Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
062 Kakak Aku Takut



Sama hal nya Ruby dan Sintia, mereka berdua juga nampak sangat serius dalam belajar dan mengikuti instruksi dari gurunya, karena mereka juga memiliki mimpi mereka sendiri.


Tapi sebenarnya Ruby tidak perlu khawatir karena nilainya setiap tahun selalu saja bagus, bahkan sangat bagus untuk bisa masuk ke universitas favoritnya.


*****


Begitupun dengan Sintia, walaupun dia tidak sepintar Ruby tapi dibandingkan dengan murid lainya yang hanya mengandalkan uang dan keluarga mereka tentu saja prestasi Sintia juga lebih baik di bandingkan mereka.


Ruby dari kecil sudah menyukai dunia fashion, jadi saat kuliah nanti dia sudah bertekad untuk mengambil jurusan desain di universitas kebanggaannya.


*


Tidak lama kemudian, guru meninggalkan kelas karena berakhirnya jam pelajaran. Dan terlihat para murid sudah bersiap siap mengemasi barang mereka masing masing dan pulang ke rumah mereka masing masing.


Ruby dan sahabatnya Sintia pun, juga begitu, mereka berjalan beriringan keluar dari kelas.


"Ruby, karena saat istirahat tadi siang kita tidak makan jadinya sekarang perutku keroncongan." Rengek Sintia bicara kepada Ruby sambil mengusap usap perutnya yang rata.


Tadi siang saat jam istirahat mereka berdua pergi ke pustaka untuk mencari buku keperluan belajar mereka jadinya mereka berdua tidak sempat makan.


"Sintia benar katamu, sekarang aku juga kelaparan." Timpal Ruby ikut lemas.


"Bagaimana kalau sebelum pulang kita makan di kantin dulu?" Ajak Sintia.


"Sintia apa kamu jadi bodoh karena terlalu lapar, kantin kan sekarang pasti sudah tutup" Ucap Ruby.


"Benar juga, kalau begitu kita makan di luar saja" ajaknya


"Ruby, Sintia tunggu aku" teriak Rice saat melihat mereka berdua terus berjalan menuju gerbang sekolah.


Sontak Ruby dan Sintia melihat ke arah datang nya suara, mereka berdua melihat Rice berlari lari kecil menuju kearah mereka.


Rice adalah tipe orang yang selalu ceria, dia juga sangat tampan dan begitu populer di sekolah mereka, tapi sekarang pemuda itu seperti tidak memperdulikan apa pun dan berlari ke arahnya.


"Ruby, apa kamu baik baik saja?" Tampak nya Rice berlari ke arah mereka karena menghawatirkan keadaan Ruby.


"Ya aku baik baik saja," Jawab Ruby


"Tuan muda Rice, kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu pergi mengajak sahabatku ke pesta keluarganya sendiri?" Sintia mulai bertanya dengan ketus kepada Rice karena kesal tidak memberitahu mereka terlebih dahulu.


"Hmmm, soal itu, maaf kan aku, aku juga tidak tahu kalau pesta yang di maksud orang tuaku adalah pesta keluargamu." Rice tampak merasa bersalah saat menjelaskan kepada mereka berdua, karena gara gara dia Ruby mengalami situasi yang sulit. Untung saja saat itu kakaknya Aleska datang dan bisa mengendalikan situasi di pesta pada saat itu.


"Sintia sudah lah, katanya Rice juga tidak mengetahuinya, tidak usah di permasalahkan lagi, lagian aku juga tidak apa apa."


"Kalau begitu sebagai ucapan maaf ku, bagaimana kalau aku mengajak kalian untuk makan siang, kebetulan aku juga belum makan." Ajaknya dengan wajah penuh harap.


Mendengar ini Ruby dan Sintia saling pandang, sepertinya ini hari keberuntungan mereka.


Naru saja ingin keluar untuk makan, sekarang tiba tiba saja datang seorang dewa yang menyelamatkan mereka berdua dari bencana kelaparan.


"Hey ayo lah, kenapa kalian berdua malah saling tatap seperti itu?" Ucap Rice


Mereka berdua seperti sama sama berfikir apakah tidak apa apa jika mereka kembali pergi makan siang bersama Rice putra dari keluarga Carllyss, ah sudah lah, kenapa terlalu berfikir panjang, lagian semua orang juga sudah sering menggosipkan mereka.


Mendengar ini Rice seperti teringat sesuatu dan menelan ludahnya.


"Hmm katanya dia akan datang menjemput ku saat aku telfon." jawab gadis itu polos.


"Kalau begitu ini adalah kesempatan langka, ayo kita pergi makan dulu, aku sudah sangat lapar setelah itu kita kembali ke sekolah dan menelfon kakakmu" Saran Sintia.


"Wah Sintia ternyata kamu cukup cerdas" Rice memuji rencana Sintia.


"Tentu saja, kamu kira hanya anak orang kaya sepertimu saja yang bisa cerdas" jawabnya sewot.


"Hei sudah lah, ayo kita pergi makan sekarang" ajak Ruby sudah tidak sabar.


Rice dan Sintia segera mengakhiri perdebatan mereka dan pergi mencari tempat makan terdekat dari sekolah mereka.


Dan beruntungnya di sekitar sana ada beberapa restoran yang cukup enak, jadi mereka bertiga memutuskan untuk makan di sana dan langsung saja mereka segera berjalan beriringan menuju ke restoran itu.


Saat sampai di sana, mereka sengaja duduk di meja paling ujung, dan dekat dengan jendela,


dan mereka bertiga langsung saja memesan beberapa makanan dan minuman yang tertera pada buku menu restoran tersebut dengan penuh semangat, karena sebenarnya mereka bertiga telah sama sama merasa lapar.


Tidak perlu menunggu lama makanan yang mereka pesan segera datang, dan dengan tidak banyak bicara mereka langsung mulai menyantap hidangan lezat di hadapan mereka bertiga tampa basa basi.


Tidak lama setelah itu, satu persatu persatu dari mereka sudah menghabiskan makanan di atas piringnya masing masing. Hingga mereka bertiga benar benar telah selesai barulah terdengar suara dari mulut mereka.


"Apa kalian berdua sudah kenyang, kalau belum aku akan memesankan makanan lain."


Rice menawarkan mereka berdua untuk memesan kembali beberapa hidangan jika mereka berdua belum kenyang.


"Rice kamu jangan becanda, kami berdua bukan kerbau, tentu saja kami sudah kenyang" Ruby langsung menjawab dengan semangatnya yang telah kembali.


"Ruby, sekarang aku baru bisa mengenali mu, ternya lapar memang bisa merubah sifat seseorang" Rice berbicara kepada Ruby sambil tersenyum.


Karena dari tadi Rice perhatikan Ruby hanya diam saja dan tidak banyak bicara seperti biasanya, saat mereka berjalan menuju ke restoran. Dia seperti tidak ada minat untuk melakukan apapun. Tapi sekarang Ruby telah kembali bersemangat seperti sebelumnya.


"Memangnya aku kenapa?" Tanya Ruby dengan sewot, karena dia sebenarnya adalah gadis yang sangat ceria kalau berada di sekitar orang terdekatnya dan bila merasa nyaman dengan orang itu, seperti sekarang ini saat bersama sahabatnya Sintia dan sahabat barunya Rice.


"Apakah kamu tidak sadar dari tadi menuju ke sini kamu hanya diam, benarkan Sintia?"


"Hmm sepertinya begitu" Sintia hanya mengangguk angguk karena masih sibuk menghabiskan segelas minuman jus miliknya.


"Hahaha benar kata mu mungkin itu karena lapar jadi aku tidak memiliki energi untuk bicara"


"Hey, ayo kita segera kembali ke sekolah, bukankah katamu kakakmu akan menjemput sebentar lagi" ucap Sintia.


"Oh iya, benar, ayo kita pergi" ucap Ruby.


"Hey tunggu dulu, aku juga ingin menelfon kakak ku minta di jemput juga" kata Rice sambil mengeluarkan handphone dari dalam sakunya.


"Hahaha baik lah, silahkan ditelfon dulu tuan muda Rice"


Sintia tertawa mendengar perkataan Rice yang juga ingin di jemput oleh kakaknya.