ini malah terasa lebih aneh. akhirnya Devano memutuskan untuk meninggalkan rumah itu dan segera memasuki mobilnya dan kembali ke mension utama dengan perasaan yang campur aduk.
di perjalan pulang devano melewati seorang gadis memakai topi lebar dan gaun bermotif bunga bunga kecil, khas pakaian seorang gadis saat musim semi, gadis itu terlihat sedang asik memetik beberapa bunga liar di tepi lapangan hijau tempat biasanya di gunakan aleska untuk berlatih dan lari pagi.
.
gadis itu tidak memperhatikan jika ada seseorang yang datang ke tempatnya, lagian memang rumah mereka juga sangat jarang di datangi oleh seseorang. atau memiliki seorang tamu, ini bahkan lebih tidak mungkin lagi.
Devano melaju dengan mobilnya yang bewarna hitam yang terlihat sangat mewah, hingga mobil itu tidak terlalu menghasilkan suara yang cukup kuat, sehingga kehadiran nya pun tidak menarik perhatian orang orang yang berada di sekitarnya.
Devano hanya fokus menyetir mobilnya menuju mension utama dengan pikiran yang campur aduk, sekilas devano melihat dia melewati seorang gadis, tapi devano tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena hanya melihat dari dalam mobil, dan hanya melewatinya begitu saja.
siapa gadis itu pikir devano selintas, Devano tidak terlalu memikirkannya karena dia mengalami terlalu banyak kejadian besar dan aneh hari ini yang di ditemuinya dan itu menguras energinya cukup banyak.
tampa terasa Devano telah sampai di depan gerbang mension utama karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dari mension di sisi timur, saat sampai, gerbang terbuka secara otomatis dengan sistem sensor teknologi tinggi.
*****
perlahan devano memasukan mobilnya ke dalam bagasi dengan hati hati, setelah selesai devano berjalan memasuki mension mereka.
devano di sambut oleh seorang pelayang dan mengambil jas yang ada di tangannya.
"apakah tuan membutuhkan sesuatu yang lain?" tanya pelayan itu hormat.
"tidak" devano hening beberapa saat dan menanyakan keberadaan ibunya
" apakah kamu melihat mama?"
"nyonya amanda sekarang berada di kamarnya tuan muda" jelas pelayan itu.
"baik tuan muda, akan saya sampaikan kepada nyonya"
Devano langsung berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai dua, devano melonggarkan dasi yang membuatnya merasa sesak setelah membayangkan kembali suasana di mension di sisi timur.
Devano yang merasa kelelahan duduk di atas ranjang king size nya dengan seprai bewarna coklat dengan warna selimut yang senada, ini memberikan kesan hangat pada kamarnya dengan dekorasi yang cukup maskulin untuk seorang devano.
di sisi lain seorang gadis dengan gembira sedang asik memetik bunga liar di sore hari karena dia ingin merangkai bunga untuk menghias meja makan di rumah nya dimana nanti malam dia dan kakak nya Aleska akan makan siang bersama.
"ku rasa ini sudah cukup" bicara sendiri sambil melihat keranjang di tangannya sudah terisi penuh dengan bunga bunga yang indah dan segar.
"aku harus segera pulang dan melanjutkan merangkai bunga yang aku tinggalkan tadi, mungkin kak aleska sebentar lagi juga akan pulang." Ruby dengan wajah yang gembira berjalan masuk kedalam mension nya, dan membuka pintu yang tertutup, sementara pintu tersebut di tinggalkannya dalam keadaan terbuka tapi dia sama sekali tidak menyadari jika ada seseorang sudah masuk ke dalam Mension nya.
dia segera masuk dan menyelesaikan pekerjaannya merangkai bunga, dan membereskan beberapa boneka kecil yang selalu menemaninya saat menonton televisi.
tapi di sisi lain devano terus berfikir tentang kejadian yang di lihatnya hari ini, jika itu adalah perilaku dua orang yang berbeda, bahkan dengan jarak umur yang cukup jauh, Dimata devano, ini lebih terlihat seperti ibu dan anak jika melihat dari pekerjaan yang mereka berdua tinggalkan.
"hmmmm lebih baik aku segera mandi, aku harus menyelidiki ini sendiri, apa yang sebenarnya terjadi" sambil mengingat hal hal yang terjadi hari ini.
Devano berjalan ke arah kamar mandi dan membuka bajunya, terlihat badannya yang cukup berotot di siram oleh air shower yang mengeluarkan sedikit asap, Devano sengaja mandi dengan air yang cukup hangat untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa kaku dan kelelahan karena dia hari ini menjalani hari yang cukup berat.
sementara nyonya Amanda keluar dari kamarnya, setelah menerima telefon dari suaminya David yang mengatakan kalau dia akan pulang terlambat malam ini.
tapi ekspresi nyonya Amanda tetap tenang seperti biasanya karena ini bukan pertama kalinya David menelfon memberitahu jika dia akan pulang terlambat atau mungkin akan sangat terlambat.
tapi Amanda seolah tidak peduli lagi jika dia mencari wanita lain di luar atau dia benar benar mengurus bisnisnya di kantor.
"nyonya makan malam sudah siap" seorang pelayan yang melihat Amanda keluar dari kamarnya segera mendekat dan melaporkan situasi saat ini.
"apakah Devano telah kembali?"
"sudah nyonya, dia mengatakan akan mandi terlebih dahulu dan akan datang untuk makan malam sebentar lagi"
"baik lah"
Amanda berjalan ke arah meja makan dan duduk di kursinya, dia melihat semua hidangan di atas meja dengan rasa puas, dan mengambil sebuah gelas yang telah tersedia di atas meja.
seorang pelayan yang melihat langsung menuangkan anggur merah dengan sangat elegan seperti pelayan- pelayan di restoran, mahal ke dalam gelas yang di pegang Amanda.
Amanda terlihat menggoyang goyang kan gelas bening yang berisi anggur merah untuk menikmati aromanya dan meminumnya perlahan.
"mama?"
mendengar suara Devano yang telah datang Amanda meletakan gelas yang di pegang nya dan melihat ke arah putranya yang baru saja datang.