Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
045 persiapan malam pesta 1



selama di perjalanan Ruby hanya diam dan duduk dengan tenang sambil melihat pemandangan ke luar jendela mobil dan Aleska juga hanya fokus melihat ke depan mengemudikan mobilnya.


"kakak?" panggil ruby memecahkan keheningan di dalam mobil.


"hmm?...." respon Aleska tanpa melihat ke arah Ruby.


"hmm ..... " Ruby terlihat sedikit ragu bertanya kepada kakaknya.


"ada apa?" tanya nya lagi karena melihat keraguan di wajah gadis itu.


*****


"tidak jadi, kakak fokus saja mengemudi " ucapnya membuat orang penasaran.


mendengarnya Aleska tidak bertanya lagi dan tetap mengemudi dengan tenang.


tapi Ruby sibuk dengan pikiran nya sendiri sambil menatap kosong ke luar jendela.


(kenapa tadi malam kakak tidak kembali ke kamar, apakah semalam dia tertidur di ruang belajar? hmmmm) batin Ruby.


tampa terasa mobil mereka telah berhenti tepat di depan sekolah Ruby.


"apakah kamu tidak akan turun?" tanya Aleska.


"hah?..." Ruby tersadar dari lamunannya karena suara Aleska dan dia langsung melihat ke sekitar.


"ah iya, Ruby melepas sabuk pengamannya dan siap turun dari dalam mobil aleyska."


"Ruby?..." tanya nya menghentikan langkah gadis itu.


"ya, ada apa kak?" tanya gadis itu melihat lagi ke belakang ke arah Aleska yang masih duduk di kursi kemudi.


"nanti pulang sekolah kamu naik taksi aja, sopirnya teman kakak, seperti nya hari ini kakak akan pulang telat." ucap Aleska


"hmm baiklah, kakak tidak perlu setiap hari capek capek antar jemput Ruby, Ruby bisa pulang sendiri" jawab gadis itu tampa keberatan.


"untuk hari ini saja, kamu pulang duluan nanti kalau ada apa apa hubungi aku" katanya lagi.


"hmm....." Ruby mengangguk angguk kecil kepada Aleska tanda bahwa dia setuju dan keluar dari mobil Aleska.


"hey Ruby.....?" teriak sahabat ruby sintia.


"hey kamu udah tau, hari ini adalah penyerahan perusahaan Adolf Hitler Corp (AHC) kepada kakak mu Devano." ucap Sintia.


"aku dengar, katanya mereka mengadakan acara yang sangat besar dan meriah, anak anak di sekolah sudah sibuk ingin di ajak oleh para pewaris perusahaan perusahaan besar itu untuk di jadikan sebagai pasangan ke pesta itu." sambung Sintia


"begitu kah" tanya Ruby enteng tampa minat.


"Ruby, apakah kamu tidak akan datang ke pesta kakak mu?" tanya nya lagi.


"sin, kamu lupa dia adalah kakak tiri ku, dan aku tidak pernah bertemu secara langsung dengan nya." jawab Ruby memalas.


"ya aku tau, maksud ku apa kak Aleska tidak mengajak mu untuk datang?" tanya sintia lagi tampa mau menyerah.


"sintia itu malah lebih tidak mungkin lagi, mau di pikirkan berkali kali pun kak Aleska tetap tidak akan pernah mengajak ku" ucap Ruby.


"hmm benar juga," jawab Sintia membetulkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


wajah Sintia jadi cemberut, padahal awalnya Sintia sangat berharap jika sahabat satu satunya itu bisa datang ke pesta.


dan menceritakan kepadanya secara langsung nanti bagaimana meriahnya pesta pesta yang di adakan oleh kolong berat dan mengambil beberapa foto untuk di tunjukan kepadanya nanti.


karena sintia adalah gadis yang memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana orang kaya melakukan pesta, karena memang dia berasal dari keluarga yang sederhana, dan sekolah di sini karena mendapat biaya siswa.


"udah lah sin, ayo kita masuk ke kelas sekarang" ajak Ruby.


"ayo" kat gadis itu menurut.


mereka berdua berjalan beriringan bersama murid lainya menuju kelas mereka masing masing.


"ruby....?" panggil seseorang


Ruby menghentikan langkahnya mendengar seseorang dari belakang memanggil namanya.


"Rice, anak itu lagi, dia ngapain sih mendekati kamu melulu" celoteh sintia tidak terima melihat sahabatnya yang masih sangat polos di ganggu oleh Rice yang merupakan anak orang kaya dan juga yang pasti adalah lawan bisnis keluarga Ruby. bisa saja suatu hari dia berani menyakiti Ruby. pikir gadis itu menghawatirkan sahabatnya.


""udah lah sin, Rice adalah anak yang baik, gak usah mikir yang macam macam" bantah Ruby.


*****


Ruby seperti tahu apa yang sedang di pikirkan oleh sahabatnya itu.


"ada apa?"


"aku akan katakan nanti siang aja di kantin, jangan lupa" Rice kembali berlari meninggalkan Ruby dan sahabatnya sintia menuju ke kelasnya.


"Ruby ayo, bisa bisa nanti kita yang telat"


Ruby dan Sintia segera memasuki kelas mereka.


setelah beberapa jam guru menjelaskan akhirnya jam istirahat datang juga.


"Ruby aku sudah lapar ayo kita pergi untuk makan siang" ajak Sintia


"tentu saja, karena aku juga ada janji di kantin siang ini, ayo pergi." ucap gadis itu.


"kalau begitu ayo kita segera pergi"


Ruby dan sintyia merapikan kembali buku mereka yang berserakan dan pergi meninggalkan kelas menuju kantin untuk makan siang .


"Hay Ruby.... aku di sebelah sini"


Ruby melihat ke arah suara, ternyata Rice telah menunggunya.


"Ruby, jangan bilang orang yang janjian dengan mu di kantin adalah Rice" tanya Sintia.


"memangnya kenapa? katanya dia ingin mengatakan sesuatu"


"jadi itu yang di katakan nya saat tadi pagi bertemu dengan mu di depan kelas kita?"


"iya, sepertinya cukup penting, ayo kita ke sana"


Ruby segera berjalan ke arah Rice, Sintia mau tidak mau hanya mengikuti langkah Ruby dari belakang, sebenarnya dia kurang suka jika Ruby dekat dengan rice maupun keluarganya yang lain seperti Carllo kakak dari rice.


karena Sintia sebenarnya menghawatirkan keselamatan Ruby', dan dia tau selama ini ruby selalu di perlakukan dengan tidak adil oleh ibu tiri dan saudara tirinya jadi dia takut jika ibu nya akan menyalahkan Ruby karena berteman dengan musuh mereka.


"hay, silahkan duduk" ucap Rice.


"kenapa rasanya hari ini kamu jadi baik banget?" ucap Ruby sambil menatap wajah Rice.


"karena aku memerlukan bantuan mu" ucap Rice tampa basa basi.


"Rice jangan meminta Ruby melakukan hal yang aneh aneh" ucap Rice.


"hei, dengarkan aku dulu" ucap Rice.


"iya, Sintia kita dengar kan dulu apa yang akan di katakan oleh Rice" ucap Ruby.


"baik lah" ucap Sintia menyerah.


"Ruby, kamu tau kan, aku tidak bisa menolak permintaan papa dan kak Carllo?" ucap Rice membuka pembicaraan


"ya jadi kenapa?, apa mereka meminta mu melakukan sesuatu" tanya Ruby.


"iya, tepat sekali, kamu mau ya membantu ku? " Rice memasang mata pupil eyes andalannya.


"ini tidak sulit, kamu hanya perlu menemaniku datang ke pesta" sambungnya lagi.


"pesta?" dengan wajah bingung


"benar, ayah dan kak Carllo memaksa ku datang, katanya dia ingin memperkenalkan kedua putra nya kepada semua kolega bisnisnya." jelas Rice.


*sehari sebelum ini


"ayah, kenapa aku juga harus ikut ikutan datang ke pesta itu, aku kan juga masih punya urusan lainya, ayah kan bisa cuma membawa kakak Carllo saja"


"apa kamu tidak mengerti? pesta kali ini bukan hanya Pesta biasa, mereka berniat memperlihatkan kepada semua orang jika dia memiliki beberapa putra yang bisa mereka andalkan di masa depan, tentu saja aku juga tidak boleh kalah dari mereka, pokok nya kamu harus datang"


"tapi yah" niat Rice ingin membantah.


"tidak ada tapi tapian, kamu harus datang, semua tamu yang akan hadir adalah para pengusaha dari seluruh dunia, sedikit banyaknya ini juga di pengaruhi oleh kabar jika pemimpin perusahaan keamanan melegenda Unity Resource Group yang misterius itu juga akan hadir pada pesta itu.


karena itu semua pengusaha ingin hadir dan ingin membangun relasi secara langsung dengan pemimpinya bukan hanya seperti menghadiri pesta biasa ini adalah kesempatan untuk bisa menjalin bisnis dan kekuatan." jelas tuan Carl kepada putra nya itu.


"jadi kenapa kita semua harus hadir, kan perusahaan kita sudah kuat, kita juga memiliki banyak pengawal yang hebat"


"Rice apa kamu masih tidak mengerti apa yang di katakan oleh ayah, ini bukan masalah tentang jumlah, ini adalah tentang kemampuan dan dukungan besar yang ada di belakang mereka. jika kita memiliki 100 pengawal tapi perusahaan lawan memiliki satu orang dari perusahaan keamanan Unity Resource Group maka kekuatan kita masih tidak akan sebanding dengan mereka" (Carllo mencoba memberikan pengertian kepada adiknya Rice)


"kenapa bisa begitu, apakah mereka sehebat itu dalam bertarung bisa membunuh ratusan orang sekaligus?" (Rice bertanya kepada kakaknya dengan ekspresi sedikit bingung)