
saat akan memasukan satu sendok eskrim ke dalam mulut nya Ruby ingat Aleska juga pasti lapar karena makan malam tadi dia juga tidak menghabiskan makanannya. akhirnya Ruby berdiri dan ingin membawa ice cream ke ruangan Aleska.
sementara Aleska sedang berada di ruang belajarnya atau mungkin sekarang juga sudah menjadi ruang kerjanya, dia sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya.
"tuan seperti yang kamu lihat, juga ada pihak lain yang sepertinya juga penasaran dengan hutan Pinus, mereka sudah cukup lama mengawasi sekitar hutan Pinus, tapi mereka kelihatanya meraka tidak berani untuk masuk"
Aleska melihat layar laptopnya yang memperlihatkan rekaman cctv tersembunyi yang di pasang atas perintah Aleska dan terhubung langsung dengan laptopnya.
"apa yang harus kami lakukan tuan?"
"masih seperti sebelumnya, siapa pun itu, selama mereka tidak mendekati mension sisi timur biarkan saja, tapi tetap awasi mereka"
"baik tuan, tapi tuan sepertinya mereka tidak menginginkan informasi tentang keluarga davidson tapi hanya mencaritahu tenang hutan Pinus."
"sebenarnya siapa mereka?" tanya Aleska mulai penasaran.
"mereka utusan carllyss tuan"
"kak, apakah kakak ada di dalam?" suara ruby yang memanggil dari balik pintu.
orang misterius itu belum sempat menyelesaikan laporannya kepada Aleska dan di hentikan oleh suara Ruby dimana langkah nya terdengar semakin mendekat.
"kalau begitu tuan saya pergi dulu"
"hmm"
kreeeakkkk..... kakak kenapa kakak diam saja aku panggil dari tadi.
"hmm itu aku lagi sibuk" aleska segera melihat kembali ke layar laptopnya dan bernafas lega.
"(ah untung saja di bergerak lebih cepat, kalau tidak ini akan menjadi sulit.)" batin Aleska memerhatikan pengawalnya sudah lebih dulu pergi tepat sebelum Ruby masuk.
"kenapa kamu ke sini?"
"kakak tadi selesai belajar aku merasa lapar dan ingin mengajak kakak makan eskrim"
sambil mengacungkan satu sendok untuk makan eskrim kepada aleska.
"kamu makan saja"
ruby duduk di atas sofa lembut bewarna putih di tepat di samping meja belajar Aleska.
"kakak kamu harus mencobanya, ini sangat enak, musim semi akan segera berakhir dan ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk makan eskrim." ruby terus bicara sambil memasukan beberapa sendok eskrim kedalam mulutnya dengan ekspresi sangat bahagia.
Aleska menoleh ke samping untuk melihat Ruby yang terus berbicara sambil memakan eskrim di tangannya.
tiba tiba perhatian aleska mengarah kepada rak buku yang ada di belakang ruby, sepertinya beberapa buku akan jatuh dari sana karena goncangan dari ruby saat dia akan duduk, karena sebelumnya Aleska mengambil buku kurang hati hati dari sana.
"Ruby awas"
bruuuuuuukkk...!!!!
Aleska berdiri dan berlari ke arah Ruby dan memeluknya, Aleska melindungi Ruby dari runtuhan beberapa buku cukup tebal yang akan menimpa kepala gadis itu, dengan menggunakan tubuhnya nya sendiri sebagai tameng untuk Ruby.
sementara Ruby yang kaget hanya menunduk ketakutan dalam pelukan Aleska.
"apakah kamu tidak apa apa?"
aleska melonggarkan pelukannya dan melihat wajah Ruby yang ketakutan.
"aku tidak apa apa, justru kakak lah yang di timpa oleh buku itu"
" tidak usah di pikirkan aku tidak apa apa"
Aleska sebenarnya sangat menghawatirkan Ruby, karena dari awal Ruby sudah banyak menderita karena dirinya.
"apakah kamu ingin kakak mengantarkan mu ke kamar?"
"tapi kakak sedang belajar"
"tidak aku sudah selesai"
"kalau begitu baiklah"
alteska membawa ruby kembali ke kamarnya, tapi tepat di depan pintu kamar Aleska, ruby tiba tiba menghentikan langkahnya.
"kakak, kamu ingin kemana?"
"hah?"
Aleska menoleh ke belakang melihat Ruby yang menghentikan langkahnya.
"tentu saja ke kamar mu"
"kakak, aku tidak lagi pernah tidur di kamar itu, apakah kakak lupa?"
"Ruby, kamu sudah cukup besar untuk tidur sendiri"
"tapi aku tidak mau, aku ingin tidur dengan kakak, seperti biasanya, lagian aku masih ketakutan karena kejadian tadi"
"hmm baiklah"
Aleska kali ini mengalah karena memang benar Ruby sepertinya masih terkejut karena kejadian tadi.
saat sampai di kamar, Aleska membantu Ruby naik ketempat tidur dan menyelimutinya sampai dada. dan ingin beranjak pergi meninggalkan Ruby untuk tidur.
"kakak,"
melihat Aleska membalikan badannya dan ingin pergi, Ruby segera menahan tangan nya agar tidak pergi.
"kakak, bisakah kamu berbaring di sini sebentar saja?"
Aleska membalikan badannya kerena Ruby memegang pergelangan tangannya.
"baik lah, aku akan menemanimu tidur sebentar"
Aleska duduk bersandar pada bantal di samping Ruby tidur.
Ruby terlihat dengan tenang mulai memejamkan matanya, tapi tidak sampai beberapa saat, terdengar suara yang sedikit parau darinya. ruby berbicara kepada aleska tampa membuka mata. dia tidak sadar seberapa besar Aleska menahan gejolak di dalam hatinya.
"kakak? apakah kamu membenci ku?" dengan mata yang masih terpejam.
"kenapa kamu berfikir seperti itu?" memperhatikan wajah gadis itu.
"karena aku selalu saja menyusahkan mu"
"tidak masalah" membuang pandangan ke arah lain
"kakak?" Ruby kembali memangil kakaknya masih tampa membuka mata nya.
"hmm"
aleska hanya menjawab ruby dengan berdehem dan kembali melihat ke arahnya.
"kakak, katanya aku tidak mirip dengan ibu, ibu terlihat sangat cantik dan memiliki mata seperti mu, tapi kenapa warna mata ku sangat berbeda dengan milik kalian?" tanya gadis itu dengan polos.
mendengar ini seketika membuat Aleska terdiam dan membayangkan kembali sosok ibunya yang terlintas dalam pikiran nya.
ibunya sangat lembut, di memiliki badan yang cukup tinggi dan ramping dengan rambut coklat yang panjang dan memiliki mata kuning cerah seperti miliknya.
*****
kemudian Aleska melihat ke arah Ruby yang terbaring di sampingnya dengan mata yang masih dia tertutup, dan Aleska memperhatikan sosoknya yang mungil.
rambutnya yang coklat merah sangat tidak mirip dengan ibu yang ada di bayangan Aleska, dan juga tidak mirip dengan tuan david yang memiliki mata biru dan warna rambut coklat terang.
Aleska tampa sadar mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh Ruby.
(ruby, andai kamu memang bukan adikku)
batin aleska.
tapi itu tidak mungkin, karena aku tahu kamu dilahirkan sendiri oleh ibu.
"ya tuhan apa yang aku pikirkan" Aleska bergumam pada dirinya sendiri
mendengar kakaknya hanya mengucapkan kata kata acak Ruby membuka matanya dan melihat ke arah Aleska.
"kakak, apa yang kamu katakan?"
Aleska langsung melihat ke arah Ruby dan mata mereka berdua bertemu.
suasana hening beberapa waktu, Aleska kembali tersadar dan mengalihkan pandanganya dari Ruby.
"kakak apakah aku begitu berbeda dari mu dan ibu, sehingga kamu bahkan tidak mau melihatku?" tanya Ruby mengiba.
"benar, mungkin, jika kamu sedikit saja terlihat seperti ibu, mungkin ini tidak akan terlalu sulit untuk ku" ucap Aleska mengasihani dirinya.
mendengar ini ruby menitikkan air matanya, dia salah memahami maksud dari Aleska.
melihat mata Ruby yang terisak Aleska sadar akan kata kata yang keluar dari mulutnya.
dia tidak tahu bagaimana dia akan menjelaskan ini kepada Ruby.
entah apa yang ada di pikirannya hingga dia
bisa mengeluarkan kata kata itu dari mulut nya.