
"Ruby bukan itu maksud ku"
Aleska bingung mau menjelaskan seperti apa, sementara ruby telah menangis dan membalikan badannya membelakangi Aleska.
melihat Ruby yang tiba tida bersikap begitu dingin kepadanya, Aleska langsung memeluk tubuh Ruby dari belakang untuk menenangkan nya, untuk saat ini hanya cara ini yang terfikir oleh Aleska.
tangannya melingkar di pinggang ramping Ruby dan Aleska berbisik ke arah telinganya.
"maksud ku, kamu jauh lebih cantik dari ibu, dan mata mu juga jauh lebih menawan dari pada milik kami" bisik Aleska di telinga gadis itu pelan.
mendengar kata ini keluar dari mulut Aleska, Ruby merasa tidak percaya, karena Aleska sangat sulit untuk mengeluarkan kalimat pujian.
bahkan selama mereka hidup bersama, Aleska sama sekali tidak pernah memuji Ruby apa pun yang di lakukan nya, dia hanya mengatakan, tidak buruk, cukup enak, dan lain lain.
mendengar Aleska berbicara seperti itu Ruby langsung membalikan badannya menghadap Aleska untuk melihat wajah Aleska dan menyaksikan secara langsung saat aleska mengatakan jika dia terlibat cantik.
tapi malah muncul masalah lain. saat Ruby membalikkan badannya, jarak antara wajah Aleska dan dirinya sangat dekat, hinga mereka bisa merasakan hembusan nafas masing masing.
siapa pun yang melihat keadaan mereka saat ini akan langsung salah memahami situasi, dimana Ruby berada dalam pelukan alyeska di atas ranjang dan jarak antara wajah mereka berdua sangat dekat.
"kakak benarkah aku cantik" tanyanya lagi tampa dengan suara berbisik.
"ya, tentu saja" Aleska menjawab pertanyaan dari ruby sambil sedikit menggeser tubuhnya ke belakang
sementara Ruby menghapus seluruh air mata yang membasahi pipinya dan tidak lagi merasa sedih.
"aku akan tidur, kakak kembali saja untuk belajar"
"hmm?"
Aleska ingin kembali mendengar kalimat Ruby yang ingin mengusirnya, barusan dia memohon untuk menemaninya tidur tapi setelah itu dia kembali mengusirnya.
( hati perempuan memang tidak bisa di tebak)
aleska berbicara pada dirinya sendiri sambil berdiri dari tempat tidur.
"baik lah, segera tidur, aku akan kembali ke ruang belajar"
"baik, "
senyum indah terukir di bibir merah merona nya melihat ke arah Aleska dan menarik selimutnya hingga leher dan kembali tidur.
sebelum keluar Aleska terus memperhatikan tingkah Ruby, setelah beberapa saat
Ruby menutup matanya Aleska baru membalikan badan dan keluar dari kamar ruyby, ah bukan itu adalah kamarnya sendiri.
Aleska kembali berjalan pelan ke ruang belajarnya, dan duduk berlahan di kursi yang biasanya dia gunakan untuk belajar dengan nyaman, tapi kenapa sekarang rasanya sangat mengganjal, bagaimanapun dia memperbaiki posisinya duduk nya, itu tetap terasa tidak nyaman.
"ah sial, sebenarnya aku kenapa?"
Aleska dengan kesal segera berdiri dan keluar dari ruang tempat dia paling banyak menghabiskan hari sampai lupa waktu.
"tapi kenapa ruangan ini sekarang rasanya malah benar benar pengap"
braaak....
suara pintu yang di hempaskan oleh Aleska saat ingin keluar dari ruangan itu untuk mencari udara segar.
Aleska perlahan turun dari lantai dua, dan keluar dari mension, dia berdiri di samping taman bunga liar yang di rawat sepenuh hati oleh ruby.
aleska terus berjalan jalan untuk menenangkan diri hingga tampa sadar dia sudah sampai ke tepi lapangan tempat dia biasa melakukan lari pagi.
bruuuukkkk....
tiba tiba seseorang melompat dari salah satu pohon di tepi taman mengagetkan Aleska.
"oh tuhan, Hugo kau mengagetkan ku" sedikit kesal
"apakah tuan lagi patah hati hingga tidak menyadari keberadaan ku.?"
saat Aleska keluar dari mension sebenarnya Hugo telah melihatnya pada saat itu.
*flashback Hugo
"(kenapa tuan keluar dari mension tengah malam begini?) Hugo berbicara pada dirinya sendiri di atas pohon melihat ke arah Aleska yang berjalan seperti orang bodoh.
dan dia terus memperhatikan gerak gerik Aleska yang seperti orang yang di tinggalkan oleh pacar mereka.
karena itu dia memutuskan untuk turun dari persembunyiannya di atas pohon dan menghampiri Aleska.
*flashback Hugo selesai.
"berhentilah sok tahu,"
"tuan, katanya jika seseorang melamun berarti dia sedang patah hati"
"apakah kamu ingin olahraga malam?" ancam Aleska.
"haha maaf tuan, saya akan kembali berkeliling untuk memastikan kembali keamanan sekitar mension."
Hugo segera pergi dari sana karena dia tidak ingin di hukum oleh Aleska hanya karena mengganggunya saat suasana hati tuanya sedang tidak enak.
*kisah pertemuan Aleska dan Hugo
beberapa tahun yang lalu saat Aleska berumur sekitar 9 tahun, dia keluar dari mension dan bertarung dengan beberapa pengawal nyonya amanda.
saat aleska mulai lelah bertarung tiba tiba seorang anak laki laki yang juga seusia dengan aleska datang dan membantunya bertarung melawan orang suruhan nyonya Amanda dan menghabisi mereka semua yang mengejar mereka.
*****
sebenarnya Aleska merasa sangat berterimakasih karena telah membantunya mengalahkan orang suruhan nyonya amanda.
dan secara pribadi Aleska mengagumi cara bertarung anak yang baru saja di temui nya itu, tapi tetap saja dia memperlihatkan sikapnya yang dingin dengan sikap acuh pergi dari sana meninggalkan anak itu di tengah orang yang terkapar di tanah yang telah mereka berdua kalahkan tampa mengucapkan satu patah kata pun.
anak laki laki itu hanya diam terpaku menyaksikan kepergian Aleska setelah bertarung membantunya.
setiap hari semenjak pertarungan itu, saat Aleska ingin pergi keluar dari mension, maka anak laki laki itu akan selalu ada di pinggir hutan untuk menunggunya.
dan hari ini tepat hari ketujuh anak itu selalu menunggu Aleska, seperti biasa saat Aleska melihatnya maka Aleska hanya akan melewatinya tampa melihat kearah anak laki laki itu.
tapi hari ini saat Aleska melewati anak itu beberapa langkah, dia berinisiatif terlebih dahulu memanggilnya. ini adalah pertama kali nya dia berbicara terlebih dahulu kepada Aleska.
"hei tunggu"
mendengar bocah itu berbicara kepadanya Aleska menghentikan langkahnya dan berbalik menatap anak laki laki yang bersandar santai di salah satu pohon pinus.
selama seminggu ini Aleska hanya diam dan menunggu apa yang akan dilakukan anak laki laki itu dengan mengikutinya setiap hari.
awalnya aleska mencurigainya, mungkin saja dia berbahaya untuknya dan ruby tapi setelah melihat anak laki laki itu tidak sembunyi sembunyi dan dengan berani mengikutinya secara langsung dan terang terangan mengikutinya setiap hari.
akhirnya aleska hanya membiarkan nya saja karena menganggap anak ini tidak berbahaya dan menunggu apa yang di inginkan nya.
"apa yang kau ingin kan?" Aleska menghentikan langkahnya.
"aku hanya ingin melihat mu secara langsung dengan mata ku sendiri lalu menentukan apakah kau pantas untuk menjadi tuan ku?"