
saat terdiam memperhatikan Ruby tiba-tiba eska teringat akan keberadaan Mike.
"Hugo, dimana Mike?" tanyanya baru sadar jika pemuda itu kini tidak lagi terlihat.
"oh itu, dia pergi terlebih dahulu untuk menyelesaikan berita...." ucap Hugo terhenti, karena dia merasa sedikit canggung bila mengatakannya kepada Aleska langsung di hadapan Ruby.
bagaimanapun juga dia tidak mungkin mengatakan jika Mike pergi membereskan berita tentang ciuman mereka.
melihat reaksi Hugo seperti itu, Aleska langsung mengeri, dia tiba-tiba merasa tenggorokan nya kering.
eheg ehemmm....suaranya membersihkan tenggorokan nya, tidak berani melihat ke arah Ruby.
sementara Mike telah sampai di markas markas Meraka, tepatnya di ruangan pusat teknologi, dimana di sana terdapat puluhan komputer, dan alat alat teknologi canggih lainnya.
Mike yang memiliki keahlian untuk meretas atau sering di sebut sebagai hacker memiliki ruangan khusus untuknya melakukan pekerjaannya selama ini.
terdapat tayangan rekaman cctv di setiap layar komputer, dimana masing-masing komputer menayangkan daerah manapun yang dia inginkan.
"aku mulai dari mana dulu?" ucapnya bicara sendiri, karena tidak ada seorang pun berada di sana.
lebih baik, aku menghentikan siaran langsung dan menghapus postingan-postingan dari semua akun media sosial orang yang hadir hari ini di acara itu terlebih dahulu.
"nanti soal berita yang akan di terbitkan besok aku masih memiliki banyak waktu sebelum subuh" ucapnya sambil melirik jam yang ada di tangannya.
(sepertinya Mike berniat akan bekerja sampai subuh lagi)😅
"tapi postingan bebas dari para heater akan sangat cepat menyebar jika tidak di atasi terlebih dahulu" ucap Mike sambil melemaskan jari jari tangannya sebelum mulai menari di atas keyboard kesayangannya.
jarum jam yang tergantung di dinding terus bergerak, tapa sadar hari yang tadi cerah kini telah berubah gelap.
Mike menghentikan kegiatannya dan memeganginya perutnya yang terasa lapar.
"ah, ternya sudah malam, pantas saja aku sudah sangat lapar" ucapnya sambil melihat ke luar jendela.
"tapi ini lebih cepat dari perkiraan ku" ucap mike melihat ke layar komputernya dengan puas.
*di tempat lain.
semua siswa telah berkumpul di kafe-kafe tongkrongan mereka untuk membicarakan Ruby, hingga ada yang datang ke sekolahnya untuk menuntut sekolah membatalkan kelulusan ruby serta mencabut semua prestasinya.
semua guru pun di sibukkan oleh tindakan para muridnya yang demo di depan sekolah.
"pak, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang guru perempuan kepada kepala sekolah yang duduk di kursi kebesarannya sambil memegangi kepala"
belum sempat dia menjawab pertanyaan guru perempuan itu, handphonenya yang berada di atas meja berdering.
"hallo" ucapnya mengangkat panggilan itu.
"hallo, selamat malam pak Mario, saya kepala dewan yayasan sekolah ini, kami mendengar jika ada beberapa orang siswa yang membuat keributan di depan sekolah, besok pagi saya tidak ingin mendengar berita negatif apapun tentang sekolah ini, kamu pikirkan solusi terbaik untuk menenangkan mereka, dan suruh mereka semua bubar secepatnya" ucap orang itu dengan tegas di balik telfon yang di terima oleh pak Mario.
"baik pak, saya akan segera mengumumkan pembatalan kelulusan dan mencabut semua prestasi gadis yang bermasalah itu pak" ucap pak Mario.
tentu saja, satu satunya cara untuk menenangkan semua siswa yang sedang demo itu dengan cara yang baru saja dia sebutkan kepada kepala yayasan itu. (pikir pak Mario)
"Mario, aku peringatkan padamu, jangan pernah berani berani berurusan dengan gadis bernama Ruby itu, jadi kukatakan padamu, pikirkan cara lain untuk menenangkan para siswa itu sebelum besok pagi, apa kamu mengerti?" tanyanya lagi, setelah memberikan peringatan kepada Mario.
"tapi pak, itu tidak mungkin, walaupun gadis itu adalah anak sekaligus adik dari pengusaha kaya, tetap saja dia telah mencemarkan nama baik sekolah, walau kita tidak melakukan apapun, gadis itu tetap akan hancur, karena berita tentangnya telah tersebar luas, kita tidak bisa lagi melindunginya tuan." ucap Mario masih belum bisa menerima apa yang di katakan oleh kepala yayasan itu.
"bukan itu masalahnya, apapun yang akan terjadi kedepannya terhadap gadis itu, selama kita tidak ikut campur maka kita dapat menghindari masalah yang lebih besar, tapi jika kamu bersikeras ingin melanggar, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan karirmu" ucap petinggi itu dengan serius di balik telepon.
"tapi sekolah kita tetap akan hancur karena membiarkan masalah ini begitu saja, para siswa, wali murid, heater tidak akan berhenti menyerang sekolah kita pak" ucapnya lagi menganalisa dampak masalah ini dengan serius.
"semuanya ada di tangan mu, pikirkan baik baik tentang karir yang selama ini telah kamu capai, aku tidak bisa bertindak banyak, karena orang yang lebih besar dibelakang ku" ucap ketua yayasan itu tampa daya, dan memutuskan panggilan telefon.
(sepertinya kepala sekolah pak Mario dan ketua yayasan itu adalah orang baik) pikir author ☺️.
pak Mario meletakkan kembali handphone nya di atas meja dengan gusar.
dia terus berusaha memikirkan jalan keluar untuk masalah ini.
"pak, kita harus melakukan sesuatu sekarang" ulang guru perempuan itu yang masih menunggu Jawaban dari pak Mario.
tapi Mario yang duduk menunduk sambil memegangi kepalanya itu hanya diam.
paaarrrrrr.....
bunyi suara kaca jendela pecah akibat lembaran batu dari siswa siswi itu yang sudah mulai tidak sabaran.
para satpam sekolah pun sudah lelah menahan mereka yang ingin menerobos masuk kedalam ruangan kepala sekolah.
seketika pak Mario berdiri tegak, begitupun dengan guru perempuan itu, dia langsung berbalik melihat kaca yang sudah berserakan dilantai.
"ayo kita keluar, kamu segera buat surat resmi pembatalan kelulusan Ruby Davidson" ucap pak mario sambil berjalan ke arah pintu.
"baik pak" ucap staf administrasi di sekolah itu patuh.
karena dia juga tidak sempat pulang hari ini setelah kekacauan yang di tinggalkan oleh Ruby.
Mario melanjutkan langkahnya lagi dan ingin meraih gagang pintu.
lagi lagi gerakannya di hentikan oleh bunyi dering handphonenya.
"hallo" ucapnya dengan sedikit nada kesal, Karena dia meras diganggu saat keadaan kritis.
"hallo, apakah kamu Mario, kepala sekolah dari Ruby Davidson?" tanya seseorang tidak sabaran di balik telepon itu.
"iya, saya adalah Mario, " ucapnya mengiyakan.
apa lagi ini, lagi lagi orang menelponnya karena masalah Ruby. tapi kali ini, apapun yang di katakan orang di balik telepon ini, Mario telah bertekad tidak akan menutup mata dan membiarkan ketidak adilan meraja rela di sekolahnya, masalah uang akan di pikirannya lagi setelah masalah ini selesai" begitulah pemikiran Mario saat ini.
"bagus, saya akan langsung bicara ke intinya," ucap orang itu terdengar sedikit terdesak dan tidak sabaran.
@cacacondadevita
hallo readers😌, selamat malam.
maaf ya jika author masih update satu episode perharinya, jika kalian setuju author update 2 episode atau lebih setiap harinya jangan lupa komen di bawah🤗. juga sertakan pendapat kalian tentang novel ini ya.
dukungan like dan komen dari kalian bisa memberikan kehidupan baru bagi author.
jadi selalu dukung author dengan like, vote dan kasi hadiah agar meningkat kan rating novel dan author bisa mendapat penghasilan dari itu.
juga membuat author makin semangat berkarya dan meningkatkan kan kualitas karya lebih baik lagi, jika kalian ada saran langsung komen di bawah👇ya atau bisa juga dengan Dm ig author @cacacondadevita jangan lupa follow, nanti pasti author follback.
terimakasih🥰
salam hangat dari author 🤗