
"milikku" Ucapnya pelan, sambil membelai wajah gadis itu.
tapi entah kenapa, bagian lain dari miliknya malah kembali bereaksi, merasakan gundukan kenyal yang menempel di tubuhnya.
dia memperhatikan penampilan Ruby secara keselurahan, benar benar keterlaluan gadis itu ternyata tidak memikirkannya sedikit pun dia dengan santai mengenakan gaun tipis seperti ini.
"besok sepertinya aku harus membelikan pakaian dan gaun tidur baru yang layak untuknya" batin Aleska sambil memaksakan matanya terlelap.
*keesokan harinya
Ruby bangun dari tempat tidurnya, dia merasakan tempat kosong yang telah lama dingin di sebelahnya.
"apa semalam hanya mimpi?" ucapnya pada dirinya sendiri, karena tidak ada yang berubah dengan harinya di pagi hari.
bagun tidur, saat membuka mata maka dia tidak akan lagi melihat sosok Aleska di sampingnya, kasurnya dingin, seolah olah dia tidak pernah berada di sana.
Ruby menyingkirkan selimut yang menutupi kakinya, dan melangkah turun menuju kamar mandi.
karena dia tidak akan kemana mana jadi dia memutuskan untuk mandi di kamar Aleska saja dan mengenakan baju tidur dengan lengan panjang yang dia tinggal sebelumnya di kamar Aleska.
setelah selesai Ruby berjalan menuruni tangga dan menuju dapur, karena merasakan perutnya telah lapar.
tapi di dapur Aleska telah sibuk berkutat dengan alat masak, dengan menggulung lengan kemeja putihnya sampai siku, dia terlihat lihai mengolah semua bahan makanan.
merasakan langkah kaki seseorang Aleska melihat ke belakang.
"apakah kamu sudah bangun?" ucapnya kembali sibuk menggulung telur dadar yang dia masak.
"apa yang kakak lakukan?" tanya Ruby dengan wajah heran.
"tentu saja membuat kan mu sarapan" jawabnya singkat.
"hmmm" ucap Ruby sambil berjalan ke arah kulkas dan menuangkan air sejuk pada gelas yang telah tersedia di sana.
"Ruby membawa gelasnya ke meja makan dan duduk di sana, sambil menunggu Aleska selesai"
barusan dia mengeluh karena hal yang dia alamai semalam cuma mimpi, dengan tidak adanya perubahan dari sikap Aleska.
"tapi sekarang, apa ini, mungkinkah..." belum sempat Ruby menyelesaikan apa yang dia pikirkan Aleska telah berdiri di sampingnya sambil meletakkan beberapa piring berisi makanan yang telah dia masak.
"ayo makan" ucap Aleska sambil mengambil posisi duduk di hadapan Ruby.
Ruby melihat hidangan sarapan mereka yang telah di buat oleh Aleska.
di sana terletak sepiring telur dadar gulung, piring lainnya ada ayam bakar utuh dengan ukuran sedang. "bukankah ini terlalu berat untuk sarapan" batin Ruby.
"kenapa hanya diam?" tanya Aleska memperhatikan raut wajah Ruby.
"hmmm tidak" ucap Ruby sambil mengambil telur dan meletakkan nya di atas piringnya.
"kenapa hanya makan itu?" tanya Aleska lagi.
"hah?" ucap Ruby spontan dengan wajah menggemaskan.
"bukankah kamu suka ayam bakar saat sarapan," ucap Aleska sambil mengingat jika dulu Ruby selalu menghabiskan ayam bakar yang dia tinggalkan di atas meja makan saat pagi hari.
"hah?" diam beberapa saat.
"yaa" ucapnya lagi mengangguk kecil sambil menyuap telur gulung di piringnya.
"hmmm????? ucapnya berfikir mengenali rasa telur dadar yang sudah tidak asing lagi di lidahnya.
"ada apa?" menghentikan suapannya melihat ke arah Ruby.
"apakah selama ini kakak yang memasak telur dadar yang selalu tersedia di meja makan?" tanyanya.
"siapa lagi?" ucap Aleska kembali menyuap makanannya.
"aku pikir itu pelayan" ucap Ruby sambil memasukkan lagi sepotong telur dadar kedalam mulutnya.
*hallo readers😌, selamat malam.
dukungan like dan komen dari kalian bisa memberikan kehidupan baru bagi author.
jadi selalu dukung author dengan like, vote dan kasi hadiah agar meningkat kan rating novel dan author bisa mendapat penghasilan dari itu.
juga membuat Author makin semangat berkarya dan meningkatkan kan kualitas karya lebih baik lagi, dan jika kalian ada saran langsung komen di bawah👇ya atau bisa juga dengan Dm ig author @cacacondadevita jangan lupa follow, nanti pasti author follback.
terimakasih🥰
salam hangat dari Author 🤗