Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
068 Perasaan Aleska tidak sesederhana kelihatanya



setelah mengatakan itu Aleska segera masuk kedalam mobilnya dan mengendarai mobilnya pergi dari sana.


"Hugo, apa yang terjadi dengan nya?"


setelah mobil Aleska menghilang dari pandangan mereka berdua Carllo bertanya dengan nada bingung kepada Hugo.


"kali ini aku juga sama sekali tidak mengerti, ah sudah lah, " Hugo melambaikan tangannya sambil berjalan ke arah mobilnya tampa melihat ke belakang ke arah Carllo. dan meninggalkannya seorang diri di tengah kebingungannya melihat sikap Aleska.


"dia benar benar sangat sulit di pahami," Carllo akhirnya juga menyerah dan juga berjalan ke arah di mana mobilnya terparkir dan hendak pergi dari sana, tapi langkah kaki nya tiba terhenti mengingat kata kata laki laki botak itu saat memohon maaf kepada mereka berdua sebelum Aleska bertingkah aneh.


*****


"apakah suasana hati Aleska tiba tiba berubah menjadi lebih baik setelah mendengar laki laki botak itu berkata kalau Ruby adalah wanitanya?


ah tapi itu tidak mungkin, kenapa dia malah senang jika seseorang salah mengatakan adik perempuannya adalah wanitanya sendiri.


ah, sudah lah, apa yang aku pikirkan, yang penting kali ini aku juga mengetahui siapa orang di balik kejadian ini yang juga berani menyentuh Rice, bukan hanya Aleska yang memiliki kekuatan, lihat saja nanti aku juga bisa melakukan apapun.


Carllo masuk kedalam mobilnya dan juga meninggalkan bangunan tua itu.


sampainya di rumah, dia dikagetkan oleh suara ibunya yang tidak henti terus menasehati Rice, karena ibunya salah paham jika Rice berkelahi di sekolah dengan temanya.


"oh kakak, ternyata kamu sudah pulang, tolong bantu aku menjelaskan kepada ibu, jika aku tidak berkelahi dengan temanku di sekolah, tapi aku bertarung melawan para preman yang ingin menganggu kami" ucap Rice dengan lega melihat kedatangan kakak nya.


nyonya Carllyss juga mengikuti arah pandangan Rice ke arah pintu masuk, dimana Carllo baru saja datang dan masuk kedalam rumah.


"ibu, sudah lah, benar yang dikatakan Rice, jika dia bertarung dengan beberapa preman yang ingin mengganggunya dan ruby" jelas Carllo memalas.


mendengar nama Ruby, bukanya nyonya Carllyss menghawatirkan putranya yang baru saja dihajar oleh beberapa preman, tapi dia malah berdiri dari duduk nya dan berjalan ke arah Carllo yang baru saja datang.


"Carllo sayang, apakah Ruby tidak apa apa? apakah dia terluka? dima dia sekarang?"


pertanyaan dari nyonya Carllyss yang secara bertubi-tubi, dia tidak memberi kesempatan kepada Carllo untuk menjelaskannya terlebih dahulu.


"ibu tenang lah terlebih dahulu, dia baik baik saja." ucap Carllo terdengar sedikit lelah dari suaranya.


"ibu? bagai mana kamu bisa mencemaskan anak orang lain saat anak mu sendiri terluka seperti ini " potong ricye yang protes kepada ibunya.


"Rice kamu itu laki laki, sudah seharusnya kamu bertarung untuk menyelamatkan seorang gadis apalagi itu adalah Ruby, awas saja jika kalian sampai membuatnya terluka"


"ibu barusan kamu terus menceramahi ku mengatakan jika aku tidak boleh terlibat dalam perkelahian apapun, tapi sekarang ibu minta jika aku harus matian bertarung untuk melindunginya?" (ungkap rice tidak terima)


"tapi ini berbeda, kamu harus bisa melindungi seorang gadis saat sedang bersamamu, begitulah seharusnya laki laki bersikap" nyonya Carlyyss juga menjawab pantang kalah dari putranya.


"jadi apakah Ruby, benar benar baik baik saja,? apakah kalian berhasil melindunginya?" nyonya Carllyss terus bertanya tampa memperdulikan ekspresi kesal Rice.


Rice yang baru saja mengangkat gelasnya hendak minum, mendengar perkataan ibunya sendiri, air yang belum sempat dia telan kembali muncrat ke mana mana saat ke luar dari mulutnya. dan dia langsung terbatuk-batuk memegangi dadanya.


begitupun dengan Carllo dia hanya terus menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"ya sepertinya begitu" Carllo menjelaskannya dengan sedikit rancu dan melihat ke arah Rice yang masih terbatuk-batuk.


"ibu kalau begitu aku akan ke kamar ku dulu" pamit Carllo.


"hmm baik lah" nyonya Carllyss cukup puas.


"ibu aku juga ingin kembali ke kamar ku" kata Rice.


"tunggu dulu, kapan kami akan mengajak ibu bertemu dengan Ruby?" tanya nyonya Carllyss dengan tidak sabar.


"ibu, itu tidak akan mudah, karena dia juga memilki keluarga yang menyayanginya" Rice mencoba menjelaskan kepada ibunya dengan tidak semangat, karena dia sangat lelah dan juga ingin beristirahat segera ke kamarnya.


"Rice apakah itu sulit karena kakak laki lakinya?" tanya nyonya Carllyss dengan sedikit hati hati.


mendengar ini Rice yang awalnya sudah berdiri dan ingin pergi dari sana kembali duduk dan memikirkan hubungan Aleska dan Ruby.


nyonya Carlyyss melihat putra hanya diam memikirkan sesuatu kembali bertanya.


"tapi ibu lihat dia sangat menyayangi Ruby, dia tidak mungkin melarang Ruby melakukan apapun yang dia sukai." analisa nyonya Carllyss.


mendengar ini Rice menoleh ke arah ibunya memperhatikan raut wajah wanita yang hampir berusia separuh baya itu, tapi dia tetap terlihat sangat cantik dan begitu anggun.


dalam hati Rice (sepertinya yang dikatakan oleh ibu benar. padahal dia baru bertemu satu kali saja dengan Aleska, saat malam pesta Devano. apakah ini adalah naluri seorang ibu??? " pikirnya


"aku harus mencari kesempatan untuk bertemu dan bicara dengannya" kata nyonya Carllyss dengan suara pelan.


tapi tentu saja di dengar oleh Rice yang juga berada di sana.


"ibu jangan melakukan hal yang aneh aneh, kakak laki laki Ruby adalah orang yang sangat berbahaya" jelas Rice kepada ibunya.


walaupun rice adalah anak yang penurut, dan selalu terlihat ceria tapi dia adalah seorang pemuda yang yang pintar dan pandai membaca situasi di sekelilingnya.


bahkan saat tadi siang dia melihat Aleska begitu khawatir kepada Ruby dan memegang tangan Ruby tampa mau melepaskannya sedikitpun, Rice mengetahui dengan jelas jika perasaan Aleska terhadap Ruby tidak sesederhana kelihatanya.


dan saat melihat Ruby mengalah kan semua laki laki bertubuh besar yang menganggu mereka saat itu, dengan sangat mudah Rice sadar bahkan kemampuan Aleska bisa saja seratus kali lebih ngeri dari pada itu.


karena itu, lebih baik dia memperingati ibunya agar tidak berurusan dengan mereka, walaupun Rice tau Ruby adalah gadis polos yang tidak tahu apapun dan memiliki hati yang sangat baik.


"Rice ibu tahu, tapi jika berhubungan dengan kebahagiaan Ruby, dia akan patuh dan bersedia melakukan apapun" jelas nyonya Carllyss dengan yakin.


"ibu bagaimana kamu bisa begitu yakin?" tanyanya lagi.


"karena aku adalah seorang ibu." jawab ibunya singkat.


ternyata di ujung ruang tamu, tuan Carllyss telah berdiri sejak awal mendengarkan percakapan mereka berdua.


mendengarkan mereka membicarakan Ruby dan kakak laki lakinya Aleska, dari situ tuan Carllyss mendapatkan sebuah ide yang cemerlang, dia akan memanfaatkan Ruby sebagai kelemahan Aleska dan mengendalikan pemuda itu untuk bisa menemukan keberadaan putrinya.


dengan kekuatan Aleska yang begitu kuat jika hanya menemukan seorang gadis yang hilang beberapa tahun lalu pasti tidak begitu sulit untuknya kan" pikir tuan Carl.