Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
035 persyaratan dari nenek



"jadi semenjak itu Aleska dan adiknya hidup terpisah di mension sisi timur itu sendiri? apakah mama tidak pernah datang ke sana?" masih ingin tahu kelanjutannya.


"hmmm itu tidak usah kita bahas, mama juga malas datang ke sana."


"baik lah kalau begitu"


Devano tidak ingin memaksa mamanya untuk menceritakan apa yang tidak ingin dia katakan, mungkin dia memiliki alasan lain untuk tidak menceritakannya sekarang.


"tapi ma, apakah selama ini Aleska memang tidak pernah mendapat kan pendidikan? aku menanyakan ini karena dia tidak pernah terdaftar di sekolah manapun, kecuali satu tahun terakhir. apakah mama mengetahui sesuatu?"


"kenapa kamu menanyakan ini?, dia dan mamanya telah lama menginginkan harta keluarga kita, sudah seharusnya kita melindungi apa yang menjadi milik kita"


mendengar jawaban mamanya Devano bisa menebak masalah ini pasti ada hubungannya dengan mamanya, tapi kenapa Aleska bisa memiliki kemampuan seperti sekarang?


pasti terjadi sesuatu.


sepertinya mama juga tidak mengetahui dari mana Aleska belajar dan mendapatkan kemampuannya saat ini.


pikir devano.


"tuan, nyonya silahkan di nikmati"


pembicaraan mereka terhenti karena pelayan yang datang membawakan pesanan mereka.


"terimakasih"


"sama sama tuan"


pelayan itu kembali pergi meninggalkan mereka berdua menikmati makan malam mereka.


"Devano bagaimana dengan syarat yang di berikan oleh nenek mu? apakah kamu menyetujui nya?"


"hmm kenapa tidak, persyaratan yang di berikan nenek sangat menarik"


jawab pertanyaan ibunya dengan enteng dan sedikit tertawa.


"apakah nenek mu memberikan persyaratan yang aneh?" amanda dengan wajah yang penasaran bertanya kepada putranya yang sedang tersenyum bahagia memikirkan persyaratan yang di berikan neneknya karena nyonya Baretta ibu amanda memang sengaja tidak memberitahu putrinya Amanda tentang persyaratan yang akan di memberikannya kepada cucunya devano.


"tidak, nenek tidak memberikan persyaratan yang aneh, tapi memang cukup menarik, sepertinya dia menghawatirkan pernikahan jean, jadi dia meminta aku untuk mencarikan jean seorang gadis baik hati untuk menjadi istri jean kelak"


"benarkah?"


sekarang malah giliran amanda yang tersenyum senyum geli menatap ke arah putranya


"kenapa mama tertawa? apakah itu terdengar lucu?"


"tidak, tapi sepertinya nenek mu juga memberikan permintaan yang sama kepada jean" sambil tersenyum geli.


"hah?? apakah nenek mencoba mempermainkan kami berdua?" ungkap Devano tidak terima.


"haha sepertinya selama ini nenek mu kesepian dan ingin kalian berdua segera menikah" jelas Amanda


"apakah mama becanda, aku masih sangat muda"


"hmm kenapa tidak, sebenarnya mama juga tidak keberatan dengan syarat yang di berikan oleh nenek mu."


jean awas saja kamu, ancam devano di dalam hatinya memikirkan jean merahasiakan ini darinya.


"Devano kamu tidak usah memasang wajah seperti itu, jean juga di minta oleh nenek mu untuk merahasiakan kan ini"


Amanda langsung bisa menebak apa yang di pikirkan putranya.


"ah mama,,, kenapa mama baru bilang sekarang?"


Devano kesal karena mamanya sudah mengetahui ini sejak awal tapi tidak mengatakan apapun.


"sudah lah, ayo lanjutkan makan mu!"


Amanda melirik piring Devano yang masih menyisakan setengah potongan steak yang mereka pesan sebagai menu utama makan malam kali ini dan sebotol anggur merah dengan kualitas tinggi.


"iya ma, semuanya berjalan lancar, dan tidak ada masalah,"


saat ini devano melanjutkan pendidikannya di


Freie University of Berlin


"apakah kamu menyukai belajar di Freie University Berlin?"


"hmm lumayan"


Devano menjawab pertanyaan dari mamanya sambil menyuap satu potong steak dari piringnya.


"bagus lah kalau begitu, kamu lihat sendiri kan sekarang bagaimana aleska ingin masuk ke perusahaan ayah mu, seandainya saja kamu masih kuliah di London mungkin saat ini dia telah menguasai segalanya."


"mama tidak perlu khawatir aku bisa menanganinya"


"bagus"


***


sementara di perusahaan Carllyss Group tuan Carl menerima laporan dari orang suruhannya yang menyelidiki hutan pinus di sekitar mension davidson, dengan tujuan untuk mendapatkan jejak atau barang bukti tentang hilangnya putri bungsunya.


"tuan, hutan Pinus itu tidak sesederhana kelihatanya."


"apa maksud mu?"


"saat kami berada di sekitar hutan itu, kami menemukan beberapa detektif Swasta yang juga menyelidiki hutan tersebut satu persatu dari mereka keluar dalam keadaan yang mengerikan.


beberapa tulang di tubuh mereka terlihat dipatahkan hingga remuk, dan anehnya saat kami mengikuti mereka ternyata mereka adalah orang suruhan tuan Devano sendiri." lapor Tommy yang merupakan seorang inteligen khusus yang telah di latih agar dapat beroperasi dalam segala keadaan.


"maksud mu orang orang suruhan Devano juga tidak berhasil menyelidiki hutan peliharaan mereka sendiri? dan kembali dalam keadaan terluka?" dengan cukup tercengang.


"benar tuan?"


"apakah kalian sudah tahu siapa sebenarnya yang mengendalikan hutan Pinus tersebut?"


"belum tuan, di lihat dari keahlian bertarung mereka hingga keahlian menyembunyikan diri, sepertinya mereka dilatih secara khusus untuk bertahan di suatu medan tertentu agar keberadaan mereka sama sekali tidak bisa di lacak." terang Tommy.


"hmm baik lah, kamu boleh pergi, selidiki lagi masalah ini dengan cermat, jangan sampai melewatkan satupun."


"baik tuan"


Tommy undur diri dari ruangan tuan Carl dan meninggalkannya sendiri.


( ada apa sebenarnya di hutan itu )


karena penasaran tuan Carl mengeluarkan PETA hutan pinus tersebut dari balik laci meja kerjanya. peta itu di dapatkannya beberapa tahun yang lalu saat menyelidiki dokter Felix yang menculik anak nya dan di temukan di hutan itu.


(bagaimana begitu banyak misteri di hutan yang mengelilingi mension itu, yang hanya memiliki luas keseluruhan 4 hektar, dimana setiap sisi mension memiliki luas 2 hektar di setiap masing masing sisinya)


tuan karl berbicara sendiri sambil terus menatap sebuah peta yang ada di tangannya.


*****


sementara Ruby dan kakaknya Aleska sedang berada di mension pada malam hari, Ruby merasa perutnya sedikit lapar dan ingin makan sesuatu yang segar, untuk mengganjal perutnya karena memang hari ini dia dan aleska makan malam lebih awal dari waktu biasanya, karena mereka berdua merayakan hari pertama Aleska bekerja.


"kemana sebenarnya kak Aleska pergi?,"


Ruby keluar dari kamar nya setelah selesai belajar dan berjalan ke arah kamar Aleska.


"kak....? kak...? mungkin kak Aleska sedang berada di ruang belajar"


karena berfikir aleska sedang sibuk Ruby memutuskan untuk ke dapur dan makan sendiri.


dia berjalan ke dapur untuk melihat lihat apa yang bisa di makan. Ruby membuka kulkas dan melihat beberapa makanan dan cemilan, tapi melihat ini, Ruby kurang berselera, dan membuka satu lagi pintu kulkas di samping nya.


"yahhh ini dia yang aku cari" sambil memegang satu cup lumayan besar ice cream di tangannya dengan perasaan puas.